Jumat, 3 Juli 2015

Health

Tidur Ngorok Berisiko Kanker

Selasa, 22 Mei 2012 | 11:07 WIB

KOMPAS.com - Dua penelitian terbaru di luar negeri mengindikasikan, mereka yang mengalami sleep apnea memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker. Sleep apnea adalah henti nafas saat tidur yang ditandai dengan mendengkur dan rasa kantuk berlebihan.

Temuan ini rencananya akan dipresentasikan dalam konferensi American Thoracic Society, di San Francisco. Para ilmuwan menyebut, temuan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan, sebagaimana dilaporkan New York Times.

Para ilmuwan mencatat, sleep apnea adalah gangguan tidur yang kini diderita oleh hampir 28 juta orang di Amerika Serikat. Kurangnya pasokan oksigen ke otak dan organ lainnya pada saat tidur diduga dapat memicu perkembangan tumor.

Studi pertama, yang dilakukan para ahli di University of Wisconsin School of Medicine and Public Health selama lebih dari 22 tahun, menemukan bahwa gangguan pernapasan yang parah pada malam hari meningkatkan kemungkinan kematian akibat kanker sebesar 4,8 kali, ketimbang orang yang tidak punya masalah pernapasan. Orang dengan apnea pada tingat yang moderat ditemukan memiliki risiko kematian dua kali lipat lebih tinggi.

Sedangkan studi lainnya dari Spanish Sleep Network di Spanyol menilai bahwa kejadian kanker lebih tinggi pada orang yang mengalami sleep apnea. Dalam kajiannya, peneliti melibatkan 5.200 orang, yang diamati selama sekitar tujuh tahun.

Penelitian ini melacak deplesi oksigen pada orang dengan gangguan tidur atau sleep apnea. Hasil menunjukkan, orang yang kadar oksigennya turun di bawah 90 persen, hingga 12 persen dari total waktu tidur, memiliki kemungkinan 68 persen lebih besar terkena kanker, dibanding orang yang tidak memiliki kesulitan bernafas pada malam hari.

Sleep apnea secara luas juga dipahami berhubungan dengan masalah obesitas, diabetes, hipertensi, serangan jantung, dan stroke - kondisi yang juga berhubungan dengan kanker.

Editor : Asep Candra
Sumber: