Sabtu, 30 Agustus 2014 15:10

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Julianto Simanjuntak


Julianto Simanjuntak, konselor dan mediator keluarga. Penulis buku-buku konseling aktual. Tips harian dan free Ebook silakan follow @PeduliKeluarga, Website : http://www.juliantosimanjuntak.com

Dampak Perkawinan Terhadap Kesehatan Fisik

Penulis : Julianto Simanjuntak | Rabu, 20 Juni 2012 | 08:51 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Sebelum menikah, kuasai dulu ilmu-ilmu tentang pasangan Anda.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Dalam bukunya “Marital Therapy” Len Sperry & J. Carlson mencatat banyak penemuan terbaru tentang dampak perkawinan terhadap kesehatan fisik. Diteliti juga status kesehatan mereka yang sudah menjadi duda dan janda. Termasuk dampak perceraian terhadap kesehatan, serta kehidupan medis bagi mereka yang menikah ulang (kawin lagi).

Secara umum ditemukan bahwa perkawinan terbukti sebagai benteng perlindungan. Mereka yang menikah umumnya lebih sehat, sebaliknya keretakan perkawinan  mempengaruhi imunitas tubuh seseorang.

1. Berdua lebih baik dari sendiri

Pelbagai penelitian menunjukkan bahwa pernikahan mendatangkan efek positif pada kehidupan seseorang.

Di Amerika, para pria yang menikah menduduki tingkat kematian terendah. Pada penelitian yang dilakukan untuk pria berkulit putih, dibandingkan dengan pria menikah maka tingkat perilaku bunuh diri 4x lebih tinggi pada yang menjadi duda, dan 3x lebih tinggi pada pria bercerai.

Penelitian untuk pria berkulit hitam, menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pria menikah, kematian karena kanker hati 4x lebih tinggi pada pria bercerai, dan 3x lebih tinggi pada duda.

2. Gangguan pernikahan dan kesejahteraan fisik

a. Orang yang menikah terbukti lebih sedikit melakukan kunjungan ke dokter dibandingkan mereka yang sama sekali tidak pernah menikah.

Orang yang tidak menikah cenderung lebih banyak minum-minuman keras, dan menduduki faktor resiko lebih tinggi terkena penyakit dan mengalami kecelakaan—misalnya, mereka lebih jarang mengenakan sabuk pengaman di mobil—dibandingkan orang yang menikah.

b. Orang yang tidak pernah menikah dilaporkan jauh lebih sering sakit dibandingkan orang yang menikah.

c.  Mereka yang berpisah (bercerai) dilaporkan lebih sering sakit dibandingkan mereka yang menikah dan yang tidak pernah menikah.

d. Demikian juga mereka yang bercerai ditemukan jauh lebih sering menjadi pasien rawat inap atau pasien rawat jalan di bagian psikiatri (Bjorksen & Steward, 1985).

Pendeknya, di antara berbagai kelompok pernikahan; orang-orang yang bercerai dan hidup berpisah mempunyai status kesehatan terburuk. Merekalah yang memiliki kondisi medis paling kronis dan akut, tidak bisa bekerja penuh, dan paling sering meminta cuti kerja.

Selain itu paling banyak menggunakan hak untuk ke dokter dan paling lama menjalani rawat inap di rumah sakit. Orang-orang yang menduda/menjanda menduduki tingkat kedua terparah di bidang status kesehatan.

Sebaliknya, mereka yang tetap ada dalam pernikahan menduduki kursi paling hebat dalam hal status kesehatan. Mereka paling sedikit menyandang kondisi medis kronis dan akut, serta kondisi yang menyebabkan mereka tidak bisa bekerja (Bjorksten & Stewart, 1985).

Anehnya dalam buku tersebut dijelaskan orang yang telah bercerai dan kemudian menikah-ulang dan ternyata berbahagia dengan pernikahannya lebih sedikit menderita gangguan kesehatan dibandingkan mereka yang tetap tinggal dalam pernikahan tapi tidak bahagia. ( Catatan : Penemuan ini tidak bermaksud mendukung divorce). Pernikahan-ulang nampaknya memberikan kepada pria sumberdaya yang lebih tinggi untuk mengatasi stres kehidupan dan meningkatkan kesehatan mental serta daya tahan– namun tidak selalu demikian halnya dengan wanita.

3. Pengaruh wanita bekerja pada kesejahteraan pernikahan

Wanita menikah yang bekerja, dilaporkan lebih sedikit mengalami gejala psikosomatis dan gangguan fisik dibandingkan wanita lajang bekerja atau wanita menikah yang bekerja di rumah.

Meskipun pekerjaan mungkin mendatangkan kerugian bagi wanita menikah, namun keuntungan yang dihasilkannya jauh lebih banyak. Meskipun demikian, keuntungan yang didapat seorang isteri bekerja bisa saja tidak menjadi keuntungan bagi suaminya; isteri yang bekerja bisa meningkatkan ketegangan dan penyakit yang diderita suami karena berkurangnya perhatian isteri dan meningkatnya tuntutan untuk berbagi tugas.

Adanya perubahan dalam pekerjaan isteri—memasuki atau meninggalkan pekerjaan atau mendapatkan promosi—terlihat memiliki hubungan yang jelas dengan ketegangan dan penyakit suami, dibandingkan jika tidak ada perubahan dalam pekerjaan isteri tersebut. (Booth, 1977).

4. Perkawinan sebagai perlindungan

Perkawinan (yang sehat) juga melindungi pasangan suami/isteri dari stres. Kebiasaaan rutin, asupan gizi yang cukup, dukungan sosial, keintiman, dan adanya alasan untuk hidup, adalah faktor-faktor yang menyebabkan perkawinan menjadi semacam perlindungan. Termasuk menjadi semacam benteng stres.

Gangguan pernikahan menunjukkan bahwa jika perlindungan ini diambil maka individu yang bersangkutan akan benar-benar dihadapkan secara langsung  pada pada dampak berbagai stresor kehidupan (Jemmott & Locke, 1984).

Saat meneliti hampir 28.000 pasien kanker, Goodwin dkk mencatat bahwa pasien yang menikah mempunyai kemampuan bertahan hidup 23% lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak menikah.

Para peneliti menyatakan bahwa bertambahnya harapan hidup ini diperoleh dari perlindungan emosi yang dihasilkan oleh pernikahan.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menikah, cenderung mendapatkan diagnosa kanker pada tahap yang lebih awal, lebih sering menerima penanganan kuratif dan pelayanan terbaik dibandingkan orang yang tidak menikah.

Perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh adanya kekacauan dalam pernikahan seringkali mengakibatkan stres psikososial yang bisa melahirkan berbagai konsekuensi serius.

Beberapa konsekuensinya mencakup depresi klinis, penyalahgunaan obat-obatan, penyakit gangguan hati, dan pergeseran fungsi imun sistem. Menurunnya fungsi imun mungkin turut menyumbang pada meningkatnya kematian yang disebabkan oleh infeksi dan kanker pada populasi orang-orang yang bercerai dan sedang merasa sangat kehilangan.

5. Pengaruh keretakan perkawinan terhadap imunitas tubuh

Para peneliti seperti Kiecolt-Glaser dkk (1987) telah mempelajari dampak kekacauan pernikahan terhadap imunitas tubuh. Mereka menyimpulkan bahwa kesehatan mental akan mempengaruhi kesehatan fisik melalui terjadinya perubahan sistem imun yang selama ini menahan serangan penyakit.

Secara spesifik mereka menemukan bahwa para wanita yang berada dalam pernikahan tidak bahagia menunjukkan imunitas yang menurun. Penelitian yang dilakukan pada para pria yang baru saja berpisah dan yang bercerai juga menunjukkan bahwa kedua kelompok ini lebih tidak sanggup menghadapi dua jenis infeksi virus herpes; artinya ada gangguan imunitas yang nyata.

Penutup

Raja Salomo pernah menuliskan :

“Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas?”

Penulis berharap, bagi yang masih jomblo benar-benar mempersiapkan pernikahan dengan baik. Jangan sembarangan memilih dan tidak tergesa-gesa.

Bagi yang sudah menikah, harap bisa memelihara dan  menjaga agar (sistem)  pernikahan Anda bisa berfungsi dengan baik. Jadilah suami atau istri yang peduli dengan pasangan Anda. Lebih dari apapun, termasuk karir. Jika ada masalah carilah pertolongan, jangan tergesa bercerai karena itu menyakitkan. Terutama bagi anak-anak.

Sedangkan bagi mereka yang sudah ditinggal (mati) pasangan dan memikirkan untuk menikah ulang, temui seorang penasehat perkawinan. Pertimbangkan dengan sangat-sangat matang.

 


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui