Rabu, 6 Mei 2015

Health

Negara Berkembang Lampaui Negara Maju

Jumat, 22 Juni 2012 | 19:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Kematian akibat penyakit kanker di negara berkembang diproyeksikan jauh lebih besar dan melampaui negara maju. Penderita kanker di negara berkembang, termasuk Indonesia, juga cenderung lebih muda.

Hal itu dikemukakan dokter subspesialis hematologi-onkologi medik yang juga pengurus Yayasan Kanker Indonesia Aru Sudoyo, dalam acara Roche Media Health Forum tentang penyakit kanker di Jakarta, Jumat (22/6/2012).

Mengutip data proyeksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di seluruh dunia, Aru mengatakan, total kematian akibat kanker di negara maju cenderung stagnan, yakni 2,1 juta kematian tahun 2005 diproyeksikan menjadi 2,5 juta jiwa pada tahun 2030. Namun, di negara berkembang, jumlah kematian jauh lebih besar proyeksinya, yakni dari 5,5 juta jiwa tahun 2005 menjadi 8,9 juta kematian tahun 2030.

Jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia ialah kanker leher rahim, payudara, nasofaring, rektum, kulit, indung telur, tiroid, usus besar, dan getah bening. Selain itu, penduduk di negara berkembang cenderung lebih muda usianya terkena kanker.

Aru mencontohkan, untuk kanker usus besar dan rektum, misalnya, di negara maju seperti Kanada, kasus pada penduduk di bawah usia 40 tahun sekitar 3 persen menurut data National Cancer Insitute negara itu. Sebagian besar kanker mulai terjadi pada penduduk berusia 50 tahun -60 tahun.

Di negara berkembang, seperti kasus pada usia di bawah 40 tahun sekitar 30 persen. "Di Indonesia, kanker usus besar mulai sering ditemukan pada usia 30 tahun-40 tahun," ujarnya.

Dia mengatakan, perubahan gaya hidup seperti diet yang buruk, kurang aktivitas, merokok; serta lemahnya deteksi dini menambah jumlah penderita kanker di negara berkembang. Sedangkan, di negara maju kanker semakin baik diantisipasi dengan kesadaran deteksi dini, edukasi memadai, dan ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan, serta asuransi kesehatan.

"Saat ini, edukasi tentang kanker, deteksi dini, dan faktor risikonya sangat penting," ujarnya.

Editor : Marcus Suprihadi