Jumat, 21 November 2014 19:00

Laparoskopi, Atasi Gangguan Batu Empedu

Penulis : Evy Rachmawati | Kamis, 6 Agustus 2009 | 17:16 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
TPGImages
Ilustrasi batu empedu menunjukkan sekelompok batu ginjal (abu-bau) terbentuk di kantung empedu dan saluran empedu.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Penderita gangguan batu empedu belakangan ini jadi lebih meningkat jumlahnya baik pada orang berusia lanjut maupun mereka yang berusia produktif. Gangguan ini muncul akibat kualitas empedu yang diproduksi hati memburuk atau akibat kantung empedu tidak mampu menyimpan empedu dalam bentuk cairan dengan baik.

Demikian disampaikan ahli bedah saluran cerna dr Hermansyur Kartowisastro yang juga Direktur Eksekutif Pondok Indah Healthcare Group dan ahl ibedah dr Sigit Tjahyono, dalam temu media bertema Laparoskopi Sebagai Terapi Terkini Penanggulangan Batu Empedu,  di Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta Kamis (6/8). Acara itu dilanjutkan dengan kunjungan ke Klinik Saluran Cerna rumah sakit itu.

Gejala gangguan batu empedu beragam mulai dari nyeri perut, demam, muntah, mual hingga kuning. Deteksi dini gangguan batu empedu amat penting agar tidak mengganggu kualitas hidup penderita melalui pemeriksaan fungsi hati, USG dan CT Scan. Bahkan, dengan perangkat lebih canggih, diagnosis paling akurat radang kandung empedu bisa diperoleh dari pemeriksaan skintigrafi hepatobilier yang memberi gambaran dari hati, saluran empedu, kandung empedu dan bagian atas usus halus, ujar Sigit.

Penanggulangan gangguan batu empedu dan peradangan kandung empedu dapat dilakukan dengan berbagai terapi. Pada kasus gangguan batu empedu yang masih dini, terapi dapat dilakukan dengan menjaga pola makan. Namun pada kasus yang akut, dapat dilakukan prosedur operasi untuk pengangkatan kandung empedu atau kolesistektomi, ujarnya menjelaskan.

Metode dan teknologi operasi kini berkembang makin pesat. Untuk gangguan batu empedu, misalnya, teknik terkini yang bisa diterapkan untuk menanggulanginya adalah dengan prosedur operasi menggunakan teknik bedah invasif minimal atau laparoskopi dengan sayatan hanya sepanjang 0,2-2 sentimeter. Operasi ini membawa lebih banyak manfaat bagi pasien dibandingkan bedah yang menggunakan metode konvensional misalnya masa perawatan dan pemulihan yang jauh lebih cepat.

Laparoskopi mulai diperkenalkan di Pondok Indah Healthcare Group sebagai grup naungan RS Puri Indah dan RS Pondok Indah awal tahun 1990. Sejak didirikan 22 tahun lalu, sudah lebih dari 60.000 tindakan bedah dilakukan di RS Pondok Indah dan 500 di antaranya adalah operasi kasus batu empedu melalui laparoskopi. Adapun di RS Puri Indah tercatat 30 kasus batu empedu yang membutuhkan tindakan operasi telah ditangani dengan baik melalui laparoskopi.

Dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan laparoskopi dalam tindakan bedah invasif minimal diperkirakan akan terus meningkat seiring peningkatan jumlah kasus ganguan batu embedu, kata Hermansyur. Kondisi ini kemungkinan disebabkan perubahan pola makan di kalangan masyarakat yang banyak mengonsumsi makanan berlemak tinggi dan peningkatan tingkat kesadaran masyarakat untuk periksa ke dokter.

Untuk mengoptimalkan hasil terapi dalam mengatasi gangguan saluran cerna, termasuk penanganan batu empedu, maka penanganannya harus terintegrasi dengan menyatukan multi disiplin berbagai spesialisasi untuk penanganan berbagai saluran cerna secara menyeluruh dan terpadu. Penanganan pasien harus terintegrasi dan komprehensif dengan dukungan tim dokter berpengalaman sehingga memungkinkan penanganan kasus atau penyakit dilakukan di tempat dan waktu bersamaan, ujarnya.

 

 

 



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui