Jumat, 22 Agustus 2014 18:45

LIFESTYLE / SEKS - ARTIKEL

Infeksi HIV dan Risiko Impoten

Penulis : Bramirus Mikail | Sabtu, 14 Juli 2012 | 13:44 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Aksi peduli HIV/AIDS bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan penyebaran stiker, poster mengenai informasi dan penyadaran mengenai HIV/AIDS, seperti dilakukan Tim Peduli HIV/AIDS Universitas Atmajaya, Jakarta, beberapa waktu lalu.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Pria dengan infeksi HIV lebih mungkin mengalami masalah disfungsi ereksi (DE), tanpa memandang usia dan indeks massa tubuh (BMI). Demikian hasil temuan terbaru para ahli yang dipublikasikan pada edisi Juli 2012 dalam Journal of Sexual Medicine.

Dalam pengamatannya, Stefano Zona, MD, dari University of Modena and Reggio Emilia di Italia, serta rekan membandingkan prevalensi DE pada pria usia muda sampai setengah baya yang terinfeksi HIV (444 orang) dan tidak terinfeksi HIV (71 orang). Gangguan disfungsi ereksi diukur menggunakan kuesioner yang disebut International Index of Erectile Function.

Setiap partisipan diambil sampel serum testosteron; karakteristik demografi; usia, berat badan, tinggi badan, dan BMI. Para peneliti menemukan bahwa, dibandingkan dengan peserta yang tidak terinfeksi HIV, pria yang terinfeksi HIV dari semua dekade usia memiliki prevalensi lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi ringan, sedang, dan berat.

Peneliti berpendapat bahwa infeksi HIV berkorelasi secara signifikan dengan disfungsi ereksi dalam analisis univariat (dengan rasio, 34,19) dan merupakan prediktor terkuat disfungsi ereksi dalam analisis multivariat (peluang rasio, 42,26), setelah disesuaikan terkait usia dan BMI.

"Studi ini menunjukkan prevalensi DE meningkat pada orang yang terinfeksi HIV dan menunjukkan bahwa kondisi ini adalah intrinsik dalam presentasi klinis infeksi HIV," kata peneliti.

 



Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui