Selasa, 2 September 2014 16:03

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

6 "Screening" Kesehatan Wajib Pria

Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 21 Desember 2010 | 10:32 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com — Melakukan screening kesehatan pada saat yang tepat merupakan hal penting yang harus dilakukan pria demi kesehatannya. Dengan melakukan check up kesehatan, penyakit akan ditemukan lebih dini, bahkan sebelum muncul gejala, sehingga lebih mudah ditangani dan kemungkinan sembuhnya lebih besar. Misalnya saja, jika ditemukan diabetes sejak awal, komplikasi seperti hilangnya penglihatan atau impotensi masih bisa dicegah.

Apa saja cek kesehatan yang wajib untuk para pria?

1. Kesehatan prostat Kanker prostat merupakan kanker yang paling banyak dialami pria. Biasanya kanker ini tergolong lambat berkembang meski ada juga tipe yang agresif dan cepat berkembang. Dengan screening, dokter akan menemukan penyakit ini sejak dini sehingga terapi yang diberikan lebih efektif.

Pemeriksaan prostat disarankan untuk pria berusia di atas 45 tahun atau lebih muda jika ada riwayat keluarga menderita penyakit ini. Jenis pemeriksaan yang banyak dilakukan adalah tes prostate specific antigen (PSA) melalui tes darah.

2. Kanker kolorektal Kematian akibat kanker kolorektal berada di urutan kedua. Risiko pria untuk menderita kanker ini lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Penyakit ini biasanya terjadi akibat pertumbuhan polip pada usus besar. Setelah sel kanker tumbuh biasanya akan menyebar ke seluruh bagian tubuh.

Cara mencegah penyakit ini adalah menemukan dan mengangkat polip dari kolon sebelum mereka berkembang menjadi sel kanker. screening kanker kolon dianjurkan sejak seorang pria memasuki usia 50 tahun.

3. Tekanan darah Risiko untuk menderita tekanan darah tinggi akan meningkat seiring dengan usia. Pada orang yang lebih muda risikonya juga tinggi jika menderita kegemukan dan bergaya hidup tidak sehat. Hipertensi bisa memicu penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, serta ginjal.

Tekanan darah yang normal biasanya kurang dari 120/80 dan dianggap tinggi jika tekanannya 140/90 atau lebih. Lakukan pengukuran tekanan darah secara teratur.

4. Kadar kolesterol Dalam jumlah yang tinggi, kolesterol jahat (LDL) bisa menyebabkan terbentuknya plak di dinding arteri yang akan memicu serangan jantung. Ateroklerosis, pengerasan dan penyempitan pembuluh darah, bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala.

Minimal lakukan tes darah setahun sekali untuk mengetahui kolesterol total, LDL dan HDL (kolesterol baik), serta trigliserida. Perubahan gaya hidup, seperti berolahraga dan mengurangi konsumsi lemak, biasanya cukup efektif menurunkan LDL.

5. Gula darah Sepertiga penderita diabetes tidak menyadari penyakitnya. Padahal diabetes yang tidak terkendali bisa memicu berbagai penyakit, seperti serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, hingga impotensi. Hal ini tak perlu terjadi, terutama jika penyakit ini ditemukan sejak dini.

Pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah sewaktu sebaiknya rutin dilakukan setiap tiga tahun sekali oleh pria berusia 40 tahun. Apabila Anda memiliki risiko lebih tinggi (kegemukan atau punya riwayat keturunan), lakukan cek gula darah lebih awal dan lebih sering.

6. HIV HIV merupakan virus penyebab AIDS. Virus ini hidup dalam darah serta cairan tubuh dari orang yang terinfeksi meski orang tersebut tidak merasakan gejala. HIV menyebar dari satu orang ke orang lain melalui cairan yang masuk melalui kontak vagina, daerah anal, mulut, mata, atau luka terbuka di kulit.

Orang yang terinfeksi HIV bisa tidak merasakan gejala apa pun selama bertahun-tahun. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan memeriksakan darah. Apabila Anda merasa berisiko tinggi tertular, yakni pernah memakai jarum suntik tidak steril atau melakukan hubungan seksual berisiko (tanpa kondom dan berganti pasangan), lakukan pemeriksaan HIV.


Sumber :
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui