Selasa, 2 September 2014 01:39

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Bijak Memilih Lubrikasi Vagina

Selasa, 13 Juli 2010 | 09:58 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak cara yang bisa dilakukan agar organ kewanitaan selalu lembab. Anda bisa menggunakan obat kimia, obat herbal, bisa juga dengan terapi. Namun, hati-hati, ada yang punya efek samping.

Eddy Karta, pakar penyakit kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), bilang, cara paling mudah adalah dengan menggunakan obat kimia. Fungsi obat ini adalah melembabkan organ intim atau istilah ilmiahnya lubrikasi vagina.

Bentuk obat kimia ini ada dua macam, gel atau krim dan tablet. Untuk bentuk krim atau gel, Anda tinggal mengoleskan saja setiap malam selama dua sampai tiga minggu. Olesan dilakukan sampai miss v terasa lembab. Untuk bentuk tablet pun sama. Anda tinggal mengonsumsi sesuai aturan.

Selain obat kimia, Anda juga bisa menggunakan obat herbal. Banyak obat-obatan herbal yang bisa menjaga organ reproduksi perempuan tetap licin dan sehat. Contohnya akar tanaman dong quai, bunga fennel, atau buah chasteberry.

Namun, Anda harus hati-hati sebelum memakai obat-obatan itu. Sebab, beberapa obat memiliki efek samping yang merugikan. "Anda harus mengetesnya dulu di bagian tubuh yang lain," ujar Eddy.

Jika ingin berhubungan intim, ada juga pelembab tambahan yang beredar di pasaran yang bisa Anda gunakan. Hanya saja, Anda harus mencari yang berbahan dasar air. "Jangan yang oil-based seperti vaselin karena malah akan mengganggu produksi pelembab alami," kata Mulyadi Tedjaprana, pakar kesehatan Klinik Medizone.

Selain obat, lubrikasi (pelumasan) vagina bisa juga melalui terapi. Terapi yang biasa digunakan adalah terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT). Prinsip dasar dari terapi ini adalah menambahkan hormon di tubuh sehingga lubrikasi bisa berjalan alami.

Hanya saja, sampai saat ini masih ada pro dan kontra. Beberapa pakar menyebutkan cara ini tidak sepenuhnya aman sebab punya efek samping. Misalnya, berat badan bertambah, timbul rasa nyeri pada payudara, sakit kepala, keputihan, bahkan muncul bercak-bercak di vagina hingga sekujur tubuh.

Tak hanya itu, perempuan yang menggunakan terapi ini juga berpotensi mengalami stroke, kanker payudara, dan penyumbatan pada pembuluh darah. Maka, banyak dokter yang tidak menyarankan. (Raymond Reynaldi)


Sumber :
KONTAN
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui