Rabu, 22 Oktober 2014 16:38
Caring by Sharing | Kompas.com

Prof.DR.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

Seks dan "Daun Muda"

Selasa, 8 Januari 2008 | 20:24 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

"Saya menulis surat ini bukan karena punya persoalan khusus dengan diri saya atau pun pasangan saya, tapi hanya karena penasaran. Begini Dok, sebagai laki-laki, tahu sendirilah, banyak yang suka ke tempat hiburan malam untuk menikmati 'keindahan dan kesegaran' ciptaan Tuhan. Saya pun demikian, terutama kalau sedang berdinas ke luar kota. Dalam konferensi atau seminar misalnya, malah teman-teman suka memberi 'hadiah kejutan' yang bisa mengetuk pintu dan menemani semalaman.

Terus terang, saya biasanya tidak pernah 'mengembalikan hadiah', tapi hadiah tidak pernah saya 'buka'. Jadi kami hanya mengobrol saja. Mengapa tidak saya kembalikan, pasti karena teman-teman akan menganggap saya munafik. Mengapa tidak saya 'buka', karena saya memang tidak merasa butuh dan ingin hidup sehatlah (sungkan rasanya untuk mengatakan hidup bersih). 

Jadi itulah cara saya menjaga keseimbangan pertemanan dan keinginan menjaga diri. Tapi akibatnya, sebagian orang menganggap saya punya gaya hidup kacau juga. Tidak apa.  Nah, di antara obrolan sesama lelaki, sering disinggung soal 'daun muda' yang konon sangat bermanfaat untuk menjaga keperkasaan dan membuat awet muda pula. Ada beberapa teman yang sangat mempercayai hal itu, dengan segala argumentasinya. Malah ada satu teman yang tidak mau menikah, karena merasa tidak butuh, berhubung sudah kadung enak bisa mendapatkan 'darah segar' kapan pun dia mau, dengan status bujangan kaya dan tampan pula.

Yang ingin saya tanyakan, biar tidak penasaran:
1. Secara ilmiah, adakah pengaruhnya pada keperkasaan dan kemudaan, jika seseorang menyukai 'darah segar' atau 'daun muda' itu? Adakah bukti-bukti mengenai hal itu?
2. Jika tidak ada manfaatnya, mengapa keyakinan seperti itu begitu kuatnya di antara kita ini para lelaki?
3. Betulkah sering atau banyak berhubungan seks, juga bisa membuat seseorang awet muda dan awet perkasa?
4. Adakah penjelasan ilmiahnya, kaitan antara frekuensi hubungan seksual dengan panjang umur?
Ini saja pertanyaan saya Dok, mudah-mudah tidak keberatan menjelaskannya. Terimakasih.

Henry Thomas, Jakarta. 
  
Sebenarnya keputusan Pak Henry untuk tidak melakukan hubungan seksual dengan wanita lain yang didapatnya sebagai "hadiah kejutan" patut dipuji dan dihargai. Dengan alasan "tidak merasa butuh dan ingin hidup sehat" dia tidak sampai melakukan hubungan seksual walaupun menerima wanita yang didapatnya sebagai "hadiah" itu. 

Sebenarnya lebih baik lagi bila Pak Henry juga tidak menerimanya. Jadi bukan hanya tidak "membukanya", melainkan juga tidak menerimanya. Masalahnya, kalau Pak Henry mau menerimanya, bukan tidak mungkin suatu saat kehilangan kontrol dan mau "membukanya". Kalau ini terjadi, berarti keputusan "ingin hidup sehat" telah dilanggar. Jadi Pak Henry tidak perlu takut dianggap munafik oleh teman-temannya. Kecuali kalau dia siap melanggar keputusannya sendiri. 

Mitos "daun muda"
Memang luas beredar di masyarakat anggapan bahwa hubungan seksual dengan wanita muda, yang kerap disebut "daun muda", dapat membuat orang menjadi lebih perkasa dan awet muda. Tidak ada dasar ilmiah yang membenarkan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Anggapan ini jelas salah dan hanya merupakan suatu mitos.

 Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang sehingga menjadi sehat dan awet muda. Faktor itu antara lain keteraturan irama hidup, ada tidaknya gangguan atau penyakit, ada tidaknya gangguan psikik, dan faktor genetik. Irama hidup yang tidak teratur akan berpengaruh terhadap pola makan, waktu kerja, dan waktu istirahat. Keadaan ini akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga menjadi tidak sehat dan tampak lebih tua dari usianya. Demikian juga bila terdapat gangguan fisik dan psikik, tubuh menjadi tidak sehat dan penampilan cenderung tampak lebih tua. Pengaruh faktor genetik juga sangat menentukan bagi penampilan fisik seseorang. 

Berdasarkan faktor tersebut, tidak tampak pengaruh hubungan seksual dengan orang muda terhadap kesehatan dan penampilan yang awet muda. Bahkan kalau hubungan seksual itu berisiko tinggi, khususnya berupa penularan Penyakit Menular Seksual, justru penyakitlah yang didapat. 

Tetapi mitos itu memang telah beredar luas, dan diyakini oleh banyak orang, karena pengetahuan seksual yang kurang. Bahkan tidak sedikit pekerja seks yang membujuk anak jalanan agar terangsang dan mau melakukan hubungan seksual sebagai "obat awet muda" walaupun belum muncul istilah "batang muda". Tentu saja fenomena ini sangat merugikan bahkan membahayakan bagi anak-anak jalanan itu. Kemungkinan tertular Penyakit Menular Seksual (penyakit kelamin) sangat besar. Kalau penyakit yang menularinya adalah penyakit yang "biasa" dan mudah disembuhkan, mungkin bukan  suatu masalah besar. Tetapi bagaimana kalau anak-anak itu tertular HIV/AIDS?
 
Frekuensi hubungan seksual
Memang banyak mitos tentang seks yang beredar luas di masyarakat. Di tengah masyarakat yang pengetahuan seksualnya rendah, mitos tentang seks dapat tumbuh subur dan diyakini sebagai suatu kebenaran. 

Salah satu mitos lain tentang seks ialah hubungan seksual yang dilakukan seringkali dapat membuat orang awet muda dan panjang umur. Sama seperti mitos hubungan seksual dengan "daun muda", maka mitos inipun tidak punya dasar ilmiah sehingga tidak seharusnya dipercaya. 

Frekuensi hubungan seksual ditentukan oleh dorongan seksual, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikik, dan pengalaman seksual sebelumnya. Tentu saja faktor tersebut juga berlaku bagi pasangannya. Karena itu frekuensi hubungan seksual tidak dapat ditentukan dengan pasti karena tergantung kepada kemauan dan kemampuan setiap pasangan.

Panjang dan tidaknya usia seseorang tidak ditentukan oleh seringnya melakukan hubungan seksual. Jadi bukan berarti semakin sering melakukan hubungan seksual, usia menjadi semakin panjang sehingga menjadi panjang umur. Justru sebaliknya yang mungkin terjadi. Karena faktor di atas mendukung, termasuk kesehatan tubuh, maka hubungan seksual sering dilakukan. Tetapi bila seseorang memaksa diri melakukan hubungan seksual yang sering padahal mengalami gangguan fisik tertentu, tentu bukan panjang umur yang dirasakan.

 Beberapa faktor yang menentukan usia harapan hidup seseorang ialah keadaan kesehatan tubuh dan jiwa, keadaan sosial ekonomi, keadaan gizi, dan faktor lingkungan khususnya yang berkaitan dengan kesehatan. Kalau faktor tersebut mendukung, maka usia harapan hidup menjadi lebih panjang. Sebagai contoh, karena keadaan kesehatan dan sosial ekonomi masyarakat lebih baik, maka usia harapan hidup manusia Indonesia saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pada masa awal kemerdekaan.  


Sumber :
Gaya Hidup Sehat

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui