Kamis, 30 Oktober 2014 22:12
Caring by Sharing | Kompas.com

Tari Bali, Noken dan TMII ke Unesco

Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F | Senin, 28 Maret 2011 | 15:50 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS IMAGES/NI LUH MADE PERTIWI F
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menandatangani berkas nominasi Warisan Budaya Takbenda Unesco disaksikan Julianus dari Komunitas Papua, I Wayan Dibia dari Komunitas Tari Bali, dan Direktur Utama TMII Sugiono di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (28/3/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kembali mengusulkan tiga unsur budaya untuk dinominasikan ke Unesco di tahun 2011. Ketiga unsur budaya tersebut adalah Tari Tradisi Bali, Noken Papua, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Tahun-tahun lalu kita sudah mendaftarkan beberapa. Wayang, batik, keris, angklung sudah diakui. Setelah diakui kita tanggung jawab untuk lestarikan. Kalau hilang, bisa-bisa dicabut oleh Unesco," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada saat penandatangan berkas nominasi warisan budaya takbenda Unesco, Senin (28/3/2011).

Jero menuturkan tidak semua budaya bisa didaftarkan. Jika semua didaftarkan, lanjutnya, harus mengeluarkan ratusan miliar rupiah. Selain itu, pihak Unesco juga membatasi nominasi setiap negara.

"Mendaftarkan tiga saja betapa banyak yang kita libatkan, ribuan. Misalnya tari Bali ada 9 yang didaftarkan. Tari Bali itu ribuan tari. Ini saja sudah melibatkan 9 kabupaten, dari tiap kabupaten dipilih satu tarian," ungkapnya.

Hal lain yang diperlukan menurut Jero adalah pencarian dokumen. "Dokumen ini untuk membuktikan apa tari Bali memang dari Bali. Mereka tidak serta merta menerima. Mereka akan cek satu per satu," katanya. Karena itu, ia berharap mulai saat ini pendokumentasian pada budaya akan lebih baik.

"Selembar lontar saja sudah kuat. Seperti dulu saat pendaftaran angklung menggunakan dokumentasi dari lontar," kisahnya.

Sementara itu, tambah Jero, Noken yang merupakan kerajinan tangan khas Papua dipilih karena ada kekhawatiran jika tidak cepat diangkat ke permukaan, maka Noken bisa punah. Saat ini sudah tidak banyak orang yang bisa membuat Noken. Bahkan, di kota-kota besar di Papua jarang yang menjual Noken.

"Kita pilih Noken dari sekian banyak budaya di Papua. Mana yang kental di antara rakyat Papua. Ternyata Noken mengena, ada di semua kabupaten di Papua," ujar Jero. Sedangkan TMII, menurutnya, adalah warisan budaya Indonesia.

"TMII ini karya Ibu Tien. Waktu dibangun, banyak demo. Tapi sekarang jadi karya sejarah. Waktu 2004 saya jadi menteri, datang ke TMII dengan Presiden, GM TMII waktu itu sampai menangis karena akhirnya baru ada lagi Presiden yang datang. Janganlah kaitkan politik dan budaya," katanya.

Tari Tradisi Bali dinominasikan dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda (Representative List of Intangible Cultural Heritage). Noken atau kerajinan tangan masyarakat Papua sebagai nominasi Daftar yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak (Urgent Safeguarding of Intangible Cultural Heritage). Sedangkan, TMII sebagai nominasi Penciptaan Ruang Budaya untuk Pelindungan, Pengembangan, dan Pendidikan Warisan Budaya (Best Practices of Intangible Cultural Heritage).

"Best Practices yang sudah pernah kita dapat adalah Museum Batik di Pekalongan. Tari Saman juga masuk dalam nominasi Urgent Safeguarding, tahun ini pengumumannya. Tari Saman dari ujung barat dan sekarang kita daftarkan Noken dari ujung timur," kata Jero.

Dengan masuknya unsur budaya Indonesia ke Unesco, menurut Jero, akan memberikan beberapa fungsi, seperti pengakuan dunia akan budaya Indonesia serta pengingatan kembali bagi diri sendiri untuk pelestarian. Dari segi pariwisata, unsur budaya yang masuk Best Practices tentu akan dipromosikan oleh Unesco ke seluruh dunia.


Editor :
I Made Asdhiana

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui