Sabtu, 23 Agustus 2014 18:26

OBAT & VITAMIN - ARTIKEL

FDA Setujui Pil Pencegah HIV

Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 17 Juli 2012 | 07:23 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Kompas.com - Badan pengawasan obat dan makanan Amerika (Food and Drug Administration/FDA), memberikan persetujuan pada obat pertama untuk mengurangi risiko infeksi HIV. Ini merupakan sebuah tonggak dalam 30 tahun perang melawan virus penyebab AIDS itu.

FDA menyetujui pil Truvada hasil penemuan Gilead Sciences, sebagai pencegahan bagi orang sehat yang beresiko tinggi tertular HIV melalui aktivitas seksual, misalnya mereka yang punya pasangan penderita HIV.

Keputusan tersebut keluar kurang dari dua minggu setelah sebelumnya FDA mengeluarkan produk tes HIV yang bisa dilakukan sendiri di rumah. Produk itu yang juga dianggap sebagai tonggak.

Kedua keputusan FDA tersebut dinilai sebagai langkah besar dalam upaya mengurangi penyebaran HIV di Amerika Serikat yang kini stabil di angka 50.000 kasus baru setiap tahunnya dalam 15 tahun terakhir.  Diperkirakan 1,2 juta orang Amerika terinfeksi HIV dan berkembang menjadi AIDS karena tidak mendapat terapi antivirus. Sementara itu sekitar satu dari lima orang tidak menyadari dirinya terinfeksi HIV.

Disetujuinya pil Truvada dianggap sebagai sebuah terobosan dalam strategi pencegahan HIV, terutama setelah makin luasnya akses tes HIV, penggunaan kondom, serta dukungan konseling.

Namun ada kekhawatiran dari para dokter jika pasien tidak menggunakan obat tersebut dengan benar. Menurut Dr.Tom Giordano, pakar HIV dari Baylor College of Medicine, Truvada harus diminum setiap hari supaya efektif.

"Dari penelitian diketahui obat ini sangat efektif pada orang yang beresiko tinggi dan disiplin minum obat setiap hari," katanya.

Dalam label obat juga disebutkan seseorang harus melakukan tes HIV terlebih dahulu untuk memastikan ia belum terinfeksi. Pasien yang sudah terinfeksi HIV bisa membuat virus menjadi lebih kebal pada obat sehingga sulit diobati. Efek samping obat ini yang diketahui adalah gangguan ginjal dan liver.

Gilead Science Inc, yang menciptakan Truvada, sebenarnya telah memasarkan obat ini sejak tahun 2004 sebagai terapi bagi orang yang sudah terinfeksi HIV. Pil ini dikombinaskan dengan dua pil lainnya, yakni Emtriva dan Viread.

Dalam penelitian yang mereka lakukan selama tiga tahun diketahui bahwa konsumsi Truvada setiap hari bisa mengurangi risiko penularan pada pria biseksual atau gay sampai 42 persen, jika dikombinasikan dengan kondom. Tahun lalu, penelitian juga menemukan Truvada mengurangi infeksi HIV sampai 75 persen pada pasangan heteroseksual yang salah satu pasangannya terinfeksi HIV.

Disetujuinya Truvada sebagai bagian dari pencegahan infeksi HIV juga menuai protes dari AIDS Healtchare Foundation. Mereka menilai obat itu bisa memberikan rasa aman palsu dan mengurangi penggunaan kondom yang sudah teruji sebagai pencegah HIV.

Namun para pakar dari FDA mengatakan bahwa dari penelitian tidak terbukti penggunaan Truvada akan meningkatkan perilaku seksual beresiko. "Yang kami temukan adalah penggunaan kondom justru meningkat dan penularan penyakit menular seksual bisa ditekan," kata Dr.Debra Birknkrant, dari FDA.

Truvada sendiri dipasarkan dengan harga cukup mahal, yakni sekitar 14.000 dollar Amerika per tahun atau sekitar Rp 127 juta. Tetapi harga tersebut dianggap masih murah daripada pengobatan HIV seumur hidup. Pengobatan AIDS sendiri menghabiskan biaya sekitar 600.000 dollar Amerika sejak seseorang didiagnosa.

 


IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui