Minggu, 31 Agustus 2014 13:15

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Memahami Osteoporosis

Penulis : Bramirus Mikail | Sabtu, 10 Desember 2011 | 08:47 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Osteoporosis, penyakit kerapuhan tulang yang bisa menyebabkan tulang patah, kini makin banyak diderita orang berusia produktif. Padahal sebenarnya penyakit ini bisa dicegah dengan menjalankan pola hidup yang sehat, salah satunya mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D.

Kunci untuk mencegah penyakit osteoporosis adalah memahami fakta yang benar. Felicia Cosman, MD, profesor kedokteran klinis dari Columbia University, dan Richard S. Bockman, MD, PhD, kepala pelayanan endokrin dari Weill Cornell Medical College, akan mengungkap secara terpisah soal mitos dan fakta tentang osteoporosis:

1. Mitos: Anda tahu akan mengalami osteoporosis karena rasa sakit yang dirasakan di tulang

Faktanya: Kerusakan awal pada tulang terkait osteoporosis biasanya tidak menimbulkan suatu gejala. Seseorang akan merasa dirinya baik-baik saja sampai akhirnya mengalami patah tulang tak terduga atau kesulitan berdiri. Kabar baiknya, saat ini sudah tersedia alat untuk mengukur kepadatan tulang sehingga pengobatan dapat diberikan lebih awal untuk hasil terbaik.

2. Mitos: Hanya orang tua yang berisiko osteoporosis

Faktanya: Meskipun risiko fraktur (patah) tulang baru muncul di kemudian hari, namun 80 persen risiko osteoporosis disebabkan karena pengaruh faktor genetik. Meski begitu, tidak ada kata terlambat untuk memulai memelihara kesehatan tulang, terutama jika Anda memiliki riwayat keluarga osteoporosis. Untuk menjaga tulang tetap sehat, cukupilah kebutuhan kalsium dan vitamin D melalui makanan dan paparan sinar matahari. Dukung dengan olahraga sesering mungkin dan menghindari merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

3. Mitos: Osteoporosis tidak seserius penyakit lain seperti jantung dan kanker.

Faktanya: Osteoporosis dapat mematikan. Dampak kecil dari patah tulang dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan neurologis (saraf), kardiovaskuler dan bahkan psikologis. Rasa nyeri berkelanjutan dan terbatasnya ruang gerak akibat patah tulang dapat mengurangi kualitas hidup seseorang. Hanya 15 persen dari orang tua korban patah tulang yang dapat terus bertahan dan mandiri.

4. Mitos: Pria tidak mengalami osteoporosis

Faktanya: Para pria umumnya memiliki kondisi tulang yang lebih kuat dan kecil kemungkinan untuk mengalami patah tulang ketimbang perempuan. Namun rendahnya tingkat testosteron dan estrogen, bisa membuat pria tua rentan terhadap patah tulang.

5. Mitos: Semua orang sama-sama berisiko osteoporosis seiring bertambahnya usia

Faktanya: Risiko osteoporosis lebih tinggi pada mereka yang berbadan kurus dan berkulit putih (ras Kaukasia). Risiko lebih besar juga ada pada perempuan dengan tingkat estrogen lebih rendah atau mengalami menopause dini. Bahkan pada beberapa orang yang menjalani terapi hormon untuk mengobati kanker tertentu - seperti payudara dan prostat - juga dapat meningkatkan risiko ini.

6. Mitos: Mustahil untuk mengembalikan tulang yang sudah keropos

Faktanya: Sangat mungkin untuk menghentikan atau membalikkan keropos tulang. Beberapa penelitian dalam pengobatan osteoporosis telah dilakukan selama 10-15 tahun terakhir. Pengobatan jangka pendek dengan anti-resorptive (terapi penggantian hormon) dapat membantu mempertahankan massa tulang yang ada. Bahkan beberapa agen baru dapat membangun terbentuknya tulang sehingga membantu Anda untuk bisa terus menapakkan kaki di tanah selama mungkin.


Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui