Minggu, 26 Oktober 2014 11:20
Caring by Sharing | Kompas.com

4 Langkah Bangkit dari Perceraian

Penulis : Christina Andhika Setyanti | Rabu, 21 Maret 2012 | 08:57 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

KOMPAS.com - Tak ada satu pun pasangan yang menginginkan perceraian. Tak heran ketika perceraian harus terjadi, perempuan mengalami frustrasi. Akan tetapi, jangan biarkan frustrasi akibat perceraian ini membuat Anda terpuruk. Percayalah bahwa dengan kekuatan diri sendiri, Anda bisa bangkit tanpa harus bergantung pada orang lain, dan tidak takut menghadapi masa depan.

Salah satu tantangan terbesar yang harus dilalui dari suatu perceraian adalah berkomitmen untuk menjadi bahagia, dan melanjutkan kehidupan demi anak-anak. Menurut Alison Patton, konsultan dan mediator keluarga dalam artikelnya, What Smart Women Do After Divorce, ada beberapa tindakan yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan diri dan bangkit setelah perceraian:

1. Tidak merendahkan diri sendiri
Hindari mengasihani diri sendiri, bahkan ketika sedang mendengar omongan dari orang sekitar. Pada tahun pertama, wajar bila Anda masih memikirkan kerugian yang dialami, menangis, sakit hati, bahkan meratapi perceraian tersebut. Namun, hal ini tak boleh terus berlanjut. Berhentilah melihat diri Anda sebagai korban yang patut dikasihani, agar rasa sakit akibat perceraian tak terus melekat.

Hal ini memang tak mudah, dan perasaan negatif tak akan lenyap begitu saja. Namun putus asa dan tetap bersedih juga bukan jalan keluar yang baik. Lebih baik Anda curhat pada teman. Teman bisa jadi "pelampiasan" yang tepat, namun jangan jadikan mereka pendengar segala keluh-kesah Anda. Sebisa mungkin hindari bergabung dalam kelompok yang senasib, karena mereka akan membuat Anda lebih sulit untuk bangkit. Bergaullah dengan teman-teman yang tidak terpaku pada rasa sakit, melainkan pada optimisme pada masa depan.

"Manfaat tambahan dari langkah ini adalah Anda bisa menjadi panutan untuk anak-anak, terutama perempuan, bagaimana memulihkan diri dari krisis kehidupan," tukas Alison.

2. Menerima kenyataan

Salah satu hal yang paling terasa usai perceraian adalah berkurangnya pendapatan, sehingga Anda harus lebih ketat mengatur pengeluaran. "Jika biasanya Anda bergantung pada mantan suami untuk memenuni kebutuhan hidup, kini Anda harus mengatur keuangan Anda sendiri," sarannya.

Ketika menghadapi kenyataan ini, ada dua cara yang direkomendasikan Alison. Pertama, menerima kenyataan bahwa Anda harus mengubah gaya hidup Anda, dan kedua, mencari cara untuk meningkatkan pendapatan melalui pekerjaan tambahan, atau berwirausaha.

3. Menyusun rencana 10 tahun ke depan
Single mom umumnya akan mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Untuk menghindari kekhawatiran ini, sebaiknya rencanakan masa depan Anda dengan melakukan pengelolaan hingga 10 tahun ke depan. "Kita harus lebih bijaksana untuk menggunakan aset pribadi, dan fokus pada tujuan jangka panjang. Kurangi pengeluaran, tambah penghasilan, dan pikirkan tujuan jangka panjang untuk anak-anak," tukasnya.

4. Berkomitmen dan introspeksi
Perempuan yang cerdas mampu belajar dari kesalahan di masa lalu dan menyalurkan energi pasca perceraian untuk melanjutkan kehidupan. Anda harus mampu menentukan kembali prioritas hidup Anda. Saat menikah, identitas perempuan melekat pada diri suami. Contoh gampangnya, Anda lebih dikenal dengan sebutan Bu Aris misalnya (merujuk pada nama suami). Ketika bercerai, Anda tak bisa lagi memakai nama itu, sehingga merasa identitas Anda ikut hilang.

"Perempuan cerdas menggunakan perceraian sebagai kesempatan untuk tumbuh dan semakin menjadi pribadi yang matang. Mereka belajar dari kesalahan, mencurahkan waktu dan energi untuk menemukan siapa mereka, dan apa yang mereka inginkan untuk masa depan," ujarnya.

Proses ini memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Namun ketika berhasil melakukannya, Anda akan mampu tumbuh menjadi pribadi yang stabil, percaya diri, dan lebih bahagia.


Sumber :
Huffington Post
Editor :
Dini

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui