Jumat, 29 Agustus 2014 23:04

Uniknya Corak dan Warna Batik Kudus

Penulis : Wardah Fazriyati | Kamis, 31 Maret 2011 | 11:25 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS.com/Banar Fil Ardhi
Miranti Serad Ginanjar, Pembina Perajin Kudus, memperlihatkan kain batik tulis Kudus yang dibuatkan khusus untuk PT Djarum. Djarum Foundation bersinergi dengan Rumah Pesona Kain mempopulerkan batik Kudus, dengan menjadikannya sebagai seragam perusahaan.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Bagi penggemar batik, koleksi Anda belum lengkap tanpa batik Kudus. Anda bisa menikmati ragam budaya karya perajin pesisir yang diwakili dalam motif batik Kudus. Pasalnya, batik asal Kudus, Jawa Tengah, ini lahir dari perpaduan kreasi perajin batik Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo. Pada era 40-an, pedagang China di Kudus mengundang perajin batik dari berbagai daerah untuk membuatkan batik khusus untuk mereka. Alhasil, kolaborasi dari perajin batik ini menghasilkan motif batik yang unik. Bagian dasar batik Kudus kental dengan sentuhan batik Yogyakarta dan Solo, sementara motif bunganya lekat dengan karakter batik Pekalongan.

"Tak hanya motif yang multikultur, warna pada batik Kudus juga kaya karena perpaduan budaya ini. Pada batik Kudus didapati juga pengaruh Arab (kaligrafi) lantaran Kudus berdekatan dengan Demak yang identik dengan penyebaran ajaran Islam. Warna coklat dan hitam juga memperkaya batik Kudus yang penuh warna. Inilah yang membuat batik tulis Kudus unik dan bernilai, dan wajar saja jika harganya mahal bisa jutaan untuk kain batik tulis. Meski terdapat juga  kain batik Kudus yang terjangkau, maksimal Rp 700.000," jelas Ade Krisnaraga Syarfuan, Pembina Perajin Kudus dari Rumah Pesona Kain, di sela acara "Pesona Batik Kudus" di Jakarta, Rabu (30/3/2011) lalu.

Sentra batik Kudus sempat menghilang karena masyarakat mulai meninggalkan kegiatan membatik, selain juga tak ada lagi yang memakai batik Kudus. Namun sejak 2008, RPK membina manula dan generasi muda sekaligus merangkul pembatik yang masih bertahan di Kudus. Kini, terdapat 60-70 sentra batik berupa industri rumahan di Kudus. Kreasi batik dari Kudus semakin berkembang, dipasarkan oleh RPK dan diperagakan pertama kali di Hotel Mulia dalam busana siap pakai karya perancang ternama Indonesia. Sejak 2010 lalu, RPK juga masih fokus mengembangkan batik Kudus dengan menambah perajin untuk berkreasi aneka motif unik. Kini, perajin batik Kudus bertambah dua kali lipat, dan perancang ternama Indonesia juga semakin banyak dilibatkan dalam mencipta busana dari kain batik Kudus. Anda semakin mudah menikmati batik Kudus dalam busana kantor atau pesta.

"Batik Kudus menghilang karena tak ada yang memakai, selain juga pengaruh tekstil printing motif batik yang lebih murah. RPK membina manula bertahap dari dua orang hingga 20 orang pada tahap awal. Mereka diberi modal berupa bahan untuk membatik, lalu RPK membelinya dan memasarkannya melalui berbagai pameran dan peragaan busana di Jakarta," lanjut Ade.

Pakar batik, Asmoro Damais, mengatakan bahwa batik Kudus memiliki keunikan. Batik ini paling sulit dikenali, gayanya membingungkan. Namun inilah yang membuat batik Kudus unik dan berbeda dengan keragaman budaya tercermin di motifnya. "Batik Kudus selalu mempunyai dasar yang rumit, memiliki tingkat kehalusan tinggi dan unik di detailnya. Pembuatan batik tulis Kudus tidak selesai dalam enam bulan, karenanya harga tidak murah," jelas Asmoro.

Miranti Serad Ginanjar, pembina perajin Kudus, juga mengakui keunikan batik Kudus ini.
"Perkembangan warna dan motif batik Kudus indah. Seperti warna dan motif kupu-kupu, daun tembakau yang dikembangkan bekerjasama dengan perajin Youke Yuliantaries. Dengan perkembangan ini diharapkan apresiasi terhadap batik Kudus semakin tinggi," tuturnya.

Tak sulit menemukan batik Kudus di Jakarta, karena RPK membuka Galeri Batik Kudus di Jalan Garut No 23 Menteng, Jakarta Pusat. Berbagai motif kain otentik batik Kudus bisa ditemukan di sini. Bagi pecinta kain, batik Kudus dikenal dengan batik peranakan yang halus dengan isen-isen rumit, seperti gabah sinawur, moto iwak, atau mrutu sewu. Batik-batik ini berwarna sogan (kecoklatan) seperti umumnya batik Jawa Tengah. Semantara soal corak, pilihannya beragam mulai corak tombak, kawung, atau parang, yang dihiasi dengan buketan, pinggiran lebar (terang bulan), taburan kembang, kupu-kupu, atau burung dengan warna cerah seperti merah.

Kekayaan kain batik Indonesia takkan sirna asalkan semakin banyak orang mengapresiasi, dengan memakainya dalam busana harian. "Pembatik akan bertahan jika batik dibeli dan dipakai oleh banyak orang," tandas Asmoro.


Editor :
Dini

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui