Selasa, 21 Oktober 2014 18:56
Caring by Sharing | Kompas.com

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Penting, Penanganan Nyeri

Senin, 12 Maret 2012 | 10:17 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

Jakarta, Kompas - Rasa nyeri oleh masyarakat awam dianggap hal sepele dan diobati seadanya. Padahal, nyeri kronis dapat memperburuk kesehatan.

Hal ini disampaikan Aida Tantri dari Departemen Anestesi dan Intensive Care FKUI-RSCM Jakarta, Sabtu (10/3), dalam Forum Internasional Penanganan Nyeri yang diadakan Joint Commission International (JCI), institusi pemberi pelayanan akreditasi pelayanan kesehatan dan sertifikasi, serta perusahaan farmasi Pfizer Indonesia.

Nyeri kronis kini menjadi masalah kesehatan utama terutama di Asia Pasifik. Gangguan ini menyerang satu dari lima orang dewasa di seluruh dunia. Nyeri kronis diprediksi akan menjadi salah satu masalah kesehatan kritis di Asia Pasifik seiring peningkatan populasi manusia usia lanjut.

Sayangnya, penyakit ini sering diabaikan karena kurangnya pemahaman masyarakat. Padahal, nyeri kronis dapat membatasi kualitas hidup dan kesejahteraan penderita secara drastis serta dapat memberi beban berat pada sistem pelayanan kesehatan, Aida memaparkan.

Biasanya nyeri akut dianggap sebagai gejala penyakit atau cedera. Nyeri kronis dalam jangka waktu panjang atau setelah cedera atau penyakit susah disembuhkan. Dalam kasus ini, nyeri kronis menjadi masalah kesehatan yang spesifik, terkait masalah fisiologis dan psikososial.

Nyeri kronis dapat memperburuk kualitas hidup pasien karena akan menurunkan kemampuan bekerja, menimbulkan gangguan tidur, kecemasan, frustrasi, dan depresi, kurang nafsu makan, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, berdampak negatif pada sikap dan gaya hidup, serta ketergantungan pada obat dan perawatan medis.

Data survei pascaoperasi di RSCM, menurut Aida, menunjukkan nyeri terus-menerus dialami 16,6 persen pasien. Derajat nyeri berat dirasakan 16,67 persen pasien, nyeri sedang 41,7 persen, dan sisanya nyeri ringan.

Nyeri kronis sering kali diasosiasikan dengan diabetes, kanker, HIV/AIDS, dan depresi. Selain itu, dikaitkan juga dengan penyakit usia lanjut, seperti ruam saraf, artritis (nyeri sendi), nyeri punggung, dan nyeri otot. ”Sudah saatnya mengedukasi penderita, tenaga kesehatan, dan masyarakat tentang nyeri kronis serta perlunya mengurangi rasa sakit berkepanjangan,” kata Aida.

Mengurangi dan mengatasi rasa sakit adalah tujuan penting bagi tenaga medis. Pengendalian rasa sakit dapat membantu pasien untuk sembuh lebih cepat. ”Selain itu, mengurangi risiko komplikasi setelah operasi, seperti radang paru dan penggumpalan darah,” kata Paul Chand, Managing Director JCI Asia Pasifik. Di JCI, pengelolaan rasa sakit menjadi bagian integral dari proses akreditasi untuk keselamatan dan kualitas penanganan pasien.

Indikator utama

Rasa nyeri harus menjadi indikator utama seseorang membutuhkan penanganan medis. Penatalaksanaannya menjadi satu dari lima hal vital yang harus diukur pada penanganan pasien.

Untuk memperbaiki kualitas penanganan rasa nyeri dan pengelolaan rumah sakit, Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan JCI dan Pfizer Indonesia melakukan perbaikan kualitas manajemen di rumah sakit.

Penyedia jasa kesehatan dan rumah sakit lokal diperkenalkan protokol penanggulangan atau penatalaksanaan nyeri yang efektif. Selama ini, pemantauan kondisi medis dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan serta berbagai indikasi kondisi kesehatan vital, seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu tubuh.

Forum internasional JCI bertujuan menyarankan dokter untuk mengevaluasi dan memperbaiki prosedur penanganan penyakit serta penerapan standar internasional perawatan kesehatan di Indonesia.

Di Indonesia, JCI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan badan kesehatan publik mengevaluasi serta memperbaiki penanganan pasien, demikian kata Chairul Radjab Nasution, Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan. (YUN)

 


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui