Selasa, 23 September 2014 01:16

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Julianto Simanjuntak


Julianto Simanjuntak, konselor dan mediator keluarga. Penulis buku-buku konseling aktual. Tips harian dan free Ebook silakan follow @PeduliKeluarga, Website : http://www.juliantosimanjuntak.com

Alat Uji Kepuasan Nikah, Mau Coba?

Penulis : Julianto Simanjuntak | Rabu, 4 Juli 2012 | 15:12 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

KOMPAS.com - Secara umum ada empat kategori kepuasan dalam pernikahan, yakni sangat puas, puas kadang tidak puas, tidak puas tetapi kadang puas dan sangat tidak puas.

Yuk, coba baca perlahan-lahan penjelasan di bawah ini, pernikahan Anda  masuk pada kategori mana. (tes detilnya ada di bagian paling bawah)

1. Pernikahan yang sangat puas

Kepuasan pernikahan yang stabil. Kategori ini menghadirkan puncak kerjasama yang baik. Biasanya latar belakang mereka agak sama, banyak cocoknya sehingga sedikit cekcoknya.

Pasutri ini bisa mengerti pasangannya sedalam-dalamnya. Komunikasi mereka efektif tanpa ada pesan yang membingungkan. Tidak ada mind-reading (suka membaca pikiran pasangan).

Akibatnya  mereka mudah saling percaya.  Mereka juga mampu menerima perbedaan yang ada, sehingga kreatif membangun identitas masing-masing. Mereka dapat bekerjasama dan mengasuh anak tanpa rasa cemburu. Bukan  berarti mereka selalu setuju, tetapi mereka berusaha belajar saling menghargai perbedaan pendapat dan mencari solusi yang terbaik jika ada konflik.

2. Puas tapi kadang tidak puas

Meski umumnya mereka merada puas, tapi Kepuasan pernikahan mereka  tidak stabil. Meskipun mereka merasa memiliki relasi yang comfortable satu dengan lainnya, tapi rasa kecewa mereka satu terhadap yang lain  muncul  pada saat krisis. Khususnya pada saat-saat stres dan masa-masa yang sulit.  ada masalah terjadilah ledakan sikap yang agresif secara terbuka yang selama ini disembunyikan. Misal, saat anak pake narkoba atau lari dari rumah, maka langsung mereka merasa kurang puas dan saling menyerang (menyalahkan). Mereka tidak mampu mengelola konflik.

Masing-masing mulai saling melukai, dan terjadi perang dingin. Pada masa ini bisa ditampakkan sikap bermusuhan. Jadi kepuasan mereka sangat bersifat sementara pada saat baik-baik  saja. Dengan kata lain kadangkala rumah tangga seperti ‘neraka’, kadang seperti ‘surga’. Sayangnya mereka tidak pernah berusaha mencari bantuan dari professional (konselor)

Saat krisis terjadi, mereka berusaha mengalihkan perhatian mereka pada masalah anak-anak, atau sibuk dengan hobi masing-masing. Tetapi ini  hanya  upaya pelarian saja.

3. Tidak puas tapi kadang puas

Pasangan kategori tiga ini paling banyak saya temui di ruang konseling. Ini adalah pasangan yang menyadari bahwa mereka mempunyai pernikahan yang tidak menyenangkan. Tetapi mereka umumnya tidak mampu melakukan apapun untuk mengubah hal ini. Sesekali saja mereka merasa puas dengan pasangan.

Mereka sama sekali tidak dapat mengekspresikan kemarahannya secara terbuka, dari sejak awal pernikahan mereka. Karakteristik utama pasangan ini adalah berkelahi secara diam-diam. Kadang mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan secara kasar, dengan humor yang ganda, atau lelucon yang menyinggung perasaan. Metode non-verbal yang dipakai mereka mengatasi masalah adalah dengan alkohol, frigid, dan lain-lain.

Beberapa pasangan dalam kategori ini kadang sang istri ‘mengijinkan’ suaminya menikah lagi untuk memperoleh damai yang sementara. Atau suami mengijinkan istrinya menghabiskan sejumlah uang untuk bersenang-senang dengan membeli pakaian baru, dan sebagainya.

Mereka juga sering memberi kesan di luar seolah mereka pasangan yang seia-sekata, padahal sebenarnya mereka telah berpisah secara emosional (emotional Divorce) bahkan juga secara fisik (pisah ranjang/ rumah).

Sering pengalaman ini membawa pengaruh dalam kehidupan emosi mereka saat bekerja dan ikut mengurangi produktifitas kerja mereka.

4. Sangat tidak puas

Ini merupakan yang terburuk dari semua pola yang ada. Saya pernah konseling seorang Ibu (Oma) yang merasa 38 tahun pernikahannya bagai mimpi buruk dari malam pertama, hingga punya 3 cucu.

Ini terdiri dari individu yang bertumbuh sampai tua bersama dalam ketidakpuasan pernikahan. Ketidakpuasan itu stabil karena keduanya tidak dapat mengetahui akan apa ketidakpuasannya.

Anehnya mereka mengklaim bahwa pernikahan mereka oke-oke saja. Jikalau mereka pergi ke terapis atau konselor, paling hanya mengkonsultasikan masalah anak-anak mereka, atau masalah keuangan.

Mereka  tidak pernah mencari pertolongan untuk masalah mereka sendiri. Ironisnya,  sang istri  aktif ke acara agama dan bersaksi di luar bahwa hidupnya baik-baik saja (Ilustrasi: jika kita tinggal di dekat pasar tempat jualan yang berbau busuk, namun karena sudah tinggal disana bertahun-tahun maka  bau busuk  itu menjadi “biasa”)

Sebaliknya sang suami bisa mengatakan seperti ini “istriku adalah yang tercinta dari semua wanita di dunia ini”. Namun dalam realita sesungguhnya  dia sangat tidak puas dengan istrinya. Mereka berusaha menyembunyikan keadaan sesungguhnya.

Penutup

Perlu diingat perkawinan merupakan satu proses yang terus menerus yang harus bertumbuh dan berubah secara terus menerus. Tipe di atas bisa berubah dari satu kategori ke kategori lainnya.

Jika Anda tertarik menguji lebih detil kondisi Anda silahkan lihat di bagian lampiran di bawah. Alat ini biasa saya gunakan sebagai brainstorming dalam seminar pasutri.

Puaskah  dengan Pernikahan Anda?

Mohon menjawab dengan jujur, kondisi pernikahan Anda enam bulan terakhir :

Lingkarilah nomor yang cocok dengan kondisi Anda.

1. Kami hampir selalu dapat bekerjasama dengan baik dalam pernikahan kami

2. Saya dapat mengerti dengan jelas pasangan saya sedalam-dalamnya.

3. Komunikasi kami selalu lancar tanpa ada pesan yang membingungkan, sehingga kami selalu dapat saling mempercayai

4. Kami selalu dapat menerima satu sama lain meski dalam beberapa hal kami berbeda

5. Kami dapat secara kreatif dan bebas membangun identitas kami masing-masing.

6. Meski kami tidak selalu saling setuju, tetapi kami belajar saling menghargai perbedaan pendapat dan mencari solusi yang terbaik.

7. Meskipun saya punya relasi yang cukup baik dengan pasangan saya, namun kadang kala saya merasa kecewa dengan sifat atau karakter pasangan saya.

8. Kadang, terutama saat stres dan masa sulit, saya bisa marah sampai meledak dan menyerang pasangan saya secara terbuka dengan perkataan yang pedas.

9. Kami kadang kadang masih bisa saling melukai dan bahkan perang dingin (tidak bicara selama beberapa saat)

10. Kadangkala rumah tangga kami seperti ‘neraka’, namun kadangkala seperti ‘surga’.

11. Meski kadang kami konflik berat, kami tidak berusaha mencari bantuan dari profesional seperti konselor

12. Kalau kami konflik, kami lebih banyak memusatkan perhatian diskusi kami seputar masalah anak-anak, keuangan atau status saya sendiri.

13. Hidup pernikahan saya lebih banyak mengalami ketidakpuasan. Kalaupun saya merasa bahagia hanya sesaat saja.

14. Sesungguhnya pada awalnya saya kurang/ tidak mencintai pasangan saya.

15. Sesungguhnya pasangan saya kurang memperhatikan saya

16. Saya merasa pernikahan kami tidak menyenangkan, namun saya merasa tak bisa melakukan apapun memperbaikinya. Saya pun segan untuk melakukan apapun mengubahnya

17. saya merasa sulit sekali mengekspresikan kemarahan secara terbuka pada pasangan saya, sebab saya takut masalah jadi tambah besar.

18. Kami cenderung lebih suka berkelahi diam-diam, atau lebih mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan secara kasar, atau lelucon yg menyinggung perasaan.

19. Menghadapi konflik saya kadang lebih memilih melarikan diri dengan kesenangan lain diluar rumah bersama teman saya, minum alkohol atau kesenangan lainnya

20. Kalau saya lagi marah, saya menghindar berhubungan seks dengan pasangan saya

21. Kadang kalau kami lagi ribut, pasangan saya minta cerai dan bahkan mengijinkan saya untuk menikah lagi dengan orang lain agar saya bisa lebih memperoleh damai.

22. Walaupun kami nampak intim di mata teman teman kami, sesungguhnya kami telah lama berpisah secara emosional bahkan juga secara fisik.

23. Saya merasa sampai tua bisa bisa terus tidak puas dengan pasangan saya dan Saya tidak mengerti mengapa saya tidak puas dengan pasangan saya

24. Saya sebenarnya merasa tidak sanggup lagi dengan pasangan saya, tapi saya malu bercerai. Saya sampai sekarang tidak pernah mencari bantuan konselor

25. Meski saya aktif ibadah dan pelayanan sosial, sesungguhnya saya kurang/ tidak merasakan keindahan rumah tangga kami

26. Meski pasangan saya aktif beribadah dan sosial, saya merasa pernikahan kami kurang/ tidak bahagia.

PEDOMAN PENILAIAN

1. Jika anda melingkari angka 1 sampai 6 lebih dari separuh maka mungkin anda masuk kategori 1, yakni merasa sangat puas dalam pernikahan Anda.

2. Jika anda melingkari nomor 7 sampai 12 lebih dari separuh, maka mungkin anda masuk kategori 2 : Puas tapi kadang tidak puas (lebih banyak puas dari tidak puas)

3. Jika anda melingkari nomor 13 sampai 22 lebih dari separuh, maka mungkin anda masuk kategori 3 : Tidak Puas tapi kadang puas (lebih banyak tidak puasnya dari puasnya)

4. Jika anda melingkari nomor 22 sampai 26 lebih separuh, mungkin anda masuk kategori 4 : sangat tidak puas

Catatan :

Tes ini hanya pedoman umum yang sifatnya hanya evaluasi bersama pasangan sejauh mana puas atau tidak dalam pernikahan. Dipakai Bukan untuk menghakimi diri atau pasangan. Jika ada masalah baik jika anda  mengkonsultasikannya dengan terapis pernikahan.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui