Selasa, 16 September 2014 18:23

OBAT & VITAMIN - ARTIKEL

SUPLEMEN MAKANAN

Konsumsi Berlebih Ada Efek Samping

Selasa, 26 April 2011 | 03:14 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Jakarta, Kompas - Selain boros, konsumsi suplemen makanan berdosis tinggi dalam waktu lama bisa menimbulkan efek samping berbahaya bagi tubuh. Suplemen makanan tidak diperlukan jika asupan makanan berimbang.

”Penggunaan suplemen, seperti vitamin dan antioksidan, adalah gaya hidup, bukan sesuatu yang esensial,” kata Guru Besar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rianto Setiabudy dalam Lokakarya Sudah Tepatkah Obat Anda, Senin (25/4/2011) di Jakarta.

Selain aneka jenis vitamin, suplemen makanan berupa mineral, serat, asam lemak, dan asam amino dikemas mirip obat. Padahal, bukan obat.

Salah satu suplemen yang sering dikonsumsi berlebih adalah vitamin C. Kebutuhan tubuh per hari hanya 90 miligram (mg) yang dapat dicukupi dari sayuran dan buah sehari-hari.

Banyak produsen menawarkan vitamin C dengan dosis 500 mg dan 1.000 mg. Padahal, kelebihan vitamin C dapat menyebabkan diare, batu ginjal, dan nyeri lambung. ”Tak ada bukti yang mantap bahwa vitamin C dapat mencegah influenza, penyakit jantung, kanker, atau katarak,” kata Rianto.

Suplemen lain yang dikonsumsi berlebih adalah antioksidan, seperti vitamin E, vitamin C, betakaroten, dan selenium. Antioksidan diklaim mampu mencegah kanker, stroke, penyakit jantung, dan menghambat penuaan. Padahal, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menyokong kebenaran klaim itu.

Konsumsi berlebih vitamin E, di atas 800 mg per hari dapat menghambat agregasi trombosit hingga mudah berdarah.

Para dokter disarankan tidak memberikan suplemen makanan kepada pasien, cukup memberikan obat esensial yang dibutuhkan oleh penderita.

Selain suplemen, jenis obat yang paling banyak diberikan dokter baik disengaja atau desakan pasien adalah antibiotika. Penggunaan antibiotika sembarang justru memicu resistensi kuman. ”Kalau hanya flu, batuk, demam, dan diare tidak perlu diberikan antibiotika,” kata Hidayati Mas'ud dari Subdirektorat Bina Penggunaan Obat Rasional, Kementerian Kesehatan.

Pendiri Yayasan Orangtua Peduli Purnamawati S Pujiarto mengajak masyarakat menjadi konsumen kesehatan yang cerdas. Pasien berhak menolak jika dokter memberikan antibiotika yang tidak diperlukan. Antibiotika berlebihan membuat kuman menjadi resisten. (MZW)


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
TI Produksi

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui