Selasa, 28 April 2015

Health

Belajar untuk Fokus

Kamis, 5 Juli 2012 | 08:50 WIB

KOMPAS.com -  Sering kali saya mendapati pasien yang kehilangan fokus dalam kehidupannya. Kebanyakan pasien seperti ini mengalami gangguan depresi. Mereka menjadi kesulitan dalam melihat masa depan dan sepertinya tidak bisa membayangkan akan seperti apa masa depan yang dijelang. Sering kali, hal ini terjadi ketika gangguan depresi terjadi karena sebelumnya mereka bukanlah orang yang demikian.

Kehilangan fokus akan masa depan akibat depresi bukanlah salah satu faktor yang paling sering. Kebanyakan orang kehilangan fokus dalam hidup karena tidak tahu harus bagaimana fokus dalam kehidupan mereka. Tujuan sangat penting dalam kehidupan kita, dan tanpa tujuan kita seperti mengarungi bahtera kehidupan tanpa petunjuk kompas dan peta. Namun banyak orang juga yang walaupun mempunyai tujuan dalam kehidupannya sering tidak fokus atau teralihkan fokusnya dalam mencapai cita-cita tersebut.

Hal ini bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah menetapkan tujuan yang tidak realistis sehingga mudah kehilangan arah. Bagaimana bisa menetapkan tujuan yang realistis? Salah satunya adalah dengan mampu mengenali diri dan kemampuannya dengan baik.

Kenali kemampuan diri

Salah satu hal yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bagaimana kita mampu mengenali diri dan kemampuan diri kita. Manusia sering menggantungkan harapan tinggi-tinggi tanpa melihat kemampuannya dengan baik. Ini yang kadang membuat mereka sering kali kecewa dengan apa yang mereka cita-citakan.

Saya meyakini memang benar ada orang-orang yang bermimpi tinggi lalu mendapatkan suatu jalan yang baik untuk mencapai hal itu. Fokus dalam melakukan sesuatu itu yang akhirnya membuat dia mencapai impian yang dia gantung tinggi. Namun ada kalanya, orang menggantungkan cita-cita tinggi tanpa punya usaha untuk menggapainya atau bahkan tidak mampu mengenali dirinya sehingga cita-cita itu seperti omong kosong yang dikedepankan dalam pembicaraan dengan sesama.

Berlatih dan berlatih

Tidak ada yang instan dalam dunia ini. Ketika kita masih bayi dan tidak punya kemampuan apa-apa selain menetek pada puting susu ibu, kita mulai belajar dari sekeliling. Makin lama kita makin pintar karena kita tidak bosan bereksplorasi. Sayangnya kemampuan ini kadang sering kali memudar seiring dengan bertambahnya usia.

Orang terkadang terlalu malas untuk berlatih apalagi untuk hal-hal yang baru. Sesungguhnya berlatih dan melakukan sesuatu berulang-ulang adalah suatu cara untuk belajar fokus. Tidak ada yang dapat diraih tanpa latihan yang cukup. Semua memerlukan latihan yang fokus. Di tengah dunia yang semakin instan, maukah kita belajar untuk fokus berlatih dalam hidup ini?

Salam Sehat Jiwa

Editor : Asep Candra