Sabtu, 25 Oktober 2014 19:39
Caring by Sharing | Kompas.com

LIFESTYLE / SEKS - ARTIKEL

Seks yang Aman Setelah Serangan Jantung

Penulis : Bramirus Mikail | Senin, 14 Mei 2012 | 13:50 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

KOMPAS.com - Aktivitas seksual bukanlah larangan bagi mereka yang pernah terkena serangan jantung. Menurut para ahli, pasien yang aktif secara seksual sebelum menderita serangan jantung masih dapat melakukan hubungan seks dengan aman apabila menerima saran dan arahan yang benar dari tenaga medis (dokter) sebelum meninggalkan rumah sakit. 

Riset di Amerika Serikat menunjukkan, banyak pria dan wanita yang takut melakukan hubungan seks pascaserangan jantung. Sehingga tidak mengherankan bila frekuensi aktivitas seksual cenderung menurun tajam, terutama selama setahun setelah mengalami serangan jantung atau infark miokard akut (AMI).

Penelitian menunjukkan, banyak pasien yang mengaku tidak mendapatkan saran atau nasihat medis mengenai akitivitas seks dari dokter sebelum pulang dari rumah sakit. Alhasil, mereka pun ragu apakah perlu menahan diri untuk tidak dulu melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Dalam sebuah survei terhadap 1.879 pasien serangan jantung, kurang dari 50 persen pasien pria dan sepertiga pasien wanita yang mengaku mendapat instruksi dari dokter tentang kapan mereka dapat melanjutkan aktivitas seksual sepulangnya dari rumah sakit. Bahkan, hanya 41 persen pria dan 24 persen wanita pasien yang melaporkan pernah berdiskusi dengan dokter tentang seks setelah mengalami serangan jantung.

Setahun  pascaserangan jantung, lebih dari dua pertiga pasien pria melakukan aktivitas seksual, dan sekitar 40 persen wanita kembali melakukan hubungan seks. Pasien wanita tercatat lebih sering ketimbang pria melaporkan kehilangan aktivitas seksual setahun pascaserangan jantung jika tidak mendapatkan informasi tentang kapan mereka dapat kembali berhubungan seks.

Hasil dari penelitian yang diterbitkan dalam The American Journal of Cardiology ini sejalan dengan temuan awal yang disajikan pada konferensi American Heart Association (AHA) pada tahun 2010. Penulis, Stacy Tessler Lindau, MD, associate professor kebidanan dan ginekologi di University of Chicago Medicine mengatakan, penelitian ini menggarisbawahi bahwa dokter perlu untuk mengatasi problem seksual sebagai bagian penting dari fungsi fisik secara keseluruhan, bahkan setelah peristiwa yang mengancam jiwa seperti serangan jantung.

"Dokter perlu memahami secara signifikan bagaimana cara membantu pasien serangan jantung untuk menghindari rasa takut dan tidak perlu khawatir tentang risiko kambuh atau bahkan kematian akibat kembali ke aktivitas seksual," kata Lindau.

"Para ahli jantung harus mengetahui lebih rinci tentang kondisi pasien mereka dengan memberi perawatan dan saran tentang keamanan dalam melakukan aktivitas fisik, termasuk hubungan seks," jelasnya,

Beberapa studi menunjukkan, melakukan hubungan seks justru dapat mengurangi ketegangan pada jantung, dan hal ini bertolak belakang dengan pemahaman publik selama ini. Informasi yang dramatis dan berita sensasional diduga semakin memperkuat kesalahpahaman masyarakat. Pada kenyataannya, hanya sekitar 1 persen dari semua serangan jantung terjadi saat berhubungan seks, dan kurang dari 1 persen korban serangan jantung meninggal karena hubungan seksual, menurut penelitian lainnya.

"Kami menunjukkan bahwa mengatasi kesehatan seksual dapat membuat perbedaan untuk hasil jangka panjang," kata penulis studi, Harlan Krumholz, MD, profesor kedokteran dan epidemiologi dan kesehatan masyarakat di Yale University School of Medicine.

Pedoman saat ini dikembangkan oleh kelompok ahli jantung terkemuka, termasuk Krumholz, menyatakan bahwa pasien jantung yang kondisinya stabil tanpa komplikasi dapat melanjutkan aktivitas seksual dengan pasangan mereka. Laporan ini semakin diperkuat aturan lama yang menyatakan, apabila pasien dapat melakukan olahraga ringan - seperti menaiki tangga - mereka umumnya cukup sehat untuk melakukan hubungan seks.



Sumber :
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui