Kamis, 24 April 2014 15:00

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Perawatan Demam Berdarah di Rumah Sakit

Senin, 24 Januari 2011 | 07:19 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Kompas/Wisnu Widiantoro
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menjenguk pasien demam berdarah dengue (DBD) dan diare di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (11/2). Sejak awal tahun hingga kemarin, sebanyak 909 pasien diare dan 2.940 pasien DBD dirawat di sejumlah rumah sakit di Jakarta.
TERKAIT:

Dua orang adik saya dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Pertama adik saya yang laki-laki (21) masuk rumah sakit karena demam tinggi dua hari disertai sakit kepala hebat dan pegal-pegal. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan lekosit serta trombosit sehingga dokter mencurigai demam berdarah dengue.

Hari pertama masuk rumah sakit, demam masih tinggi tapi disertai oleh perdarahan dari hidung yang cukup banyak. Trombosit semakin menurun menjadi 43.000 dan hari kelima demam menjadi hanya 13.000. Dia mendapat infus dan obat penurun demam dan ketika terjadi perdarahan hidung dokter menyarankan transfusi darah berupa trombosit. Keadaannya lemah dan hemoglobinnya turun.

Kami semua khawatir karena perdarahan cukup banyak. Untunglah pada hari keenam demam menurun dan trombosit tak turun lagi, bahkan meningkat secara bertahap. Dia mulai membaik sehingga setelah lima hari dirawat diizinkan pulang setelah trombosit menjadi 102.000.

Menjelang adik pulang, adik saya yang perempuan demam tinggi juga. Kami segera memeriksa laboratorium. Kami khawatir dia demam berdarah, tetapi trombositnya masih 130.000 (normal 150.000 sampai 400.000), jadi hanya sedikit menurun. Dokter memberi pilihan untuk pemeriksaan darah tiap hari dari rumah atau langsung dirawat di rumah sakit. Kami memilih dirawat di rumah sakit saja karena terpengaruh pengalaman dengan adik saya yang laki-laki.

Pada perawatan di rumah sakit ternyata trombosit adik perempuan saya turun cepat sekali. Pada hari keempat demam, trombosit menjadi 12.000, bahkan pada hari kelima menjadi hanya 6.000 saja. Namun tak ada perdarahan. Dokter tak memberikan transfusi darah meski trombositnya amat rendah. Untunglah kemudian demam hilang dan trombosit naik lagi secara bertahap sehingga setelah dirawat 7 hari dia boleh pulang.

Dari kedua pengalaman di atas saya ingin bertanya, apakah kita dapat meramalkan demam berdarah yang akan menjadi berat atau biasa saja. Apakah pemeriksaan darah harus dilakukan tiap hari? Apakah vaksin demam berdarah telah ada dan bila akan digunakan di negeri kita. Apakah demam berdarah dapat menimbulkan kematian?

(M di J)

Jawaban Perjalanan penyakit demam berdarah dengue biasanya demam tinggi dan setelah demam hari ketiga memasuki masa hati-hati karena pada masa itu demam akan turun, tetapi jumlah trombosit juga menurun secara nyata. Pada masa hati-hati dapat terjadi berbagai penyulit, seperti perdarahan atau bahkan juga syok. Namun, pada umumnya setelah masa hati-hati terjadi pemulihan dan dalam waktu yang tak terlalu lama pasien akan dapat pulang.

Memang sulit diramalkan apakah penderita demam berdarah dengue akan baik-baik saja atau akan mengalami berbagai keadaan yang tak diinginkan. Karena itulah pada umumnya setelah demam tiga hari dokter merasa lebih aman untuk merawat pasien, terutama jika trombositnya rendah. Seperti dialami oleh adik perempuan Anda, penurunan trombosit dapat cepat sekali. Namun pada umumnya meski trombosit rendah jika tak ada perdarahan, apalagi pasiennya tak mempunyai penyakit perdarahan, tidak diperlukan transfusi darah.

Keberhasilan perawatan demam berdarah memang baik. Namun, kematian dapat terjadi meski jarang (kurang dari 1 persen). Terapi yang utama pada demam berdarah dengue adalah cairan dan penanganan terjadinya kemungkinan komplikasi.

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus sehingga pada umumnya tak diperlukan antibiotika. Obat penurun demam diperlukan untuk kenyamanan pasien, tapi demam akan turun secara permanen jika sudah lima hari. Pemantauan pasien dilakukan setiap hari agar perubahan keadaan klinis serta laboratorium (trombosit) dapat dipantau secara baik.

Di Jakarta ada beberapa daerah yang kekerapan penyakit demam berdarahnya tinggi. Sudah tentu sebenarnya yang kita impikan adalah upaya pencegahan demam berdarah di negeri kita berhasil mencegah timbulnya penyakit demam berdarah tersebut.

Pencegahan

Apakah setiap tahun kita akan tetap merasa cemas karena ancaman demam berdarah dengue? Jawabannya tentu tergantung pada kita semua. Jika kita berhasil memberantas sarang jentik nyamuk, maka lingkungan akan bebas dari nyamuk yang menularkan demam berdarah (Aedes aegypti). Pemerintah telah menggalakkan upaya menghilangkan sarang-sarang pertumbuhan jentik ini, yaitu genangan air. Namun, upaya tersebut harus dilakukan serentak dan secara berkesinambungan.

Di Jakarta, setiap Jumat masyarakat diajak membersihkan jentik-jentik ini, tapi belum semua masyarakat ikut serta dan juga kegiatan ini belum berkesinambungan. Itulah sebabnya kita masih menghadapi masalah demam berdarah. Para petugas kesehatan di rumah sakit berupaya untuk memulihkan pasien demam berdarah.

Seharusnya di masyarakat kita semua harus berupaya memerangi nyamuk demam berdarah dengan memberantas jentik-jentiknya. Upaya pencegahan sebenarnya jauh lebih murah dan juga harus kita ingat upaya terapi tak selalu berhasil sehingga ada keluarga yang akan kehilangan anak atau keluarganya yang meninggal karena demam berdarah.

Sampai saat ini vaksin demam berdarah masih dalam penelitian meski tahapnya sudah amat dekat dengan penggunaan di masyarakat. Namun, patut diingat, vaksinasi demam berdarah jika nanti tersedia biayanya tak akan murah. Sedangkan untuk mencegah penularan, vaksinasi demam berdarah ini cakupannya harus tinggi. Karena itu mungkin masih akan lebih murah menjaga lingkungan agar tak ada genangan air yang memberi kesempatan pada jentik nyamuk demam berdarah. Sudah cukup banyak negara yang berhasil mengendalikan demam berdarah, semoga kita juga bisa. Dr. Samsuridjal Djauzi


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui