Jumat, 25 Juli 2014 17:28

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Kurang Makan, Banyak Balita Kurang Gizi

Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 15 Februari 2012 | 14:38 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Kompas.com - Bayi baru lahir sampai berusia tiga tahun merupakan kelompok kritis untuk tumbuh kembang. Jika orangtua tidak mencukupi kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh, bayi bisa mengalami gangguan pertumbuhan.

Selain itu di usia batita ini anak lebih sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap berbagai penyakit infeksi yang berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak. Itulah sebabnya anak usia ini membutuhkan pola makan bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizinya sehingga mereka memiliki daya tahan tubuh yang baik sekaligus mengoptimalkan kecerdasannya.

Kebutuhan bayi usia 0-6 bulan sudah tercukupi dari ASI, namun setelah itu mereka memerlukan makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai persiapan peralihan menuju makanan keluarga. MPASI biasanya berupa sumber karbohidrat yang dibuat lembek dan dilengkapi protein hewani dan nabati serta sayur.

Pemberian makanan pada anak menurut Prof.Ali Khomsan, ahli gizi pangan dari Institut Pertanian Bogor, pada prinsipnya adalah jumlahnya cukup dan bervariasi menunya. Keragaman makanan anak setiah hari harus memenuhi akan makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah.

"Konsumsi yang cukup baik jumlah dan kualitasnya akan menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak," katanya di sela acara peluncuran Gebyar Posyandu Peduli Tumbuh Aktif Tanggap yang diadakan PT.Nestle Indonesia di Malang (13/2).

Ia menjelaskan anak yang kurang makan berpotensi kekurangan gizi. "Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang pendek atau kurang berat," imbuhnya.

Menurut data Departemen Kesehatan RI, sekitar 35 persen balita di Indonesia pendek (stunting) dan 17 persen kurus. Ini merupakan masalah gizi yang harus mendapat perhatian keluarga. "Biasanya ini karena mereka kekurangan protein hewani yang sangat penting untuk memacu pertumbuhan badan," kata Ali.

Ia juga menambahkan banyak orangtua yang kurang memahami kebutuhan gizi anaknya. "Banyak anak yang tidak doyan makan malah dibiarkan saja. Padahal anak bisa dibujuk dengan positif agar mau makan. Atau anak dibiarkan makan dengan menu yang sama terus," katanya.

Senada dengan Ali, Nina Soekarwo, ketua penggerak PKK Jawa Timur, mengatakan bahwa sekitar 38 persen penyebab gizi kurang di Jawa Timur disebabkan karena asupan yang keliru. "Berdasarkan temuan kami di lapangan, ternyata kemiskinan bukan faktor utama rendahnya status gizi anak tetapi justru perilaku dan poal asuh yang salah," katanya dalam acara yang sama.

Nina mencontohkan, cukup banyak balita yang lahir dengan status gizi baik namun karena pola makan yang salah justru mengalami gizi kurang. "Orangtua umumnya tidak memantau apa yang diasup anaknya," imbuhnya.

Ditambahkan oleh Ali, kebiasaan jajan juga menyebabkan anak juga berkontribusi pada rendahnya status gizi anak. "Jajanan yang disukai anak umumnya yang padat kalori tapi miskin gizi. Padahal banyak camilan lokal yang murah dan menyehatkan, seperti bubur kacang hijau, pisang goreng, atau buah yang bisa diberikan pada anak," terangnya.

Untuk menyiasati anak yang susah makan, Ali menyarankan agar orangtua tidak berpatokan pada waktu makan tiga kali sehari. "Karena lambungnya masih kecil anak tidak bisa menerima makanan dalam porsi besar. Lebih baik makan sedikit tapi sering. Karena itu sediakan juga camilan sehat untuk anak," katanya.

Untuk mengetahui ada tidaknya penurunan atau kenaikan berat badan, anak harus ditimbang setiap bulan. Prinsipnya adalah anak yang sehat bertambah umur bertambah berat badan dan tinggi badan.

 



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui