Minggu, 5 Juli 2015

Health

ASI Saja Tak Cukup untuk Bayi Usia 6 Bulan

Minggu, 5 Agustus 2012 | 12:46 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Menurut panduan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), bayi berusia enam bulan harus diberi makan secara bertahap agar tercukupi kebutuhan gizinya, terutama untuk energi, protein, zat besi dan vitamin A. Oleh karena itu, kegiatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif pada bayi selama enam bulan perlu perhatian lanjutan dengan pemberian makanan pendamping ASI atau MP ASI.

Ahli gizi dari Politeknik Kesehatan Jakarta II Ayu Anggraeni Dyah Purbasari saat ditemui dalam acara seminar MP ASI “Golden Standard for Golden Periode” di Jakarta, Sabtu (4/8/2012), mengatakan sejak tahun 2000 WHO telah mengampanyekan Makanan Pendamping ASI bagi bayi usia enam bulan. Sayangnya, sosialisasi di Indonesia terlambat.

Padahal, masa bayi 0 – 24 bulan ini merupakan masa emas atau golden periode, dimana sel-sel otak tumbuh sangat cepat mencapai lebih dari 80 persen. Apabila kebutuhan gizi pada periode penting ini tidak tercukupi, maka akan berdampak pada perkembangan otak dan kecerdasan anak. Selama masa dua tahun ini pula sifatnya permanen dan tidak dapat diperbaiki.

“ASI eksklusif saja tidak cukup untuk menurunkan gizi buruk di Indonesia. Masalah gizi justru ditentukan selama dua tahun pertama ini,” kata wanita yang akrab dipanggil Anggie ini.

Istilah golden periode ini mengacu pada suatu standar yang meliputi Inisiasi Menyusui Dini (IMD) mulai 1 jam setelah bayi lahir, ASI eksklusif selama 6 bulan sejak lahir, MP ASI mulai usia 6 bulan, dan bayi terus menyusu ASI sampai 24 bulan atau lebih.

Anggie mengatakan, MP ASI menurut WHO mempertimbangkan gizi seimbang, terutama energi, protein, zat besi, dan vitamin A. Sehingga bayi mulai usia 6 bulan sudah harus diberi nasi atau karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, buah dan sayur dengan tekstur lumat sesuai tahapan usia.

Ia menyayangkan pula, di masyarakat berkembang pemberian MP ASI dengan berbagai aliran, misalnya aliran vegetarian, cerealia, buah-buahan atau pemberian MP ASI lewat dari 6 bulan. Padahal, lanjut Anggie, tidak ada satu jenis bahan makanan pun mengandung gizi lengkap.

“Kalau masa dua tahun ini tidak optimal, risikonya anak tidak menerima gizi tepat pada waktunya. Kenaikan berat badannya lambat, tinggi badan juga tidak maksimal. Anak bisa kurang gizi dan menolak makan karena tidak mengenal aneka ragam makanan sedari awal,” ujarnya.

Begitu juga bila MP ASI terlalu dini diberikan kepada bayi sebelum enam bulan akan menimbulkan risiko. Bayi bisa lebih menyenangi makanan pengganti ketimbang ASI, asupan gizinya rendah, meningkatkan resiko penyakit, serta berisiko ibu hamil lagi.

Editor : Asep Candra