Dokter Spesialis Anak di Kelompok Kerja Respirologi Anak, Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta.

TANYA:
Dear Dokter, Saya punya anak laki laki umur 11 tahun, baru baru ini saya menemukan foto2 (maaf) dia sedang telanjang dan dia juga memfoto alat kelaminnya. Pernah suatu kali kakeknya memergoki dia seperti sedang onani di kamar mandi.
Saya khawatir sekali dengan perkembangan anak saya ini. Apa yang harus saya lakukan. Untuk di ketahui di rumah tidak ada fasilitas internet, dia ke warnet hanya sesekali. itu pun jarang sekali. Sebulan belum tentu sekali. Kalau di rumah dia hanya suka main play station saja. Mohon di bantu saya cemas sekali... terima kasih sebelumnya
Dewi, Palembang
JAWAB :
Ibu Dewi yang baik,
Saya bisa memahami "keterkejutan" Ibu dalam menghadapi situasi putera ibu yang sudah mulai memasuki tahapan remaja. Pada periode ini pada sebagian anak laik-laki memang telah dimulai terjadi perubahan-perubahan hormonal, diantaranya hormon seks, yang akan menyebabkan munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti mulai munculnya rambut halus di sekitar kemaluannya, perubahan warna suara, perubahan tertentu bentuk tubuh, timbulnya rasa tertarik dengan lawan jenis, dan dorongan seksual mulai timbul. Ia mulai merasakan dan "bereksperimen" dengan perubahan tersebut.
Untuk sebagian besar orangtua, membicarakan perubahan yang terjadi pada masa tersebut masih dianggap tabu, sehingga si anak tidak mendapatkan informasi yang tepat dan benar. Seringkali ia mendapatkannya dari teman-temannya, atau bahkan dari internet yang belum tentu tepat.
Faktor internet itu sendiri seringkali memudahkan seorang anak untuk mendapatkan informasi maupun gambar/video yang tidak boleh disaksikannya. Rasa ingin tahu yang besar, timbulnya dorongan seksual, dan asupan informasi tentang hal tersebut yang kurang tepat dapat menyebabkan ia melakukan onani.
Pada kasus Ibu, sebaiknya ia diajak berdiskusi secara baik-baik, dan tidak menghukum atau memarahinya atas tindakan tersebut. Berikan informasi mengenai perubahan yang terjadi tersebut serta ajaklah agar ia dapat terbuka kepada ibu dan ayahnya tentang apa saja, hindari sikap menghakimi dan skeptis, sehingga ia merasa nyaman untuk membicarakan masalah yang dihadapinya.
Sudah tentu Ibu dan Ayah harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai permasalahan reproduksi bagi remaja yang bisa didapatkan dari buku-buku, website resmi tentang masalah reproduksi remaja maupun konsultasi langsung dengan ahli/dokter.
