Rabu, 23 April 2014 19:45

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Amankah Metode Merangsang Persalinan?

Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 24 Juni 2011 | 07:38 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com — Dengan berbagai alasan, kebanyakan ibu hamil melakukan metode untuk merangsang tubuh menuju persalinan di akhir-akhir masa kehamilan. Metode tersebut, antara lain, melakukan hubungan seks, lebih sering berjalan kaki, mengasup makanan pedas, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, meski sudah cukup bulan, dokter tidak menganjurkan metode-metode untuk merangsang tubuh menuju tahap awal proses kelahiran tersebut.  "Meski pada umumnya tidak berbahaya, tetapi metode itu bisa menjadi sesuatu yang tidak terkontrol," kata Jonathan Schaffir, profesor ginekolog dari Ohio State University.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di sebuah rumah sakit terhadap 200 ibu yang sudah melahirkan terungkap seluruh ibu tersebut melakukan upaya untuk merangsang persalinan saat janin sudah berusia 37 minggu atau cukup bulan untuk dilahirkan.

Sekitar 85 persen menjawab mereka merangsang persalinan dengan cara lebih sering berjalan kaki, sebanyak 45 persen berhubungan seks, 22 persen mengonsumsi makanan pedas, dan 15 persen menstimulasi puting payudara.

Usia rata-rata wanita yang melakukan metode tersebut adalah 27 tahun, sementara wanita yang berusia di atas 30 tahun cenderung memilih persalinan alami. Para wanita yang tak sabar untuk melahirkan itu juga mayoritas adalah ibu baru.

Schaffir menjelaskan, perangsangan puting payudara memang bisa mempercepat persalinan. Metode tersebut akan membuat tubuh melepaskan hormon oksitosin sehingga memicu kontraksi rahim. "Akan tetapi, metode ini tidak direkomendasikan dan belum terbukti aman," imbuhnya.

Di Indonesia sendiri, beberapa mitos menyebutkan mengonsumsi rumput Fatimah, semacam herbal, bisa mempercepat kontraksi kelahiran.


Sumber :
LiveScience
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui