Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kini dia menjabat sebagai Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi, Ketua Pusat Studi Anti-Aging Medicine, dan Ketua Program Magister dengan kekhususan Anti-Aging Medicine dan kekhususan Ilmu Kedokteran Reproduksi. Prof Wimpie juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia (Persandi), dan Wakil Ketua Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia (Perkapi).

TANYA :
Prof, saya ingin mendapat penjelasan apakah seorang pria akan mengalami fenomena berhentinya kesuburan untuk reproduksi, seperti halnya ‘menopause’ pada wanita? Mengapa ada pria lanjut usia yang sudah tidak lagi produktif secara seksual, tetapi ada juga yang masih bisa memberikan keturunan. Pada usia berapa pria rata-rata mengalami penurunan fungksi reproduksi/seksual? Apa saja yang bisa mempercepat terjadinya hal itu, dan bagaimana cara agar seorang pria bisa mempertahankan kesuburannya?
Eddy, 39, Garut
JAWAB :
Kesuburan pria jelas berkurang karena proses penuaan. Ini sama seperti pada perempuan. Bedanya, perempuan pasti mengalami menopause, yang berarti kesuburan padam sama sekali sehingga tidak mungkin dapat hamil lagi. Pada pria, kesuburan pasti menurun karena proses penuaan tetapi tidak harus berhenti sama sekali. Namun bukan berarti tidak ada pria yang mengalami kemandulan karena proses penuaan.
Berkurangnya kesuburan pria sebenarnya mulai terjadi di atas usia tigapuluh. Tetapi penurunan dapat terjadi lebih awal dan semakin buruk kalau ada penyakit tertentu atau karena gaya hidup tidak sehat.
Untuk mempertahankan kesuburan, terapkan gaya hidup sehat selain mendapatkan pengobatan untuk memperlambat proses penuaan. Tetapi untuk apa mempertahankan kesuburan kalau tidak ingin punya anak lagi, ya?
