Jumat, 22 Agustus 2014 01:01

Pertanian

Hama Keong Mas Serang Padi di Madiun

Penulis : Runik Sri Astuti | Rabu, 30 Maret 2011 | 17:24 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

MADIUN, KOMPAS.com - Organisme pengganggu tanaman keong mas atau siput murbai menyerang tanaman padi di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Populasinya meningkat karena tingginya curah hujan. Petani kewalahan mengatasi serangan, sehingga mereka terpaksa menambah biaya produksi untuk mengerahkan tenaga pengambil hama dan menyulami tanaman yang rusak.

Kepala Bagian Teknis Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Eddy Sujoko mengatakan serangan keong mas terjadi rutin setiap tahun, utamanya di Kecamatan Nglames dan Kecamatan Balerejo. Total luas areal sawah di Nglames mencapai 1.890 hektar yang terbagi dalam 13 desa di antaranya Desa Bagi, Desa Tiron, Desa Gunungsari dan Desa Nglames.

"Sejauh ini upaya yang dilakukan adalah mengendalikan populasi keong mas dengan cara mengeluarkannya dari sawah. Tidak ada obat kimia untuk membasmi. Kami sudah meminta bantuan kepada departemen pertanian," katanya, Rabu (30/3/2011).

Petani dari Desa Bagi, Kecamatan Nglames, Bambang mengatakan serangan keong mas ( Pomacea canaliculata Lamarck) terjadi persis setelah petani menanam padi. Serangan mengganas dalam bilangan hari sehingga merobohkan batang-batang padi yang baru ditandur. Akibatnya petani menderita kerugian hingga jutaan rupiah.

"Keong memakan batang-batang padi yang baru ditanam sampai putus. Rata-rata tanaman yang diserang berumur 15 hari sampai 30 hari. Serangan semakin banyak kalau sawahnya dipenuhi air, tapi kalau agak kering, keongnya bersembunyi di dalam tanah," ujarnya.

Bambang mengatakan musim tanam padi saat ini dibarengi dengan musim hujan. Apalagi di Madiun, curah hujannya cukup tinggi. Hal ini semakin meningkatkan populasi keong mas karena banyak telor-telor keong yang terbawa aliran air sungai, masuk ke dalam saluran irigasi. Keong mas dikenal memiliki fertilitas tinggi sehingga mudah berproduksi dan adaptif.

Rata-rata populasi keong mas mencapai 60 kilogram (kg) hingga 70 kg di setiap hektar sawah. Populasi bisa meningkat sampai 100 kilogram per hektarnya apabila aliran air yang masuk ke sawah semakin banyak. Keong akan bertumbuh kembang lebih cepat pada sawah yang tergenang air dibandingkan pada sawah yang kering.

Parno petani dari Desa Tiron, Kecamatan Nglames menambahkan pemberantasan hama keong mas masih dilakukan secara manual. Artinya, petani mengandalkan jari tangan untuk menyingkirkan keong dari sawah. Istilahnya pembasmi hama cap tangan . Sejauh ini belum ada bahan kimia pembasmi keong maupun predator yang diandalkan petani untuk menekan populasi keong.

Adapun biaya tambahan yang diperlukan untuk mengatasi serangan keong mas mencapai Rp 900.000 per hektar. Uang itu dipakai membayar buruh tani sebanyak enam orang dan membeli bibit tanaman baru untuk menyulami tanaman lama yang mati akibat diserang keong mas. Tingkat kematian tanam an rata-rata mencapai 15 persen.

Petugas Penyuluh Lapangan Kecamatan Nglames Neny Sulistiana menambahkan pembinaan kepada petani terus dilakukan terkait upaya meminimalisasi kerusakan akibat serangan keong mas. Salah satu caranya yakni memantau serangan secara rutin dan mengajak petani menyingkirkan keong begitu mereka menjumpainya di sela-sela tanaman.

Neny mengatakan serangan keong mas paling banyak ditemukan di sawah-sawah yang berada dekat dengan aliran sungai. Ini disebabkan banyak telor keong yang terhanyut di sungai kemudian terbawa masuk ke saluran irigasi yang bermuara di sawah-sawah petani. Satu ekor keong mas mampu menghasilkan ratusan telor.


Editor :
Glori K. Wadrianto

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui