Sabtu, 1 November 2014 04:26

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL


Percaya Vs Paranoid

Selasa, 12 Juni 2012 | 15:40 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Orang tua bertengkar, anak jadi korban

KOMPAS.com - Ada suatu kasus, seorang klien kami sudah habis kepercayaannya pada sang suami. Sudah dua kali dia menemukan suaminya  menyeleweng. Dia memutuskan menceraikan suaminya. Mereka benar-benar bercerai. Sementara ada kasus lain, di mana seorang istri, meski sang suami ketahuan belasan kali menyeleweng namun memilih tetap memaafkan dan memberi sang suami "kesempatan kedua". Setelah sempat pisah ranjang selama beberapa tahun kini Sekarang pernikahan mereka oke dan bertumbuh lebih baik.

Apa yang membedakan klien satu dengan kedua?

Tentu masalah di atas bisa kita bahas dari pelbagai sisi. Tapi ijinkan saya menulis dari sudut rasa percaya (trust)

Salah satu kebutuhan emosi manusia adalah rasa percaya. Mempercayai dan dipercayai, baik individu maupun kelompok. Rasa percaya terbentuk oleh pengalaman positif sejak balita, bahkan sejak dalam kandungan. Rasa percaya kepada  ortu terbentuk karena mendapatkan pengasuhan yang baik dari ayah dan ibu.

Dipeluk, diberi makanan, waktu, perlindungan, rasa  aman dan perhatian yang cukup. Maka jangan heran, saat seorang anak diletakkan di sebuah meja tinggi diminta melompat oleh ayah atau ibunya, dia berani melompat. Karena percaya pada orang tuanya.

Perasaan dekat, rindu dan suka bersama Ibu juga menunjukkan rasa percaya dan aman bersama sang Ibu. Bahkan di tengah kegelapan malam sekalipun. James Fowler menamakan ini dengan "iman kodrati".

Beda dengan anak yang diabaikan, kurang kasih, perhatian dan waktu, apalagi mendapat kekerasan. Mereka tumbuh dengan perasaan tidak aman. Sulit mempercayai seseorang yang baru. Hingga akhirnya berdampak dalam hubungannya dengan Tuhan. Tidak mudah percaya.

Bagi James Fowler, Jika iman kodrati si anak  baik, maka dia lebih mudah dalam membangun "iman adikodrati", yakni iman kepada Tuhan, dan mudah membangun trust dalam relasi dengan orang terdekat.

Tetapi, jika iman kodratinya buruk, bisa mengganggu pengenalan dan kepercayaannya kepada Tuhan. Tumbuh dengan rasa curiga yang tinggi hingga mengidap paranoid.

Jangan heran, banyak orang setelah dewasa sulit percaya Tuhan. Jika individu menjadi kaya dia cenderung angkuh dan mengandalkan diri sendiri. Jika hidupnya sulit, cenderung melakukan kejahatan apakah korupsi, mencuri hingga berbuat kejahatan lainnya terhadap sesama. Intinya tidak takut akan Tuhan.

Sakitnya tidak dipercaya

Tidak dipercaya itu menyakitkan. Setiap kita senang jika dipercaya. Namun kadang kepercayaan orang menurun tatkala menjumpai sahabat atau ortunya berbohong.

Ada satu cerita, tentang seorang pemuda yang kos di sebuah pinggiran kota dekat sebuah perkebunan sawit. Pemuda ini suka bercanda  dan berbohong. Pemuda ini suka menakut-nakuti temannya di kos. Kadang dia bilang ada ular. Kadang berteriak ada tikus. Semua dengan tujuan menakuti dan bercanda. Namun lama kelamaaan temannya tidak percaya kepada teriakannya. Hingga suatu hari, dia berteriak dengan temannya ada ular besar masuk kamarnya. Tak seorangpun datang ke kamarnya. Si pemuda tadi terluka parah karena dipagut ular.

Demikian hidup kita. Jika kita banyak berbohong, teman, orangtua atau pimpinan kita akan sulit percaya. Akan sangat menyakitkan ketika kita bicara sesuatu yang benar, tetapi tidak dipercayai. Tetapi itu buah dari sikap dan perilaku kita yang sering berbohong.

Dari mana sifat bohong ini.  Mungkin anda dibesarkan ortu yang kerap berbohong. Atau sisa dari pengalaman masa kecil. Kita dibesarkan ayah atau Ibu yang tiran dan otoriter. Untuk menghindarkan kemarahan dan kekerasan ortu kita berbohong. Jika ini sudah menjadi habit kita akan mengalami kesultan sendiri mengatasinya di masa dewasa. Jika seorang anak dibesarkan dengan banyak contoh kebohongan, jangan heran besarnya punya kecenderungan suka berbohong.

Dari catatan ini, penulis menegaskan bahwa sikap jujur dan dapat dipercaya pertama-tama dibangun dari keluarga.  Kasih sayang dan disiplin orangtua menjadi dasar. Ayah dan Ibu merupakan  pendidik  utama dan perdana membangun insan yang takut akan Tuhan, jujur dan bertanggungjawab.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui