Sabtu, 22 November 2014 19:56

Bernostalgia di Malang Tempo Doeloe dengan Gulali

Penulis : Kontributor Malang, Yatimul Ainun | Minggu, 27 Mei 2012 | 11:03 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS.com/Yatimul Ainun
Salah satu penjual gulali di Festival Malang Tempo Doeloe (MTD), di Jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (27/5/2012), dikerumuni pembeli. Dengan menikmati gulali, para pengunjung MDT bisa bernostalgia, cerita kehidupan masa kecilnya.

MALANG,KOMPAS.com - Festival Malang Tempo Doeloe (MTD), agenda tahunan khas Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Jawa Timur, tak hanya isi dengan aneka macam dagangan tempo dulu seperti baju, dan barang antik lainnya, yang ada sejak zaman kolonial. Namun yang juga menjadi ciri khas MTD, hampir setiap pengunjung, saat keliling area MTD, sembari menikmati gulali.

Sejak MTD dibuka, pada 24 Mei lalu, puluhan penjual gulali mewarnai pemandangan MTD. Para penjual gulali, terlihat mayoritas dari kalangan orang tua. Penjual memang tak memiliki stan khusus untuk gulali. Namun, para penjual mangkal di depan beberapa stan mewah. Maklum, harga stan untuk di arena dalam sepanjang Jalan Ijen, rata-rata diatas Rp 1 juta.

"Kalau cuma jual gulali sewa stan, tak nutut labanya. Bisanya hanya nempel di depan stan. Ada yang jual keliling. Tapi resmi," kata Misnari, salah satu penjual gulali keliling di Area MTD.

Namun, walau tak memiliki stan khusus untuk menjual gulali, penganan yang terbuat dari gula itu laris manis, dibeli para pengunjung yang datang ke MTD. "Gulali yang dijual disini, bukan gulali yang dibuat dengan mesin modern. Tapi murni dimasak dengan menggunakan wajan besar. Bukan dari gula pasir, tapi dibuat dari bahan dasar gula pasir. Yakni tebu. Itu khas gulali Malang, yang terbuat dair tebu," katanya.

Gulali adalah makanan serba gula, yang mengingatkan kita pada masa kanak-kanak. Gulali lebih mirip lolipop, meski tentu dengan rasa yang berbeda. Gulali 100 persen terbuat dari gula pasir yang dilelehkan dalam wajan besar dan kemudian dijual menggunakan wajan kecil, dibawa berkeliling dengan pikulan.

Di wilayah Malang, terutama di Kabupaten Malang, yang mayoritas masyarakatnya bertani tebu, gulali, sudah ada sebelum tahun 1940. Gulali dikelola secara modern, dengan menggunakan mesin, pertama kali diperkenalkan pada 1904 oleh William Morrison dan John C Wharton, di St. Louis World's Fair dengan nama "Fairy Floss" (benang peri).

Namun, gulali yang dijual di MTD, masih tradisional. Gulali masih di dalam wajan. Setiap pembeli diambilkan langsung oleh si penjual di kendi berukuran besar dengan menggunakan bambu yang sudah dipotong-potong, layaknya tusuk sate. Kalau tak ada Festival MTD, gulali yang diproduksi secara tradisional sudah jarang ditemukan di Malang.

"Saat ini sudah jarang dijual di tempat umum. beda dengan zaman dulu. Makanya gulali boleh dijual di MTD, karena masuk makanan khas zaman dulu," katanya.

Sementara itu, Misiyan (70), tampak sibur malayani pembeli gulal yang dijualnya. Kepada Kompas.com, ia mengaku sejak MTD dibuka, barang jualannya sudah laris manis. "Saya sudah 4 tahun jualan gulali di MTD ini. Memang laris," katanya ditemui Minggu (27/5/2012).

Harga gulali, murah meriah. Punya uang Rp 1.000 sudah bisa makan gulali. "Harganya tergantung pembelinya. Mulai harga Rp 1.000 hingga Rp 3.000. Kalau Rp 2.000 lebih banyak," katanya.

Misiyan mengaku, dalam sehari, dirinya harus menyediakan tiga wajan besar. "Masaknya malam hari di rumah. Pagi sudah dibawa kesini untuk dijual. Enak sambil jalan-jalan makan gulali," katanya bernada promosi.

Dalam sehari semalam, Misiyan mengaku, mampu meraup hasil Rp 500.000. "Kalau modalnya tak terlalu mahal. Satu wajan paling hanya Rp 250.000. Hasilnya bisa sampai Rp 250.000 juga," akunya.

Sementara, Faizatul Hamidiyah, bersama tiga temannya, serentak beli gulali. "Gulali mengingatkan kita masih kecil. Makan gulali, bisa bernostalgia. Sambil jalan-jalan di Malang Tempo Dulu," ujarnya.

Saat makan gulali, katanya, bisa cerita masa lalu bersama teman-teman masa kecil, sambil jalan-jalan di MTD. "Selain itu, gulali juga enak dan murah," katanya.

Hingga penyelenggaraan MTD ketujuh kalinya, gulali masih setia mewarnai festival MTD. Bernostalgia bersama gulali sembari menikmati suasana tempo dulu di MTD akan berakhir 27 Mei 2012.


Editor :
I Made Asdhiana

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui