Sabtu, 29 November 2014 07:00

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Dada Sering Berdebar? Waspadai Aritmia Jantung

Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 13 Agustus 2010 | 10:02 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

Kompas.com - Pernahkah Anda merasa tiba-tiba denyut jantung meningkat tanpa sebab yang jelas meski tanpa melakukan aktivitas fisik yang berat? Jika hal itu terjadi, berarti Anda telah bergabung dalam dunia aritmia bersama orang-orang yang mengalami gangguan irama detak jantung.

Aritmia jantung disebut juga disaritmia, menurut Dr.dr.M.Munawar, Sp.JP(K), adalah irama jantung yang abnormal, yakni jantung berdenyut secara tidak teratur, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat.

Ketika kita sedang beristirahat, jantung memompa lebih lambat dan teratur, sekitar 60-80 denyut per menit. Ketika kita sedang berlari, menaiki tangga, atau melakukan aktivitas fisik yang berat, denyut jantung bisa meningkat hingga 200 denyut per menit tergantung kerasnya aktivitas fisik yang dilakukan.

"Adanya gangguan pada sistem konduksi listrik di jantung bisa menimbulkan irama jantung yang abnormal," papar dr.Munawar dalam acara media workshop mengenai penangangan gangguan irama jantung yang diadakan oleh RS Jantung Binawaluya Jakarta, beberapa waktu lalu.

Aritmia jantung biasanya menimbulkan gejala berupa nyeri dada dan rasa berdebar-debar, kebanyakan pasien aritmia mengeluhkan perasaan seperti mau mati. "Kecepatan denyut jantung pada gangguan aritmia bisa mencapai 300-400 per menit. Bila dalam 10 menit tidak tertolong bisa menyebabkan kematian mendadak," kata Munawar.

Pada prinsipnya gangguan irama jantung terjadi karena adanya "korsleting" pada sistem denyut listrik. Banyak hal yang bisa memicu terjadinya kosleting tersebut, misalnya penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, serta faktor penuaan. "Makin tua, makin tinggi risikonya mengalami aritmia," katanya.







IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui