Kamis, 27 November 2014 18:40

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

AIMI: Cuti Melahirkan 3 Bulan Belum Maksimal

Penulis : Bramirus Mikail | Jumat, 3 Agustus 2012 | 09:09 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Multiply
Mia Sutanto, salah seorang pemenang Ashoka Social Entrepreneur 2011 dengan inovasinya Mother-to-Mother Support bagi Keberhasilan Ibu Menyusui
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengaku mendukung sepenuhnya usulan pemberian cuti menyusui selama 6 bulan bagi ibu bekerja. AIMI menganggap, pemberian cuti melahirkan selama 3 bulan belum cukup membantu ibu bekerja dalam memaksimalkan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi.

Hal itu disampaikan Mia Sutanto, Ketua AIMI, saat acara media gathering dengan tema 'Perlindungan Hak Menyusui Bagi Ibu Bekerja, Kamis, (2/8/2012), di Jakarta.

"Ini adalah usulan positif untuk adanya cuti melahirkan selama 6 bulan asalkan cuti melahirkan bisa diterapkan ke semua pekerja wanita baik di sektor formal atau informal," katanya.

Mia mengatakan, pemberian cuti melahirkan selama 6 bulan untuk ibu pekerja bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan ASI eksklusif. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar juga punya peran yang tidak kalah penting.

"Mungkin bagi ibu-ibu bekerja yang mendapat cuti bekerja 3 bulan waktunya terasa kurang. Pemerintah memang sudah seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan cuti melahirkan 6 bulan," katanya.

Mia mengaku sudah pernah mengajukan usulan ini ke DPR (komisi IX). Namun sampai sekarang belum ada tanggapan.

Diakui Mia bahwa memang tidak mudah bagi pemerintah untuk menerapkan kebijakan cuti melahirkan 6 bulan bagi ibu bekerja karena banyak pihak yang nantinya akan ikut terlibat didalamnya jika aturan itu jadi disepakati.

"Ini tidak hanya urusan Kemenkes, tetapi juga terkait dengan Kementerian Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan. Selain itu, ada pihak tertentu yang mungkin beranggapan bahwa menyusui 6 bulan waktunya terlalu lama, sehingga secara negatif memegaruhi kinerja perusahaan," bebernya.

Padahal, kata Mia, dengan membantu keberhasilan ibu menyusui, perusahaan justru akan diuntungkan karena ibu dan bayi menjadi lebih sehat. Menurutnya, perlu ada sosialisasi kepada para pemilik usaha bahwa pemberian cuti melahirkan 6 bulan tidak akan berdampak negatif terhadap produktifitas perusahaan.

"Coba bandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Bangladesh dan vietnam yang sudah menerapkan cuti melahirkan 6 bulan. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak," tutupnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Slamet Riyadi Yuwono menyampaikan, saat ini pemerintah masih berpegang pada ketentuan yang tertera dalam UU Tenaga Kerja Nomor 13 tahun 2003 dengan masa cuti melahirkan selama 3 bulan.

"Kalau dijalankan dengan optimal, tidak usah cuti 6 bulan tetap bisa berjalan baik. Jadi tidak ada alasan lagi, ibu bekerja tetap bisa eksklusif menyusui bayinya," kata Slamet ketika dihubungi Kompas.com.

Slamet mengatakan, adanya desakan agar cuti menyusui menjadi 6 bulan itu baik. Artinya ada kepedulian dari masyarakat akan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Ia mengakui idealnya memang ibu pekerja berhenti bekerja untuk memberi ASI eksklusif kepada buah hatinya. Namun, dalam pelaksanaannya tetap harus realistis.

 







Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui