Rabu, 17 September 2014 10:30

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Husni Mubarak Zainal


Dr Husni Mubarak Zainal, 27, adalah seorang dokter dari Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Sebelum bergabung dengan Medecins Sans Frontieres (MSF), sebuah organisasi kemanusiaan internasional, ia bekerja di beberapa organisasi di Indonesia dan sebagai penyiar radio. Saat ini, Husni dalam misi pertamanya bersama MSF membantu para pengidap HIV-AIDS di Malawi. Untuk informasi lebih lanjut kegiatan MSF, kunjungi www.msf.org.hk

"Zikomo Kwambiri" dari Pasien HIV Positif Pertamaku

Penulis : Dr. Husni Mubarak Zainal | Kamis, 14 Juni 2012 | 14:30 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
msf.org.hk

KOMPAS.com - Desa Thekerani adalah sebuah desa terpencil di Malawi, salah satu negara paling tertinggal di kawasan Afrika Selatan. Desa ini akan menjadi rumahku selama sembilan bulan ke depan. Namun, tidak  mudah untuk sampai kemari.

Aku berhasil memasukan selang IV ke tubuh pasien HIV pertamaku, pasien Afrika pertamaku. Tak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya aku saat itu.

Setelah tiba di Lilongwe, ibukota Malawi, kami masih harus melanjutkan perjalanan selama 6 jam dengan mobil menuju Thyolo Boma di distrik Tyolo, tempat di mana kantor proyek Médecins Sans Frontières (MSF), atau Dokter Lintas Batas, berada.

“Inikah tempat yang kutuju?” tanyaku pada diri sendiri setelah perjalanan panjang dan cukup melelahkan menuju kantor MSF. Ternyata bukan. Aku masih harus bertahan selama tiga jam lagi menempuh jalan bergelombang dan berlumpur dari Thyolo menuju lokasi pusat kesehatan tempatku ditugaskan di Thekerani, dimana para pasien sudah menunggu kedatanganku – dokter mereka – untuk memberikan pengobatan.

Beberapa jam berlalu dan akhirnya kami tiba di sebuah desa kecil di selatan Malawi yang secara harafiah dikelilingi semak-semak. Ini mungkin salah satu tempat di dunia yang bahkan tak bisa ditemukan dalam peta canggih buatan Google sekalipun.  Kabut tebal menyelimuti sore itu dan aku hampir tak bisa melihat apa-apa ketika mobil mulai bergerak pelan. Berangsur-angsur, benda-benda di sekeliling kami mulai terlihat. Perlahan, aku lalu melihat sebuah bangunan sederhana yang terbuat batu bata. Itulah dia, Pusat Kesehatan Thekerani yang kutuju! 

Ini merupakan tugas lapangan pertamaku bersama MSF. Aku berasal dari sebuah daerah antah berantah di Indonesia, dan sekarang aku berada di sebuah daerah entah dimana di keluasan benua Afrika untuk pertama kalinya dalam hidupku. Ketika memutuskan untuk menerima tugas kemanusiaan pertama bersama MSF, aku sangat senang dan bersemangat. Namun begitu menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di pusat kesehatan ini, perasaanku jadi tak menentu; bercampur aduk.

Aku disambut oleh lebih 200 pasang mata, semuanya menatapku. Mereka adalah pasien-pasienku, pikirku dalam hati. Sebagai orang baru di benua Afrika, orang baru di Malawi, orang baru di tengah-tengah budaya mereka yang beragam, aku menatap balik mereka dengan rasa ingin tahu, dan aku melihat kilauan harapan di mata mereka. 

Sebagai seorang dokter, sayangnya aku tidak memiliki pengalaman sebelumnya bekerja dalam kasus yang berkaitan langsung dengan HIV/AIDS. Aku memang sudah membaca, mempelajari dan menghadiri berbagai pelatihan mengenai HIV/AIDS, namun aku belum pernah menanangani satu orang pun pasien HIV.  Hal itu jelas membuatku merasa kurang percaya diri. Aku takut kalau-kalau aku tak bisa memenuhi apa yang menjadi harapan pasien.

“Bagaimana jika aku lupa sesuatu…bagaimana jika aku memberikan diagnosa yang salah?” pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku begitu menginjakkak kaki untuk pertama kalinya di ruang konsultasi.

Hening beberapa saat, hingga kemudian seseorang mengetuk pintu. Ternyata asistenku, seorang staf dari Kementrian Kesehatan Malawi, yang akan menjadi mitra kerjaku selama beberapa bulan ke depan.  Dia memperkenalkan dirinya dan memintaku untuk datang ke ruangannya.  Di sana, pasien pertamaku sudah menunggu. Aku merasa jantungku seolah berhenti berdetak.

Seorang ibu duduk sambil mendekap bayinya. Dia tampak lelah dan airmatanya terus berlinang.  Asisten tadi memberikan penjelasan singkat tentang kasus yang dihadapi pasien tersebut.

“Bayi ini menderita diare sejak empat hari yang lalu. Dia pasien HIV kita yang juga sedang menjalani perawatan tindak lanjut malnutrisi. Kami sudah mencoba menstabilkan dan menyisipkan selang intravena (IV) tapi kami gagal memasukkan selang hampa karena pembuluh darahnya sudah pecah.”

Aku menatap bayi itu. Badannya begitu mungil, mata cekung dan dengan kulit yang sangat kering. Matanya terpejam namun mulutnya terbuka seolah mencoba mendapatkan sebanyak mungkin oksigen yang ia bisa. Aku mendekati Ibu dan bayi itu untuk memperkenalkan diri. Kupegang tangan mungilnya yang dingin. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati; dia sekarat.

Dari luka bekas penusukan yang kulihat, tampaknya asisten tadi sudah berkali-kali mencoba menyisipkan selang IV ke tubuh si bayi. Jantungku berdetak kencang, aku harus berpikir keras. Ini mungkin kesempatan terakhir untuk menyelamatkan nyawa pasien kecil ini. Kuperiksa tangannya lebih dekat lagi; menahan napas, lalu memasukkan selang IV terkecil ke salah satu vena yang terlihat. Darah merah kental mengalir ke dalam selang, aku memasang set infus, dan selesai sudah! Aku berhasil memasukan selang IV  ke tubuh pasien HIV pertamaku, pasien Afrika pertamaku. Tak ada yang bisa melukiskan betapa bahagianya aku saat itu.

Aku menginstruksikan sang asisten untuk melanjutkan pengobatan dan membantu memantau perkembangan pasien. Aku mendapatkan kembali kepercayaan diriku. Ternyata, aku tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana memulai pengobatan pasien HIV. Namun mungkin saja semuanya sudah terlambat karena bayi itu sudah terlalu lemah.

Sekilas, aku melihat bayi itu membuka mata kecilnya dan memandang ibunya. Tiba-tiba, semua kecemasanku pun hilang. Aku yakin masih ada harapan baginya untuk bertahan hidup. Ya, akan selalu ada harapan!  

Setelah melewati hari pertama yang melelahkan, kesunyian malam memberiku ruang untuk melihat kembali tujuan kedatanganku di Thekerani. .

Apa yang aku lakukan di sini? Desa ini berjarak ribuan mil dari kampung halamanku, dari orang-orang yang kucintai. Bagaimana para pasien HIV positif di sini menghadapi ketergantungan mereka pada obat-obatan HIV yang jelas akan selalu mereka butuhkan hingga akhir hidup mereka? Bagaimana jika stok obat-obatan tersebut habis, tak lagi tersedia di negara ini? Apa yang akan terjadi pada mereka?” 

Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di benakku hingga akhirnya aku tertidur di malam pertamaku di Malawi.  Keesokan harinya, begitu bangun aku langsung bergegas menuju pusat kesehatan. Tujuanku hanya satu, yaitu melihat kondisi si bayi. 

Saat aku berjalan ke arah Ibu dan bayi itu, aku bisa melihat bahwa meskipun kondisinya masih lemah namun ia terlihat sangat hidup dan kondisinya sudah jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Aku tak lagi melihat airmata, namun sebuah senyum kebahagiaan yang sangat tulus di wajah ibunya.  Ibu itu tersenyum padaku dan dengan lembut ia ucapkan “Zikomo kwambiri” – sebuah cara sederhana untuk mengucapkan terima kasih dalam bahasa mereka. Aku membalas ucapannya dan kami pun kemudian tertawa. Aku sangat bahagia dan puas.

Satu kehidupan sudah terselamatkan dan itu menjadi awal dari sebuah hari yang baru. Aku pikir jawaban atas pertanyaan tentang mengapa aku berada di sini secara perlahan terjawab sudah. Aku bersyukur diberi kesempatan untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan pertolongan.

 


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui