Minggu, 5 Juli 2015

Health

Pengobatan Dini Tekan Penularan HIV

Senin, 2 Juli 2012 | 08:55 WIB

Jakarta, Kompas - Penelitian di 17 negara menunjukkan, pemberian antiretroviral lebih dini kepada orang dengan HIV, sejak kondisi CD4 500—dalam waktu enam bulan dapat membuat virus tidak terdeteksi.

”Pemberian itu mengurangi risiko penularan hingga 96 persen,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Profesor Samsuridjal Djauzi pada seminar upaya pencegahan dan pemeriksaan HIV di Jakarta, Sabtu (30/6).

CD4 mengacu pada jumlah limfosit yang berperan melindungi tubuh dari infeksi. Pada orang tanpa HIV, CD4 antara 410 dan 1.500. Pada orang dengan HIV, CD4 turun hingga nol.

Indonesia didesak memperbarui pedoman nasional pemberian antiretroviral (ARV) dari sebelumnya diberikan bagi pasien dengan CD4 300 menjadi CD4 500. ”Pemberian ARV untuk pasien dengan CD4 350, seperti di Indonesia, hanya mampu menurunkan risiko penularan 70 persen,” ujarnya.

Ketua Unit Pelayanan Terpadu HIV RS Dr Cipto Mangunkusumo Zubairi Djoerban mengatakan, banyak manfaat memberi ARV saat kondisi CD4 500. Di antaranya, kerja obat lebih maksimal sebab pasien dalam kondisi klinis baik. Biasanya belum ada penyakit penyerta, seperti tuberkulosis, jamur, dan hepatitis B.

Berbeda dengan kondisi pasien dengan CD4 200. Biasanya, mereka menunjukkan gejala klinis buruk dengan penyakit penyerta. Pengobatannya akan lebih sulit.

Faktor biaya

Belum diperbaruinya pedoman nasional pemberian ARV di Indonesia disebabkan faktor biaya. Dengan ketentuan lama saja, biaya pembelian ARV di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rp 120 miliar per tahun.

Oleh karena itu, kepada pasien yang mampu diimbau menjalani pengobatan ARV sejak CD4 500. Pengobatan sejak dini meningkatkan angka harapan hidup hingga 18 tahun.

Selain mengobati lebih dini, pemerintah juga didesak meningkatkan temuan. Alasannya, jumlah orang yang terinfeksi HIV di Indonesia tahun 2010 diperkirakan 300.000 orang, dan bertambah dua tahun terakhir. Namun, baru 186.000 pengidap yang ditemukan hingga 2012.

Indonesia bisa meniru negara tetangga yang melakukan tes besar-besaran untuk menjaring orang dengan HIV. Di Afrika, misalnya, pada tahun 2010 melakukan tes HIV terhadap 10 juta dari 50 juta penduduknya dan menemukan 2 juta orang positif.

Kepala Seksi Standardisasi Subdirektorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Kemenkes Endang Budi Hastuti mengatakan, pihaknya berencana mengetes 1,8-2 juta penduduk dari 250 juta penduduk. Namun, biaya masih menjadi kendala. (NIK)

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: