Sabtu, 20 September 2014 02:52

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andri, Sp.KJ


Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang

Bagaimana "Melawan" Psikosomatik?

Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Rabu, 27 Juni 2012 | 17:22 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Pasien dengan gangguan psikosomatik dan segala gejala fisik yang dialami mereka sering menanyakan kepada saya bagaimana melawan psikosomatik ini. Pasien merasa keluhan-keluhan fisik yang tidak jelas sumbernya ini sulit dilawan dengan apapun juga. Pikiran positif yang disarankan oleh banyak orang sering kali sulit diterapkan oleh pasien dan ini terkadang malah semakin membuat pasien merasa tertekan dan malah memperberat keluhannya.

Memang tidak mudah berpikir positif jika mengalami gangguan psikosomatik. Pasien sering kali mengeluhkan orang-orang di sekitarnya bahkan keluarga yang sepertinya tidak mampu mengerti apa yang dialami pasien. Jangankan orang awam, bahkan dokter sendiri pun banyak yang tidak memahami dan "menggampangkan" bahwa psikosomatik itu sebenarnya cukup dilawan dengan pikiran positif saja. Lalu mengapa sulit buat pasien berpikir positif atau santai seperti yang disarankan?

Otak Pabrik Utama

Otak adalah pabrik dari segala macam bentuk perasaan, pikiran dan perilaku manusia. Apa yang kita rasakan, kita lakukan dan kita pikirkan adalah hasil dari produksi otak. Keseimbangan dalam sistem otak ini perlu dijaga agar semuanya tetap dalam kondisi seimbang. Lalu bagaimana jadinya jika otak ini mengalami ketidakseimbangan? Maka bisa dipastikan produksinya pun kurang baik.

Tidak heran jika gangguan jiwa yang merupakan hasil dari ketidakseimbangan otak akan membuat pikiran, perilaku dan perasaan orang menjadi tidak nyaman, mengarah tidak normal bahkan berbeda dari pada umumnya. Kondisi ini yang membuat respon otak yang baik tidak tercapai.

Bagaimana caranya membuat suatu "pikiran positif" jika otak yang memproduksi pikiran itu sedang dalam kondisi tidak baik? Tidak heran banyak pasien yang mengatakan ketika dia sedang mengalami kecemasan dan depresi, dia mengalami kesulitan untuk berdialog dengan Tuhan lewat doa dan sembahyang. Ada perasaan tidak nyaman yang dialami oleh pasien sehingga membuat dirinya tidak bisa "masuk" dalam kekhusukan dan doa.

Obati Otaknya

Maka jalan yang ditempuh untuk memperbaiki ketidakseimbangan yang menyebabkan gangguan psikosomatik adalah memperbaiki sistem otak yang terlibat. Berbagai cara bisa dilakukan baik dari segi pemakaian obat psikofarmaka dan psikoterapi. Pemakaian obat diperlukan untuk memperbaiki sistem otak yang sudah mengalami kendala dalam pekerjaannya.

Fungsi dari obat adalah untuk memperbaiki dan menyeimbangkan sistem di otak tersebut. Setelah otak mulai seimbang maka terapi kognitif yang biasanya dilakukan pada proses psikoterapi dapat lebih mendapatkan tempat dalam alam pikiran dan perasaan pasien. Banyak pasien yang bersikeras untuk tidak makan obat. Ada juga beberapa dokter yang tidak menyarankan penggunaan obat. Ketergantungan adalah salah satu yang ditakuti.

Sebenarnya obat digunakan kepada pasien adalah untuk membuat tercapainya keseimbangan itu. Proses pemberian obat memfasilitasi perbaikan sehingga ketika sudah baik yang ditandai dengan gejala subyektif pasien yang merasakannya, maka obat bisa dikurangi bahkan dihentikan. Terapi jenis lain yang sering disarankan adalah meditasi (mindfulness therapy). Hal ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan dan berkonsentrasi pada jalan masuk keluar nafas. Terapi kombinasi antara obat dan psikoterapi termasuk meditasi adalah suatu cara yang mampu "melawan" psikosomatik.

Semoga bermanfaat,

Salam Sehat Jiwa


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui