Kamis, 27 November 2014 15:09

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *


Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Kualitas Remaja Diperburuk Ngorok

Penulis : Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Senin, 2 Juli 2012 | 18:35 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi remaja tidur

KOMPAS.com - Menurut sebuah penelitian terbaru, remaja yang mendengkur mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kemampuan belajar dan perilaku. Mereka terus mengantuk, sulit berkonsentrasi, agresif dan terganggu kehidupan sosialnya.

Suara ngorok sudah dianggap lazim di kehidupan sehari-hari. Apalagi pada remaja-remaja dengan jadwal kegiatan yang padat, dengkuran dianggap sebagai akibat dari kelelahan. Tetapi tahukah Anda bahwa dengkuran sendiri bisa menyebabkan kelelahan berkepanjangan?

Mendengkur dan kantuk berlebihan merupakan dua gejala utama dari sleep apnea, atau henti nafas saat tidur. Ketika saluran nafas melemas saat tidur, ia menyempit dan mengakibatkan sumbatan. Akibatnya, walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat lewat.

Dalam tidur, ia seolah tecekik. Karena sesak, selanjutnya pertahanan tubuh akan membangunkan otak untuk bernafas. Si penderita akan terbangun singkat tanpa tersadar. Karena terbangun-bangun singkat sepanjang malam, pendengkur jadi selalu merasa mengantuk dan lelah sepanjang hari walau tidurnya sudah mencukupi.

Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh the Disability and Psychoeducational Studies department dari the University of Tucson di Arizona, menyertakan 263 anak-anak dengan rentang waktu pencatatan 5 tahun. Pada pemeriksaan awal ditemukan bahwa 70 anak menderita sleep apnea. Lalu pada pemeriksaan 5 tahun berikutnya, didapati bahwa 44 orang menderita sleep apnea.

Para peserta kemudian diperiksa perilakunya menggunakan alat-alat pemeriksaan psikologi. Hasilnya, pada anak-anak yang tak menderita sleep apnea dan remaja yang dulu menderita namun kini sudah tak lagi, tak ditemukan perbedaan bermakna pada perilakunya.

Remaja pendengkur yang menderita sleep apnea cenderung mempunyai nilai masalah sosial dan perilaku yang tinggi dibanding remaja yang tak memiliki gangguan tidur tersebut. Mereka dinilai 3 kali lipat lebih agresif. Remaja dengan sleep apnea ada 29%, sementara yang sehat hanya 10%.

Kemampuan untuk mengontrol emosi juga didapati 2,9 kali lipat lebih buruk pada pendengkur dibanding remaja yang tak mendengkur.

Perilaku dan kantuk berlebihan

Masalah-masalah perilaku dan interaksi sosial yang dialami dianggap berkaitan dengan kantuk berlebihan yang diderita pendengkur. Seperti sudah diulas sebelumnya, remaja yang menderita sleep apnea selalu berada dalam kondisi kurang tidur, selalu mengantuk, walau durasi tidur sebenarnya sudah cukup. Bayangkan saja diri kita jika hanya tidur 2 jam, bagaimana rasanya di pagi dan siang hari? Persis seperti itulah yang dialami para remaja yang menderita sleep apnea.

Kondisi ini diperparah dengan pola tidur remaja yang juga selalu kurang. Akibat berbagai aktivitas, kebutuhan tidur yang seharusnya 8,5-9,25 jam sehari tak pernah tercapai. Apalagi dengan jam biologis yang berbeda dari orang kebanyakan. Kelompok usia ini wajar jika tidur lewat tengah malam. Padahal, aktivitas sudah dimulai sejak sebelum matahari terbit.

Kualitas dan durasi tidur menjadi sangat penting bagi prestasi. Sleep apnea, jelas memperburuk kualitas tidur. Segala kemampuan konsentrasi, mengendalikan emosi serta perilaku ternyata menurun akibat sleep apnea. Untuk itu, demi kualitas pemuda Indonesia, jangan remehkan lagi kesehatan tidur, khususnya sleep apnea dan mendengkur.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui