Selasa, 28 Februari 2017

Health

Maumere, Gading Gajah Tabungan untuk Kuliah

Iwan Santosa dan Samuel Oktora

KOMPAS.com - Sepasang pria asyik memahat benda putih bulat di halaman sebuah rumah, di Jalan Patirangga, Kelurahan Beru, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/11) siang. Mereka adalah seniman tradisi langka di Indonesia: pengukir gading gajah.

Gading diukir dalam pelbagai bentuk, mulai dari pipa pengisap rokok, ukiran naga-burung hong yang dikenal dalam mitologi Sikka, kalung rosario, Bunda Maria, Yesus Kristus, hingga kaligrafi Arab dengan lafal Allah. Itulah keahlian khas masyarakat Maumere dalam mengolah gading gajah.

Kepemilikan gading gajah merupakan tradisi unik masyarakat Pulau Flores. Gading gajah merupakan ukuran status sosial, kekayaan, mas kawin, dan bahkan tabungan untuk masa depan pendidikan anak-anak mereka.

”Saya lulus kuliah berkat gading gajah. Pegadaian di Maumere juga menerima gading gajah sebagai jaminan utang. Kepemilikan gading gajah sangat penting untuk masyarakat kami,” kata Paulina Yeni Kabepung, anggota DPRD Sikka.

Gading adalah perangkat penting dalam hidup orang Flores. Tanpa memberi mahar berupa gading, jangan harap seorang pria bisa menikahi gadis pujaan, apalagi jika si gadis adalah putri golongan bangsawan.

”Untung saya dapat istri orang Jawa. Kalau tidak, ya, harus menyediakan gading gajah juga,” kata Yance seorang warga Maumere.

Empu kerajinan gading Maumere, Felixius Piterson Kabepung, menjelaskan, umumnya untuk melamar seorang gadis Sikka, calon mempelai pria dituntut memberikan gading berkisar 10 batang dengan panjang 30-60 sentimeter (cm) per batang.

Harga gading dengan panjang 30 cm rata-rata Rp 20 juta per batang, sedangkan yang panjang 60 cm berkisar Rp 30 juta per batang. Di Adonara, umumnya belis untuk seorang gadis sebanyak 5 gading.

Namun, tuntutan belis gading di Adonara lebih panjang, yakni 1,25 meter hingga 2 meter. Harga gading sepanjang itu rata-rata Rp 200 juta per batang. Jadi kalau lima gading besar untuk belis jika diuangkan sekitar Rp 1 miliar!

Dimungkinkan dari proses perkawinan adat yang sudah berlangsung sekian lama itu, banyak warga Adonara kini menyimpan gading. Sebab ketika seorang pria hendak melamar gadis di Adonara, jika tidak mempunyai simpanan gading, mereka akan mencari dulu di wilayah Flores, mulai dari sebelah barat Flores di kawasan Manggarai hingga ke timur sampai Lembata.

”Dari gading itu memang warga di Adonara juga dapat membiayai pendidikan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi,” kata Piterson.

Piterson juga menjelaskan, meskipun bahan baku gading tidak bisa diperoleh di Flores, karena memang tidak ada gajah di wilaya tersebut, dari perjalanan sejarah diyakini gajah pernah hidup di Flores.

Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya fosil stegodon, sejenis gajah raksasa yang ditemukan di Ola Bula, Ngada, Flores pada Desember 1956 oleh tim ekspedisi Verhoeven. Fosil itu dinamakan Stegodon trigonocephalus florensis. Diperkirakan hewan ini telah hidup di Flores pada periode 400.000 tahun- 10.000 tahun yang lalu. Fosil tersebut kini disimpan di Museum Bikon Blewut, di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere.

Pasokan gading gajah yang melimpah, menurut Piterson Kabepung, berasal dari kepergian seorang raja Sikka pada awal 1600-an ke Malakka yang berada di bawah kekuasaan Portugal. ”Beliau memeluk agama Katolik dan ketika pulang dari Malakka mendapat cendera mata satu kapal penuh gading yang kemudian dibagikan kepada bangsawan dan tuan tanah di Sikka dan sekitarnya. Sejak saat itu, tradisi menyimpan gading sebagai pusaka dilestarikan warga,” kata Piterson.

Saat ini, pasokan gading gajah diperoleh dari Sabah, Malaysia. Gading itu berasal dari gajah yang mati secara alamiah. Sedangkan gading kuno dan berukir peninggalan nenek moyang tidak boleh digunakan untuk industri kerajinan.

Kristus Raja dan sekolah

Kompas yang mengikuti Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara (GDN) menumpang Pinisi Cinta Laut, tiba di Maumere Kamis (19/11) petang. Kedatangan tim bertepatan dengan acara besar masyarakat Maumere, yakni prosesi keagamaan mengarak patung Kristus Raja (Rex Mundi) dari batas kota ke sebuah gereja di Maumere.

Ribuan rumah dihiasi dengan janur dan salib, patung Bunda Maria, Yesus Kristus, dan gambar orang-orang suci dipasang di depan rumah warga untuk mendapat berkat dari prosesi Kristus Raja. ”Acara ini untuk memperingati ulang tahun Keuskupan Maumere yang akan menjadi kegiatan tahunan. Warga menyiapkan janur dan umbul-umbul seperti keramaian waktu menyambut Kristus ke Jerusalem dalam cerita Kitab Suci,” kata Pastor Policarpus Sola Pr yang mengiringi prosesi.

Warga dengan busana adat terbaik, kain tenun Flores pelbagai motif, serta instrumen gong dan bambu ditabuh bertalu-talu mengiringi prosesi. Warga yang beriringan hingga membentuk barisan sepanjang dua kilometer menyanyikan lagu, diselingi doa Salam Maria, bergerak perlahan menuju stasi-perhentian-dalam Via Dolorosa, Jalan Salib untuk mengenang penderitaan Yesus Kristus.

Sungguh meriah, seluruh kota tumpah ruah, tak ubahnya perayaan Gerebek Maulud dan Sekaten di Jawa ataupun iring-iringan ogoh-ogoh menjelang hari raya Nyepi di Bali. Selepas mengikuti prosesi, Kompas mendatangi desa terpencil di pesisir selatan Pulau Flores, sekitar 40 kilometer selatan Maumere.

Bagi anak-anak di Desa Hokor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, begitu berat tantangan mereka untuk bersekolah. Selain jarak yang jauh menuju sekolah, mereka juga harus lewat medan berat berliku. Begitu pula Desa Wukur, desa tetangga Hokor, umumnya jarak antara rumah penduduk dan sekolah 2-4 kilometer di jalan mendaki tiga bukit dan suhu udara mencapai 31 derajat celsius. ”Keponakan saya hari ini tidak masuk sekolah karena kelelahan,” kata Sirilus Sa’an, warga Desa Wukur, Kecamatan Sikka.

Editor : jimbon