Kamis, 23 Oktober 2014 14:56
Caring by Sharing | Kompas.com

RABIES

Sampai Sekarang NTT Belum Bebas Rabies

Penulis : Samuel Oktora | Rabu, 27 April 2011 | 20:23 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Ilustrasi vaksin rabies.

ENDE, KOMPAS.com — Cakupan vaksinasi anjing tahun 2010 di wilayah Pulau Flores dan Lembata, Nusa Tenggara Timur, sebagai daerah endemik rabies masih rendah. Daerah ini dalam kurun waktu 14 tahun, yakni sejak tertular tahun 1997 sampai saat ini, juga belum dapat bebas dari rabies.

Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Rabies Sedaratan Flores-Lembata yang digelar oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Ende, Rabu (27/4/2011) di Ende, Flores.

Berdasarkan data Dinas Peternakan NTT, untuk wilayah Flores-Lembata (9 kabupaten), dari populasi anjing 233.739 ekor, realisasi vaksinasi tak dapat mencapai standar minimal sebagaimana yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 70 persen, melainkan baru 55,89 persen.

Terungkap dalam rakor itu sejumlah kendala vaksinasi, di antaranya minimnya sarana dan prasarana penunjang kegiatan vaksinasi di pusat kesehatan hewan (puskeswan) di tingkat kecamatan, keterbatasan jumlah tenaga vaksinator, ketersediaan vaksin yang terbatas, serta ketiadaan dana sosialisasi.

Lemahnya vaksinasi menyebabkan kasus rabies sulit ditekan. Artinya, dari tahun 1997-2010 tetap banyak kasus gigitan anjing rabies mencapai 28.302 kasus, bahkan menyebabkan kematian sebanyak 215 kasus.

Dari 9 kabupaten itu, kasus kematian paling banyak terjadi di Kabupaten Ngada (73 kasus) dan kasus gigitan rabies paling banyak terjadi di Kabupaten Manggarai (6.786 kasus).

Target vaksinasi 100 persen sampai saat ini belum dapat dicapai. Salah satunya karena budaya masyarakat yang masih memelihara anjing yang bebas berkeliaran (tidak diikat).

"Dengan kondisi jumlah vaksinator yang terbatas, hal ini sangat menyulitkan karena vaksinator harus mencari dulu anjing yang akan divaksin, sementara daerah yang mesti dijangkau amat luas," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Manggarai Daniel Baru, Rabu di Ende.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Seksi Produksi Ternak Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat Viktor Ranggu mengemukakan, karena keterbatasan alokasi anggaran dari APBD, vaksin yang digunakan tahun ini sementara masih mengandalkan sisa persediaan vaksin tahun lalu (2010) sekitar 7.795 dosis.

Dari total persediaan tahun 2010 sebanyak 11.000 dosis, direncanakan untuk vaksinasi anjing sebanyak 9.926 ekor meski yang baru tervaksin 3.205 ekor.

Protektivitas titer antibodi rendah

Dari penelitian tahun 2010 yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Ngada, di Flores, tingkat protektivitas titer antibodi anjing terhadap rabies tergolong rendah. Dari cakupan vaksinasi sebesar 81 persen (populasi anjing 17.853 ekor), prevalensi kekebalan protektif anjing ternyata hanya 26,36 persen.

Dari 9 kecamatan, yang tertinggi titer antibodi cuma di Kecamatan Riung yang mencapai 54,29 persen. Kecamatan lainnya rata-rata 30 persen ke bawah, bahkan yang terendah di Kecamatan Wolomeze cuma 9 persen.

"Ini dimungkinkan karena faktor listrik, seperti di Wolomeze, belum masuk listrik PLN," kata Kepala Seksi Pupuk Pestisida Obat-obatan Tanaman dan Ternak Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Ngada Christoffel Madha.

Yang berbahaya dengan kekebalan anjing rendah meski sudah divaksin, anjing akan rentan tertular jika terserang virus rabies.

Menurut Christoffel, kondisi kecamatan yang belum berlistrik hal itu menyebabkan puskeswan di kecamatan kesulitan menyimpan vaksin dalam keadaan baik.

Pasalnya, vaksin dalam pola rantai dingin, untuk menjaga kualitas tetap terjaga baik vaksin harus senantiasa tersimpan dalam keadaan dingin dengan suhu 2-8 derajat celsius, mulai keluar dari pabrik, ke tempat penyimpanan, hingga menuju lokasi vaksinasi.

"Sementara kami juga belum mempunyai tempat penyimpanan khusus vaksin dalam skala besar. Kami baru mempunyai beberapa unit sekelas termos untuk membawa vaksin," kata Christoffel, yang juga mengusulkan agar pemerintah pusat dapat mengupayakan pengadaan vaksin yang dapat tahan dalam suhu di atas 8 derajat celsius, juga daya tahan (periode) vaksin yang bisa mencapai satu tahun.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTT Maria Geong ketika dikonfirmasi menjelaskan, rendahnya kekebalan anjing bukan semata-mata karena rendahnya mutu vaksin.

Belum ada listrik di suatu daerah itu memang berdampak serius. Kabupaten di Flores-Lembata ini memang tak banyak yang mempunyai tempat penyimpanan khusus vaksin yang harganya sekitar Rp 3 juta per unit.

"Malah ada yang masih menyimpan vaksin di kulkas-kulkas rumah tangga, juga membawa vaksin dengan disimpan dalam termos nasi. Ini di bawah standar," kata Maria.

Kendala lainnya, ujar Maria, dimungkinkan penurunan kualitas vaksin terjadi dalam perjalanan dari pabrik di Surabaya, Jawa Timur, sampai Kupang, lalu ke kabupaten-kabupaten di Flores.

"Turut menentukan pula standar operasi vaksinasi yang harus dipahami dan dikuasai betul oleh para vaksinator. Sebab, banyak vaksinator di Flores diambil bukan dari kalangan dokter hewan, melainkan dari disiplin ilmu yang lain. Maka, ini perlu pelatihan, termasuk cara menyuntik yang benar," kata Maria.

Maria juga menyarankan, guna memantau kualitas vaksin, tiap dinas dapat melakukan penelitian secara reguler, hasil vaksinasi dikirim kembali ke pabrik, sehingga pihak pabrik dapat mengetahui sejauh mana kualitas vaksin yang mereka buat.

Soal periode vaksinasi, karena 70 persen vaksin untuk kabupaten merupakan bantuan pusat, jadi pemkab hanya dalam posisi menerima saja jenis vaksin yang dikirim, dengan ketentuan dilakukan dua kali vaksinasi dalam setahun. "Memang ada vaksin untuk periode satu tahun, tetapi harganya juga lebih mahal," kata Maria.


Editor :
Benny N Joewono

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui