Selasa, 2 September 2014 13:45

Tren

Jodoh Online, Mengapa tidak?

Kamis, 15 September 2011 | 05:28 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Jodoh Online, Mengapa tidak

Oleh: Siti Swandari 

Kompasiana:  siti swandari

Menemukan belahan jiwa yang klop rasanya memang gampang-gampang susah. Bisa kapan saja, dimana saja tak terduga.

Dalam dua dasa warsa terakhir, mencari jodoh lewat media sudah menjadi hal yang lumrah. Pengalaman saya sebagai pengasuh ruang jodoh dimedia cetak membuktikan, mencari jodoh lewat koran atau majalah bukanlah merupakan hal yang jelek.

Anggota Kontak Jodoh, rata-rata lajang, berpendidikan cukup, sudah bekerja atau sedang merintis suatu usaha, berumur sekitar 30 tahunan. Kebanyakan berasal dari keluarga yang masih memegang teguh adat tradisional. Ayah terlalu kolot dan ibu kelewat selektif. 60 % terdiri dari wanita, kebanyakan dari golongan Tionghoa.

Menyimpulkan dari pengalaman saya selama ini, ternyata lambat jodoh umumnya bukan disebabkan pribadi dan fisik yang kurang menarik, namun kebanyakan disebabkan oleh pihak-pihak di sekelilingnya atau kerabat dekatnya.

Itu kondisi di zaman 80-an sampai menjelang tahun 2000, keadaan masih jadul. Karena keterbatasan halaman, saya hanya bisa memuat 15-20 data anggota perminggu dari 30-50 surat yang masuk setiap hari—bahkan pernah sehari mencapai 131 surat.

Sekarang di zaman online, di saat komputer sudah tersebar sampai ke pelosok, saya masih bermimpi untuk membuka semacam biro jodoh yang saya pastikan peminatnya banyak sekali. Saya lihat memang sudah banyak kontak-kontak jodoh yang tersebar, tapi masih lebih banyak lagi yang membutuhkan.

Bagaimana jika Kompasiana Freez membuka semacam ajang untuk mencari jodoh bagi peminatnya, sepertinya lebih aman dengan adanya verfikasi. Maklum, kemudahan di internet pasti sering disalahgunakan oleh pribadi-pribadi yang nakal atau iseng.

Selengkapnya: http://kom.ps/VQhp



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui