Kamis, 23 Oktober 2014 06:05
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Benarkah Dokter Sulit Pahami Psikosomatik ?

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Senin, 14 Mei 2012 | 14:41 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com - Selama 4 tahun berkecimpung di bidang psikosomatik medis, saya lebih banyak dikunjungi pasien dari hasil pencarian pasien sendiri akan kondisinya di berbagai website dan tulisan yang saya buat. Kebanyakan dari pasien datang karena melihat tulisan saya di blogspot, kaskus, kompasiana, kompas.com, detik.com atau kolom konsultasi di kompas.com.

Rata-rata, mereka baru merasakan adanya kepentingan untuk bertemu psikiater setelah membaca tulisan saya itu. Walaupun tidak semua pembaca bisa datang ke klinik saya, tetapi dalam email yang mereka kirim, mereka meminta saran psikiater mana di daerah mereka yang bisa dikunjungi. Ketika bertemu secara langsung dengan pasien-pasien ini, sebenarnya mereka sudah pernah melakukan kunjungan ke berbagai dokter baik umum maupun spesialis.

Namun sedikit sekali di antara para dokter ini yang pernah menyarankan pasiennya ke psikiater. Biasanya, pasien malah akhirnya datang ke psikiater karena keinginan sendiri. Lucunya, dulu ada pasien yang mengatakan kalau dokternya malah melarang dia berobat ke psikiater. Saya mencoba menelaah beberapa kasus yang menyebabkan dokter ternyata tidak mudah mengkonsulkan pasiennya ke psikiater. Poin-poin di bawah ini mungkin tidak berlaku sama, namun tentunya ini adalah hal-hal yang terlihat dalam praktek sehari-hari.

A. Stigma

Profesi psikiater dan ranah kesehatan jiwa memang diliputi stigma. Stigma gila dan tidak waras adalah stigma umum yang melekat pada diri masyarakat akan profesi ini. Sayangnya, ternyata banyak juga dokter yang berpendapat serupa. Stigma ini yang membuat para profesional di bidang medis ini juga masih "was-was" jika harus merujuk pasiennya ke psikiater.

Walaupun sama-sama penyakit medis, penyakit jiwa ditempatkan oleh para sejawat ini kadang di luar konteks medis sehingga ada perasaan tidak nyaman jika harus mengatakan itu ke pasien. Beberapa dokter senior bidang spesialisasi lain yang saya tanya mengatakan memang mereka takut membuat pasien tersinggung jika mengatakan harus berkonsultasi ke psikiater.

B. Pendirikan tak mendukung

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bagian Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di Fakultas Kedokteran adalah bukan bagian favorit. Banyak cerita di seputar mahasiswa kedokteran yang berkembang bahwa mereka tidak nyaman jika harus stage di bagian ini. Pelajarannya pun dikatakan abstrak dan tidak jelas. Belum lagi ketakutan karena harus bergaul dengan pasien gangguan jiwa berat ketika stage saat mereka koasisisten (sebagai dokter muda).

Hal ini sebenarnya berakar dari kurangnya minat para mahasiswa ini di bidang ilmu jiwa. Ilmu jiwa ditempatkan sebagai ilmu di luar medis yang membuat kesan dokter yang bergerak di bidang ini berbeda dari dokter pada umumnya. Jika mahasiswa ada yang tertarik di bidang ilmu jiwa, malah ada temannya yang meledek kenapa bisa menyukai ilmu ini.

Saya saja ketika di tahap 2 kuliah di FKUI menyatakan keinginan saya menjadi psikiater, banyak teman yang bertanya-tanya mengapa saya memilih bidang ini. Hal ini tentunya akan terbawa sampai mahasiswa dan dokter muda ini menjadi dokter umum dan spesialis. Kesan bahwa ilmu jiwa tidak medis, tidak ilmiah dan identik dengan kegilaan adalah sesuatu yang terus melekat.

Apalagi sistem pendidikan kedokteran yang kebanyakan menempatkan stage mahasiswa dan koas dokter muda dengan pasien skizofrenia dan gangguan jiwa berat lain. Hampir jarang mereka bertemu dengan pasien gangguan jiwa lain seperti insomnia, gangguan kecemasan, gangguan depresi, gejala-gejala psikosomatik atau pasien medis umum yang mengalami gangguan jiwa. Apalagi menghadapi pasien psikosomatik yang lebih mengedepankan gejala fisik.

C. Kurang paham ilmu

Stage yang singkat di bagian ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) dan kurangnya minat para calon dokter mempelajari ilmu psikiatri serta pelajaran yang mungkin dianggap tidak menarik membuat pemahaman mahasiswa dan koas dokter muda tentang psikiatri sangat sempit. Psikiatri adalah gila atau skizofrenia adalah hal-hal yang diingat oleh para calon dokter ini. Perkembangan ilmu kedokteran psikiatri baik ke arah perkembangan untuk pencegahan, penanganan dan rehabilitasi sekiranya hanya lewat kuping kanan dan keluar kuping kiri, tidak mengendap.

Itulah sebab mengapa ketika saya berbicara tentang gangguan psikosomatik dan pemahaman mekanisme biologis serta keterlibatan sistem otak, banyak dokter yang masih bingung ataupun baru menyadari bahwa ternyata kondisi gangguan jiwa seperti psikosomatik, cemas atau depresi bisa diterangkan dengan berbagai macam ilmu kedokteran.

Bukan abstrak seperti apa yang mereka kira selama ini. Ke depan saya berharap upaya promosi kesehatan jiwa khususnya di bidang psikosomatik akan semakin gencar dilakukan oleh berbagai macam praktisi kesehatan jiwa. Pasien gangguan jiwa tidak hanya melulu skizofrenia yang menurut  riskesdas 2007 hanya berkisar 0.7% sedangkan pasien-pasien gangguan jiwa yang lain seperti depresi, cemas, psikosomatik melebihi angka 10-20% kejadiannya di populasi.

Semoga tercapai

Salam Sehat Jiwa


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui