Sabtu, 5 September 2015

Health

Penyakit Jantung dan Diabetes Ancam Bayi Gemuk

Senin, 2 April 2012 | 15:04 WIB

KOMPAS.com - Bahaya kegemukan berlebih pada anak-anak terus dikaji. Dalam riset terbaru terungkap obesitas di usia dini akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes di kemudian hari, khususnya pada anak perempuan.

Dalam risetnya, peneliti melibatkan lebih dari 1.000 relawan asal Australia berusia 17 tahun, yang diikuti sejak lahir. Tujuannya adalah untuk menguji apakah berat lahir dan distribusi lemak tubuh pada anak usia dini dikaitkan dengan faktor risiko kesehatan masa depan seperti obesitas, resistensi insulin dan tekanan darah tinggi.

Temuan menunjukkan, bayi perempuan yang obesitas cenderung memiliki lingkar pinggang lebih besar, tinggi kadar insulin dan trigliserida (sejenis lemak yang ditemukan dalam darah), dan kadar Kolesterol baik "HDL" yang rendah.

Yang menarik, berat lahir dan distribusi lemak tubuh pada anak usia dini tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada pria.

"Apa yang terjadi pada bayi saat di dalam kandungan dapat mempengaruhi penyakit jantung dan risiko diabetes ketika anak tumbuh dewasa," kata pemimpin riset, Dr Rae-Chi Huang dari University of Western Australia, Perth, dalam sebuah rilis berita.

"Kami menemukan bahwa bayi perempuan sangat rentan terhadap risiko ini. Perempuan yang berisiko tinggi obesitas dan diabetes pada usia 17 tahun adalah mereka yang sudah mengalami obesitas sejak usia 12 bulan," kata Huang.

Huang mengatakan temuan ini penting karena ada peningkatan angka obesitas dan diabetes gestasional pada wanita hamil di negara-negara Barat. Hal ini berarti akan ada kenaikan jumlah bayi perempuan yang lahir dengan obesitas.

"Temuan kami dapat menjadi pesan bagi masyarakat khususnya untuk para ibu hamil agar melakukan langkah-langkah pencegahan obesitas pada anak mereka sejak tahap awal (masa kehamilan) dan mengetahui konsekuensinya," kata Huang.

Meskipun penelitian menunjukkan adanya hubungan antara obesitas pada usia dini dan peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung, tetapi hal ini tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: