Rabu, 17 September 2014 06:28

PSIKIATRI

Perempuan Rentan Gangguan Jiwa Ringan

Selasa, 25 Mei 2010 | 03:58 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Jakarta, Kompas - Perempuan yang mengalami gangguan jiwa ringan dua kali lebih banyak daripada laki-laki. Kerentanan tersebut antara lain disebabkan oleh faktor budaya.

Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 menyebutkan, prevalensi penduduk berusia lebih dari 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional ringan pada perempuan 16 persen dan pada laki-laki 9 persen.

”Perempuan yang kerap diperlakukan sebagai makhluk tidak berdaya menginginkan kesetaraan dengan laki-laki. Namun, pola asuh tidak selalu demikian atau masih mendua,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman di sela seminar kesehatan jiwa yang diadakan Kementerian Kesehatan, Senin (24/5). Itu menyebabkan perempuan lebih rentan bunuh diri.

Penanggung Jawab Kesehatan Jiwa pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia, Albert Maramis, mengungkapkan, faktor biologis seperti siklus hormonal, persalinan, dan menopause ikut memengaruhi gangguan emosional pada perempuan. Faktor lainnya ialah kondisi sosial yang kerap menempatkan perempuan pada posisi tidak menguntungkan. Hal itu bisa menjadi pemicu stres.

Secara sederhana, gangguan mental atau kejiwaan dapat dikelompokkan menjadi gangguan emosional ringan dan gangguan berat seperti schizophrenia, manik depresif, dan psikosis.

Laki-laki lebih berat

Tun menambahkan, perempuan dan laki-laki mempunyai risiko yang sama untuk menderita gangguan jiwa berat.

Namun, derajat keparahan gangguan jiwa berat itu lebih besar pada pria sehingga penderita pria lebih banyak yang harus dirawat di rumah sakit jiwa. Gangguan kejiwaan berpengaruh pada pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih mencontohkan, penelitian di beberapa tempat di Jawa Barat menunjukkan, ibu hamil yang memeriksakan kehamilan ke puskesmas, 36 persen di antaranya menunjukkan gejala mental emosional.

”Dengan keadaan demikian, diduga ibu tidak merawat kehamilannya dengan baik,” ujarnya. Kondisi itu memengaruhi ke kesehatan ibu dan bayi yang dikandung. Kesehatan ibu dan anak adalah salah satu indikator pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium. Dia berpandangan, peran pelayanan konseling jadi semakin penting. (INE)

 



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui