Kamis, 18 Desember 2014 04:49

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Keringat Tak Lagi Efektif Lawan Suhu Panas

Selasa, 10 Juli 2012 | 14:35 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Musim panas yang sedang dialami di belahan bumi utara termasuk Amerika Serikat ternyata bisa menyebabkan kematian. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Chris Minson, seorang ahli fisiologi lingkungan dari University of Oregon di Eugene, menyatakan bahwa cuaca panas itu sebenarnya tidak berbahaya. Akan tetapi, perpaduan antara suhu panas, kelembaban tinggi, dan kondisi kesehatan, dapat mendorong suhu tubuh seserang mencapai zona bahaya yakni hingga 40 derajat Celsius.

Saat itu, sistem organ mulai tidak teratur dan rusak, jantung pun mengalami stres berlebihan."Jika dengan berbagai cara kita tidak bisa mengimbangi suhu panas dari luar untuk melindungi suhu tubuh internal, di saat itulah masalah muncul," kata Minson.

Tubuh manusia sebenarnya mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap suhu tinggi. Ini terlihat dalam ketahanan seorang atlet lari jarak jauh atau balap sepeda. Mereka kerap berkompetisi di padang pasir panas dan tandus tanpa mengkhawatirkan terjadinya overheating.

Secara alamiah, tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi suhu lingkungan yang tinggi. Jantung akan bekerja lebih keras untuk memompa darah ke kulit, membuat pembuluh darah melebar hingga melepaskan lebih banyak panas.

Pada saat yang sama, tubuh kita memproduksi keringat berlebih. Ini merupakan strategi terbaik tubuh kita untuk mendinginkan suhu. Karena panas yang berlebih telah dikeluarkan melalui keringat lalu menguap ke udara (proses evaporasi). Keringat sebagai cairan asin akan berubah menjadi gas dan membuat kulit menjadi sejuk.

Di saat inilah darah mengalir ke seluruh permukaan kulit dan kembali ke inti tubuh. Menjaga kita dari overheating. "Kita memiliki kemampuan untuk berkeringat. Sistem pendingin yang luar biasa ketika kelembaban tinggi. Sekarang masalahnya, keringat tidak lagi efektif." kata Minson.

Otak dan sistem saraf manusia sangat sensitif dengan suhu tubuh tinggi. Bisa menyebabkan disorientasi, perilaku aneh, kehilangan memori, dan sulit berpikir jernih. Bagi orang yang memiliki riwayat kesehatan tertentu, kondisi ini akan memiliki tantangan ekstra.

Kondisi panas memaksa jantung harus bekerja lebih keras. Pada orang yang bermasalah dengan jantung, kondisi ini membuat mereka beresiko mengalami serangan jantung lebih besar. Untuk penderita diabetes, penyakit ginjal dan kondisi lain, mengatur suhu dan level cairan dalam tubuh jadi menyulitkan. Hingga menyebabkan dehidrasi, gagal ginjal, dan masalah hati.

Berdasarkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, sejak tahun 1979 hingga 2003, sudah lebih dari 8.000 orang meninggal karena suhu panas ekstrem di AS. Lebih banyak orang meninggal karena musim panas daripada yang disebabkan jumlah korban angin topan, petir, tornado, banjir, dan gempa bumi jika digabungkan.

Untuk mencegah overheating, para ahli menyarankan untuk minum lebih banyak cairan dan berolahraga di dalam ruangan pada hari-hari terpanas.(Umi Rasmi/Live Science)






Sumber :
National Geographic Indonesia
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui