Sabtu, 25 Oktober 2014 12:35
Caring by Sharing | Kompas.com

LIFESTYLE / FITNES - ARTIKEL

Minim Persiapan Berisiko Cedera

Senin, 28 Mei 2012 | 09:20 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Jakarta, Kompas - Kurangnya persiapan yang benar sebelum berolahraga bisa mengakibatkan cedera. Cedera yang terjadi bisa sangat berat, dari otot robek, patah tulang, hingga kefatalan. Padahal, dengan pemanasan dan peregangan, cedera olahraga dapat dihindari.

Hal itu disampaikan dokter spesialis kesehatan olahraga, Hario Tilarso, dalam Simposium Penatalaksanaan Terkini Cedera Olahraga dengan Bedah Minimal Invasif di Serang, Banten, Sabtu (26/5). Dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia Banten dengan Rumah Sakit Premiere Bintaro, dokter spesialis ortopedi Sapto Adji serta dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi Alex Saefullah sebagai pembicara. Hario mengatakan, masyarakat banyak yang tidak tahu persiapan yang harus dilakukan sebelum olahraga dan bagaimana olahraga dilakukan agar terhindar dari cedera.

Masyarakat kerap mengabaikan pemanasan dan peregangan. Padahal, melalui pemanasan dan peregangan selama 5 menit- 10 menit sebelum olahraga, otot disiapkan untuk aktivitas lebih berat.

Hario menyebutkan, ada beberapa cedera yang bisa terjadi jika seseorang berolahraga secara kurang tepat. Cedera itu antara lain jaringan ikat (ligamen) robek, otot robek, urat putus, lebam karena benturan, patah tulang, ataupun tulang bergeser.

Jaga denyut jantung

Dalam berolahraga disarankan agar tidak terlalu kelelahan. Patokan yang dapat diterapkan untuk mengetahui kelelahan atau tidak adalah menghitung denyut nadi.

”Denyut jantung kita selama berolahraga tidak boleh lebih dari 70-80 persen dari denyut nadi maksimal. Adapun denyut nadi maksimal dihitung dengan rumus 220 dikurangi usia kita. Kalau lebih dari itu, kita bisa pingsan,” kata Hario.

Bagi mereka yang terganggu kesehatannya, denyut jantung berlebihan bisa memicu stroke ataupun serangan jantung.

Sapto Adji menambahkan, pasien yang berobat ke klinik olahraga kebanyakan adalah masyarakat umum, bukan atlet yang frekuensi olahraganya tinggi.

”Bagian tubuh yang cedera mayoritas bagian tubuh bawah, seperti lutut dan engkel. Banyak pasien yang cedera akibat bermain futsal. Kebanyakan cedera memang terjadi pada olahraga permainan,” kata Sapto Adji.

Penanganan cedera

Sapto Adji menambahkan, penanganan cedera olahraga, seperti putusnya jaringan ikat pada lutut yang bisa terjadi pada pemain sepak bola, dapat dilakukan dengan bedah invasif minimum. ”Sumber daya dokter dan fasilitas medis untuk tindakan ini di Indonesia sudah cukup baik,” katanya.

Akan tetapi, tidak adanya subsidi untuk peralatan bedah dari pemerintah membuat biaya operasi menjadi sangat mahal.

Untuk penanganan dini cedera bisa dilakukan dengan menerapkan prinsip RICE, yakni istirahatkan bagian yang cedera (rest), dikompres dengan es (ice), bebat menggunakan perban elastis dengan sedikit ditekan (compress), dan menempatkan bagian yang luka lebih tinggi dari tubuh (elevation). (adh)

 


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui