Jumat, 28 November 2014 19:03

MIKROPOLITIK

Topi Dayak sampai Patung Asmat

Minggu, 28 Agustus 2011 | 02:45 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Mawar Kusuma

Hanya dengan melongok ruang pamer Komunitas Adat Terpencil, seluruh keragaman budaya dari pelosok Tanah Air bisa diraih dalam genggaman. Mulai dari topi seraung khas suku Dayak hingga patung suku Asmat.

Dua tahun terakhir, produk kerajinan adat terpencil, terutama dari Kalimantan Timur, bisa dipesan melalui Komunitas Adat Terpencil (KAT) Center, Kementerian Sosial, Jakarta. Topi seraung khas Kalimantan Timur, misalnya, bisa dipesan dengan harga Rp 45.000 hingga Rp 150.000 per topi.

Topi berhias manik-manik ini ditawarkan dalam beragam bentuk dan warna. Perempuan Dayak biasanya menganyam topi seraung untuk dipakai sebagai penutup kepala ketika ke hutan dan digunakan pada upacara adat. Kini, topi seraung pun dihadirkan sebagai hiasan dinding karena keelokan motifnya.

Bagian dalam topi seraung terbuat dari anyaman daun kering yang kemudian dijahit dengan tangan. Lingkaran topi diperkokoh dengan lidi dari daun kelapa. Bagian permukaan topi kemudian dilapisi potongan kain warna-warni sebelum diperindah dengan hiasan manik-manik. Manik-manik biasanya dirangkai menjadi motif-motif sulur khas Dayak.

Sebagian perajin topi seraung juga menambahkan hiasan sulaman tangan pada permukaan topi. Warna topi seraung selalu mencolok, seperti perpaduan warna hijau, kuning, oranye, hingga merah dan biru. Warna-warni topi seraung makin semarak ketika dipadukan dengan kilau aneka warna manik-manik.

”Kami tidak menjual, hanya menjembatani pemasaran antara dunia bisnis dan perajin di suku terpencil. Perajin sering tidak sadar bahwa produk mereka punya nilai jual tinggi,” kata Kepala Seksi Penggalian Potensi Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Neneng Tresnawati.

Hiasan manik-manik sejatinya memang lekat dengan kehidupan sehari-hari suku terpencil di Kalimantan. Selain topi seraung, hiasan manik-manik juga digunakan untuk menghiasi busana adat hingga dirangkai menjadi kalung dan gelang.

Busana adat Dayak berhias manik- manik yang dipajang di KAT Center tak hanya berbahan kain, ada juga yang berbahan kulit kayu. Keelokan perempuan dayak semakin kentara dengan paduan busana adat, aneka gelang, dan kalung manik-manik. Pria Dayak makin gagah menyandang tameng dan tombak.

Hiasan kalung manik dengan bandul gigi binatang tiruan bisa dipesan di KAT Center dengan harga sekitar Rp 200.000. Alat tradisional lain yang dilapisi hiasan manik adalah gendongan anak yang hanya diproduksi oleh masyarakat suku Dayak Kenyah. Gendongan terbuat dari kayu yang dilapisi ukiran atau sulaman manik-manik dan uang logam.

Suku Dani dan Asmat

KAT Center juga memamerkan artefak dan barang kuno dari suku terpencil. Tengkorak asli kepala suku Dani dari Papua menjadi karya unggulan setiap kali pameran digelar.

Peralatan rumah tangga suku terpencil tak kalah menarik untuk dilirik. Peralatan dapur, seperti piring dan sendok dari Nusa Tenggara Timur, tampak cantik karena seluruhnya terbuat dari kayu. Ada pula cangkir dan teko yang seluruhnya terbuat dari kayu bulian asal Kalimantan Barat. Gendongan bayi dari kayu yang dibuat suku Dayak Kalimantan Timur juga tak kalah cantik.

Pengukir kayu dari suku Asmat, Papua, Ignasius, mengatakan, perajin daerah terpencil seperti Asmat memang terkendala pemasaran, padahal tanah Papua sangat kaya dengan aneka ukiran kayu yang terinspirasi dari alam. ”Kami terkendala transportasi untuk pemasaran produk,” kata Ignasius saat dihubungi dari Jakarta.

Menurut Ignasius, suku Asmat terlahir sebagai seorang pengukir patung. Anak-anak hingga orangtua Asmat bisa memahat aneka bentuk makhluk hidup tanpa harus terlebih dulu membuat pola atau mencontoh gambar. Mereka hanya membutuhkan bahan baku berupa kayu besi atau kayu putih.

Ukiran Asmat sangat unik dan biasanya menyerupai patung karakter makhluk hidup yang dibuat bersusun hingga maksimal lima lapis. Tak hanya patung manusia, pengukir kayu Asmat juga membuat patung berwujud binatang, seperti burung, ikan, dan biawak. Agar lebih cantik, patung dihiasi bulu atau ijuk.

Tiap patung biasanya membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu pekan. Karena murni buatan tangan, setiap patung memiliki ciri khas masing-masing dan tak pernah memiliki kembaran. Selain ukiran kayu, perajin dari suku Asmat membuat tas anyaman dari daun sagu hingga aksesori, seperti gelang dari tulang burung kasuari.

Ignasius mengatakan, selama ini perajin Asmat hanya mampu menjual produk patung mereka di Provinsi Papua dengan rentang harga jual Rp 2 juta hingga Rp 5 juta. Kehadiran KAT Center di Jakarta, menurut Ignasius, menjadi salah satu jembatan bagi pemasaran produk suku Asmat.

Terbuka untuk umum

Ruang pamer KAT Center di Lantai I Gedung Kementerian Sosial ini terbuka untuk umum pada jam kerja. Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil telah memberdayakan suku terpencil di 2.971 lokasi di Tanah Air. Sebanyak 27 provinsi di Indonesia masih digolongkan sebagai daerah yang memiliki komunitas adat terpencil.

Kekayaan komunitas adat terpencil inilah yang bisa dengan mudah kita lihat di KAT Center. ”Kami ingin menghimpun dan memperlihatkan keragaman kebudayaan dan alat keseharian dari suku-suku terpencil yang selama ini belum dikenal oleh dunia bisnis,” kata Neneng.

Anggota staf Pengembangan PKAT, Adji Martanto, menambahkan, warga suku terpencil sering tidak tahu bahwa hasil kerajinan mereka sangat layak jual. Bahkan, harga jual aneka produk kerajinan tersebut bisa melonjak beberapa kali lipat setelah tiba di tangan konsumen. Keuntungan hasil penjualan produk pun akhirnya tak dinikmati oleh mereka.

Harga kalung dengan bandul gigi harimau dari Kalimantan Timur, misalnya, bisa jutaan rupiah. Padahal, harga sangat murah dari tangan perajin. ”Jadi, perajin tidak merasakan harga tinggi. Kami menjembatani warga agar bisa memasarkan supaya dunia usaha tertarik,” kata Neneng.







IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui