Senin, 24 November 2014 00:03

Rieke: Perlindungan TKI Itu Tugas Negara

Senin, 29 November 2010 | 01:18 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
TRIBUN TIMUR/IHSAN MUSTAKIM
Artis yang juga anggota DPR RI dari PDIP, Rieke Diah Pitaloka (kiri) menangis saat memberi keterangan kepada wartawan di Mapolda Sulselbar, Makassar, Selasa (9/3/2010). Dia melapor ke polisi atas dugaan pelecehan yang dikukan terhadap dirinya oleh seorang dokter di RS Labuan Baji Makassar.

JAKARTA, KOMPAS.com -  Anggota Komisi IX DPR Rieke Diah Pitaloka yang dikenal sebagai pemeran "Oneng" meminta lemerintah lekas merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri.

Revisi itu menyangkut tugas dari pelatihan dan perlindungan TKI yang selama ini menjadi tugas swasta, harus beralih menjadi tugas negara sesuai dengan konstitusi.
-- Anggota Komisi IX DPR, Rieke Diah Pitaloka

"Revisi itu menyangkut tugas dari pelatihan dan perlindungan TKI yang selama ini menjadi tugas swasta, harus beralih menjadi tugas negara sesuai dengan konstitusi," katanya saat jumpa pers peluncuran Asean Employee Services Trade Union Council (ASETUC) di Jakarta, Minggu (28/22/10) petang.

ASETUC adalah Dewan Serikat Pekerja Karyawan Sektor Jasa Asean.  Ia mencontohkan di Filipina, negara wajib memberikan pelatihan sampai calon tenaga kerja itu dinyatakan siap untuk bekerja di negara tujuan, sementara agen hanya bertugas memberangkatkan mereka.   

Ia menjelaskan, selama ini pelatihan yang menjadi tanggung jawab PJTKI terkesan diabaikan padahal TKI yang berangkat akan menghadapi tidak saja perbedaan bahasa, tetapi juga budaya dan perseptif majikan terhadap TKI khususnya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Tidak mungkin hanya dalam pelatihan yang terkadang hanya sehari, TKI bisa siap menghadapi segala perbedaan itu," katanya.

Selain itu, menurut politisi dari PDIP itu, Pemerintah harus segera menyerahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga karena pembantu rumah tangga harus diakui sebagai sebuah profesi sehingga hak-hak mereka juga harus sama dengan pekerja lainnya.

"Jangan sampai kita membela TKI yang menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri, tetapi hak-hak warga yang menjadi pembantu di dalam negeri diabaikan," katanya.

Perjuangan menelurkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga itu, menurut Rieke akan berhadapan dengan pandangan feodalisme yang masih mengakar kuat di masyarakat.

"UU itu bukan bertujuan mengkriminalisasi para majikan, tetapi merupakan bentuk pengakuan terhadap pekerja dalam rumah tangga agar hak-hak mereka tidak diabaikan," katanya.

Sementara Presiden ASETUC Ahmad Hakim menegaskan, walaupun ASETUC hanya membawahi wilayah Asean,  namun melalui jaringan serikat pekerja yang ada di negara-negara  Timur Tengah dapat membantu para TKI untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

"Kami terdiri atas beberapa organisasi pekerja global yang mempunyai jaringan ke Timur Tengah termasuk Arab Saudi sehingga kamipun akan berupaya membantu agar Pemerintah tempat pekerja migran juga bisa melindungi hak-hak buruh migran," katanya.

ASETUC atau Dewan Serikat Pekerja Karyawan Sektor Jasa Asean didirikan 27 Maret 2007 merupakan afiliasi organisasi serikat pekerja yang ada di 10 negara Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (Asean).

Berapa organisasi yang tergabung yaitu Building and Woodworker Internasional (BWI), Public Service Internasional (PSI), dan Union Network Internasional.

Indonesia menjadi Ketua ASETUC periode 2010-2012 menggantikan posisi Vietnam. Hadir pada acara jumpa pers, Sekjen ASETUC Mohn Shafie BP Mamal, Presiden Direktur Frederick Ebert Stiftung, dan Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rostiawati.

Usai jumpa pers dilanjutkan dengan diskusi tentang buruh migran dan pemutaran Film "Minggu Pagi di Victoria Park" yang disutradarai Lola Amaria dengan produser No’e Letto (Sabrang Mowo Damar Panulu).


Sumber :
ANT
Editor :
yuli

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui