Minggu, 2 Agustus 2015

Health

Nyeri Bisa Menjadi Teman Sekaligus Lawan

Senin, 25 Juni 2012 | 07:21 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com - Hampir setiap orang pernah merasakan nyeri, mulai dari level yang ringan, sedang sampai berat. Tapi tahukah Anda bahwa nyeri sesungguhnya dapat menjadi teman sekaligus lawan?

Dr. Dwi Pantja Wibowo, SpAN KIC dari Rumah Sakit Premier Bintaro mengatakan, nyeri sebenarnya merupakan fungsi pengingat tubuh terhadap kejadian yang perlu dihindari atau diatasi dan sebagai pembatas aktivitas untuk mempermudah penyembuhan. Tetapi berubah menjadi lawan apabila nyeri itu berlansung lama dan menjadi sumber penderitaan.

"Sampai batas tertentu nyeri memang bermanfaat untuk membantu membuat diagnosis penyakit, namun nyeri berkepanjangan akan menyebabkan efek buruk pada sistem organ lain," katanya, saat acara INHEALTH Doctors Gathering, dengan tema 'Pain Management Up-date', Sabtu, (23/6/2012).

Menurut Pantja, nyeri bukanlah sekedar rasa tidak nyaman melainkan suatu proses yang lebih kompleks dan melibatkan berbagai faktor. Terjadinya persepsi nyeri sangat ditentukan oleh berbagi faktor seperti usia, jenis kelamin, ciri kepribadian, tingkat pendidikan, agama, suasana hati dan lain sebagainya.

"Kita harus bisa memilah mana nyeri teman dan mana nyeri lawan. Misalnya pasien pertanda nyeri usus buntu, kalau kita sudah tahu nyeri ini karena apa, maka segera dihilangkan nyerinya. Tapi kalau dibiarkan malah akan jadi penderitaan," terangnya.

Pantja melanjutkan, nyeri menjadi demikian penting untuk dikaji dan diterapi secara adekuat karena nyeri memberikan dampak serius pada berbagai sistem organ di dalam tubuh manusia. Nyeri dapat meningkatkan kadar adrenokorticotropin hormone (ACTH), anti diuretic hormone (ADH), Growth Hormone, dan Thyroid Stimullating Hormone (TSH).

Dampak nyeri

Terhadap jantung, nyeri akan menyebabkan takikardia dan hipertensi sehingga terjadi peningkatan kebutuhan oksigen dan penurunan aliran lokal sehingga menyebabkan iskemia miokard (nyeri jantung) dan risiko infeksi. Nyeri juga dapat menyebabkan kurang tidur dan rasa cemas. Nyeri yang menyebabkan kurang bergerak dan nafas yang dangkal akan menyebabkan atelektasis (pengekerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara), hiperkarbia dan hipoksemia dengan risiko pneumonia.

"Nyeri merupakan bagian dari lima tanda vital, sama seperti frekuensi nadi, nafas, suhu tubuh, dan tekanan darah, yang perlu diperhatikan ketika menghadapi pasien. Hal ini dibenarkan karena saling keterkaitan kelima parameter tadi sangat dekat dan penting dalam menggambarkan kondisi fisik seseorang," jelasnya.

Sebagai contoh, Pantja menerangkan, seseorang dengan suhu tubuh normal akan mengalami kenaikan frekuensi nadi dan frekuensi nafas ketika mengalami demam. Demikian juga seseorang yang mengalami nyeri akut akan mengalami kenaikan frekuensi nadi, frekuensi nafas dan tekanan darah.

Editor : Asep Candra