Kamis, 23 Oktober 2014 06:55
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *


Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Mendengkur dan Kanker

Penulis : Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Rabu, 23 Mei 2012 | 08:34 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

KOMPAS.com - Dua penelitian telah mengungkapkan fakta baru tentang bahaya mendengkur bagi kesehatan. Tidak main-main, mendengkur dan kantuk berlebihan yang menjadi tanda dari sleep apnea, didapati meningkatkan resiko seseorang untuk terserang kanker.

Jika penelitian terdahulu melihat hubungan sleep apnea dengan kanker pada tikus, kedua penelitian ini adalah yang pertama meneliti hubungan kanker dan sleep apnea pada manusia. Sebuah terobosan baru yang sayang jika kita abaikan begitu saja.

Sleep apnea yang artinya henti nafas saat tidur, terjadi sebagai akibat sempitnya saluran nafas atas yang melemas. Saluran nafas akan tersumbat mengakibatkan sesak yang tak disadari dalam tidur. Penderitanya tampak mendengkur biasa, diikuti episode sunyi dengan gerakan nafas dalam, lalu seolah tersedak dan mendengkur lagi. Walau penderita tampak sesak dalam tidur, ia sama sekali tak menyadarinya jika tak diingatkan oleh orang lain. Kadar oksigen dalam darah pun akan naik turun sepanjang malam.

Di Amerika, penderita sleep apnea mencapai 28 juta jiwa, sementara di Indonesia masih belum diketahui. Namun diduga penderitanya juga tidak sedikit. Lihat saja di sekeliling kita, rekan atau kerabat, pasti ada yang mendengkur. Bagi seorang dokter ahli kesehatan tidur, sleep apnea bukanlah gangguan tidur yang sepele. Sleep apnea telah diketahui berakibat langsung pada hipertensi, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta mengakibatkan penyakit diabetes, stroke dan impotensi. Belum lagi akibatnya pada kualitas hidup yang disebabkan oleh hipersomnia atau kantuk berlebihan.

Penelitian

Para peneliti Spanyol mengikuti 5.200 pasien klinik gangguan tidur selama 7 tahun dan mendapati bahwa penderita sleep apnea yang parah punya risiko 65% lebih besar untuk terkena kanker. Sementara di Wisconsin, Amerika, peneliti mengikuti 1.500 pegawai negeri, dan mendapatkan bahwa mereka yang mengalami gangguan nafas parah selama tidur mempunyai risiko kematian akibat kanker lima kali lipat dibanding mereka yang normal. Kedua kelompok penelitian ini tidak berfokus pada jenis kanker tertentu.

Peneliti Spanyol melihat kejadian kanker diantara penderita sleep apnea. Mereka menilai berapa kali kadar oksigen darah turun selama tidur, lalu membandingkannya dengan angka kejadian kanker. Di awal penelitian penderita sleep apnea ini tak ada yang terdiagnosa dengan kanker. Setelah diikuti selama tujuh tahun, mereka yang terdiagnosa dengan kanker dilihat kembali angka penurunan oksigennya. Hasilnya semakin parah angka penurunan oksigen, semakin besar pula kemungkinannya menderita kanker di masa depan. Mereka yang oksigennya turun di bawah 90% (batas normal kadar oksigen saat tidur) punya risiko 68% lebih besar untuk menderita kanker dibanding mereka yang normal kadar oksigennya selama tidur. Semakin sering penurunan kadar oksigen, semakin besar pula risiko kankernya.

Penelitian di Wisconsin, AS melihat data kesehatan pegawai negeri sejak tahun 1989 dan merupakan salah satu proyek terbesar tentang sleep apnea pada populasi luas. Semua peserta telah menjalani pemeriksaan tidur menggunakan polisomnografi. Namun penelitian ini lebih berfokus pada angka kematian akibat kanker pada penderita sleep apnea. Didapati bahwa penderita sleep apnea sedang mempunyai risiko mengalami akibat kanker dua kali lipat, dibandingkan mereka yang sehat. Sementara penderita sleep apnea yang parah risikonya meningkat hingga 4,8 kali!

Kedua penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan the American Thoracic Society ini membuka cakrawala baru hubungan tidur dengan kesehatan. Namun para peneliti juga menekankan perlunya penelitian-penelitian baru yang lebih mencerahkan.

Mekanisme mendengkur dan kanker

Untuk memahami mekanisme hubungan kanker dengan mendengkur, kita bisa melihat penelitian terdahulu pada tikus. Tikus-tikus diuji dengan meniru kondisi kekurangan oksigen berulang selama tidur, sama seperti yang terjadi pada penderita sleep apnea. Akibatnya sel tumor akan bertumbuh jauh lebih cepat dibanding tikus dengan kadar oksigen normal. Para ahli berspekulasi bahwa kekurangan oksigen akan memicu tubuh berusaha kompensasi dengan cara mengembangkan lebih banyak pembuluh darah. Sebuah tindakan yang seolah berfungsi sebagai pupuk bagi pertumbuhan sel tumor atau kanker.

Pada manusia, diduga mekanisme yang sama terjadi. Kadar oksigen penderita sleep apnea akan menurun berulang kali akibat penyumbatan saluran nafas yang terjadi selama tidur. Penderita sleep apnea, jika dilakukan pemeriksaan tidur akan dihitung derajat keparahannya dari jumlah henti nafas yang dialami setiap jamnya. Setiap kali nafas terhenti, oksigen akan langsung drop. Semakin sering henti nafas, semakin sering juga kadar oksigen menurun.

Perawatan

Perawatan sleep apnea dimulai dari diagnosa lewat pemeriksaan di laboratorium tidur. Hanya dengan pemeriksaan tidur yang seksama, perawatan yang tepat dapat diberikan. Disayangkan di Indonesia diagnosa dan perawatan sleep apnea masih kurang diperhatikan. Padahal akibatnya begitu serius, bahkan fatal.

Perawatan sleep apnea terbaik adalah dengan menggunakan Continuous Positive Airway Pressure, CPAP. Sebuah alat yang dihubungkan lewat masker hidung, yang meniupkan tekanan positif untuk mengganjal saluran nafas agar tetap terbuka selama tidur. Dengan penggunaan CPAP, terbukti memperbaiki kadar oksigen dalam darah hingga memperbaiki tekanan darah, kadar gula darah dan kondisi kesehatan jantung. Sedangkan penggunaannya pada penderita kanker yang mendengkur masih perlu dibuktikan. Tetapi kita duga, tentu dapat memberikan efek yang positif juga.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui