Minggu, 26 Oktober 2014 05:49
Caring by Sharing | Kompas.com

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Satu dari Lima Warga Jawa Barat Terserang Gangguan Jiwa

Jumat, 14 Oktober 2011 | 04:16 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/ANTONY LEE
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih (kiri) berbincang dengan pasien gangguan kejiwaan yang sudah mulai sembuh tentang lukisan karya pasien itu di Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (10/10). Kunjungan itu terkait acara puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Indonesia yang dipusatkan di Rumah Sakit Marzuki Mahdi.
TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com - Data mengejutkan diungkapkan Dr Natalingrum SpKJ MKes dari Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan. Ia mengatakan, satu dari lima orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa.

Data mengejutkan tersebut dikatakan Natalingrum pada acara Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa Tentang Kesehatan Jiwa di Hotel Grand Seriti Hegarmanah, Kamis (13/10/2011).

"Jawa Barat menjadi provinsi dengan penderita gangguan jiwa tertinggi di Indonesia. Bahkan angka rata-ratanya mencapai 20 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional," ujarnya.

Angka rata-rata nasional sendiri hanya 11,6 persen. "Dengan data ini bisa dikatakan, ada sekitar 19 juta orang di Jawa Barat mengalami gangguan jiwa. Ini berarti 1 dari 5 orang di Jawa Barat mengalami gangguan kesehatan jiwa," kata Natalingrum.

Untuk menekan angka gangguan kesehatan jiwa ini, kata Natalingrum, puskesma di Indonesia kini harus siap untuk menangani kesehatan jiwa. Daat ini, dari 9 ribuan puskesmas, baru 700 puskesmas sudah melayani pasien kesehatan jiwa.

Namun, Natalingrum buru-buru menegaskan bahwa gangguan jiwa ini jangan lantas diartikan sebagai gangguan jiwa berat, atau gila. Sebab, depresi, stres dan cemas juga termasuk kategori gangguan kesehatan jiwa.

"Mereka yang mengalami gangguan jiwa ini berusia 17 tahun ke atas. Rata-rata mengalami depresi, cemas, dan stres karena berbagai hal. Yang mengalami gangguan jiwa berat tidak banyak," ujarnya.

Natalingrum mengatakan, ada beragam faktor yang menjadi penyebab gangguan jiwa ini. Antara lain faktor ekonomi, pekerjaan, sosial, hingga gangguan kesehatan jiwa yang dipicu karena penyalahgunaan narkoba.

"Namun, ada juga yang dipicu faktor genetik. Tapi penyebab terakhir ini hanya bisa terjadi bila faktor gen-nya mengalami gangguan jiwa berat," ujarnya.

Selain hal-hal di atas, gangguan jiwa juga bisa dipicu dari gangguan kesehatan fisik, seperti sakit yang tak kunjung sembuh hingga menjadi beban pikiran si penderita yang berujung pada gangguan kesehatan jiwa.

Ia juga mengatakan, gangguan jiwa memang tidak secara langsung menyebabkan kematian, namun bisa menjadi kronis hingga ada yang memilih mengakhiri hidup.

"Mereka yang mengalami gangguan jiwa akan menjadi tidak produktif, menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat," ujarnya.

Ironisnya, gangguan kesehatan jiwa cukup banyak dialami oleh masyarakat ekonomi lemah atau miskin. Dengan alasan tidak ada biaya untuk berobat, akhirnya cukup banyak masyarakat yang memilih keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dengan cara dipasung.

"Praktik pemasungan masih cukup banyak ditemukan. Ini juga karena kurangnya informasi kepada masyarakat bahwa gangguan jiwa itu bisa ditangani bila diobati dengan cara dibawa ke rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum yang memiliki layanan gangguan kesehatan jiwa," katanya.

Untuk menekan tingginya angka gangguan kesehatan jiwa serta kasus pemasungan, Kementerian Kesehatan mencanangkan investasi kesehatan jiwa, promosi kesehatan jiwa dan investasi kesehatan masyarakat.

 


Sumber :
tribunnews
Editor :
Jimmy Hitipeuw

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui