Kamis, 26 April 2018

Health

Kanker Serviks, Ancaman Besar Bagi Perempuan

JAKARTA, KOMPAS.com- kanker serviks menjadi ancaman besar bagi perempuan. Kanker di leher rahim ini paling banyak diderita perempuan. Deteksi dini terhadap kanker rahim pun masih minim dilakukan perempuan.

Prihatin dengan tingginya kejadian kanker rahim di kalangan perempuan itu mendorong Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mencanangkan Gerakan Nasional Peduli dan Cegah kanker serviks berte patan dengan peringatan Hari Ulang Tahun YKI ke-35 yang jatuh pada 17 April 2012.

Fokus kegiatan tersebut adalah menggerakkan dan memotivasi masyarakat di seluruh Indonesia terutama di daerah tempat YKI Cabang telah terbentuk untuk sadar akan ancaman kanker leher rahim. Kegiatan antara lain penyuluhan kepada masyarakat dan deteksi dini melaui pemeriksaan Papsmear dan IVA di 68 cabang YKI.

Ketua Umum YKI Nina Moeloek mengatakan, kanker leher rahim, bersama dengan kanker payudara, menduduki peringkat teratas jenis kanker yang diderita perempuan.

YKI bekerja sama dengan Ikatan Ahli Patologi Anatomi Indonesia mengembangkan registrasi kanker berbasis data patologi anatomi yang didapat dari 13 RS di Indonesia dengan unit kanker. Berdasarkan pendataan tersebut tahun 2006, kanker leher rahim menduduki peringkat pertama yakni sebesar 16 persen dan kanker payudara sekitar 15 persen.

Sedangkan, menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2007, kan ker payudara menduduki peringkat pertama dengan 18 persen, diikuti kanker leher rahim sebesar 9 persen. YKI sendiri sedang mendata kembali mulai tahun 2007 hingga 2010, ujar Nila dalam jumpa pers terkait pencanangan gerakan itu.

Hal memprihatinkan ialah masih rendahnya kesadaran deteksi dini, sehingga pasien datang dalam kondisi lanjut. Deteksi dini kanker leher rahim dapat dengan metode papsmear atau IVA. Kedua metode itu mendeteksi keabnormalan di dalam leher rahim.

Cakupan nasional skirining dengan papsmear dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) baru sekitar 5 persen. Padahal, biaya IVA, misalnya, sangat murah. "Tanpa menghitung biaya tenaga kesehatan, biaya IVA itu hanya Rp 5.000," ujar Nina.

Sedangkan dengan metode papsmear yang menggunakan pemeriksaan mikroskopik biaya lebih besar sekitar Rp 400.000-Rp 700.000. Penanganan kanker lama, menimbulkan penderitaan yang besar, dan membutuhkan biaya sangat besar. Dengan deteksi dini, biaya dan penderitaan itu bisa jauh berkurang. "Penyakit juga lebih mudah ditangani dengan peluang keberhasilan lebih besar," ujar Nina.

Ke depan, Nina menyakini akan lebih banyak penderita kanker, termasuk kanker leher rahim, seiring dengan pertambahan penduduk. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, diperkirakan penderita kanker mencapai 75 juta dengan kematian sebanyak 17 juta orang pada tahun 2030. "Sekitar 70 persen penderita kanker itu hidup di negara berkembang," ujar Nina.

 

Editor : Marcus Suprihadi