Kamis, 31 Juli 2014 00:14
LAKTASI
HOME

Meniti Karier Tak Halangi Pemberian ASI Eksklusif

Natalia Ririh | Lusia Kus Anna | Sabtu, 11 Agustus 2012 | 10:12 WIB
|
Share:

KOMPAS.com — Indonesia masih punya harapan memiliki calon generasi baru yang berkualitas. Harapan baru ini terletak di pundak para ibu yang berkeinginan kuat menyusui eksklusif bayinya selama enam bulan. Para ibu ini yakin air susunya memiliki gizi seimbang, yang membuat bayi lebih sehat, lebih cerdas, tidak mudah sakit, dan tidak mengalami obesitas.

Akan tetapi, memberikan air susu ibu (ASI) tidak sesederhana yang dibayangkan, terutama untuk para ibu yang sebagian besar waktunya habis untuk bekerja. Diperlukan manajemen laktasi yang kuat sehingga pemberian ASI eksklusif bisa berhasil.

Meski kampanye pentingnya ASI gencar dilakukan, nyatanya belum semua perusahaan mendukungnya. Olin (27), seorang karyawan swasta di bilangan Jakarta Selatan, dan suami sejak awal berkomitmen untuk memberikan ASI eksklusif untuk Kinanthi (8 bulan). Tetapi, kantor tempatnya bekarja tidak menyediakan ruang laktasi. Ia pun terpaksa memerah ASI di toilet khusus yang biasa dipakai para atasan.

Olin mengaku terpaksa bersikap cuek pada sikap rekan kerja dan atasannya yang tidak suka karena ia menghabiskan waktu lama di toilet untuk memerah. "Banyak cemoohan yang saya terima karena ternyata kesadaran ASI eksklusif masih rendah. Tapi, saya cuek saja. Daripada itu semua mengganggu kondisi psikis dan mempengaruhi produksi ASI," katanya.

Karena tak mau pengalamannya dialami oleh rekan kerjanya yang lain, Olin mengusulkan lewat bagian HRD agar kantor memiliki ruang laktasi. Ia menyertakan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian ASI Eksklusif yang mensyaratkan setiap tempat kerja atau perusahaan menyediakan fasilitas ruang laktasi untuk karyawatinya. Sayangnya, aksinya ini ditanggapi dingin. Dalam perencanaan kantornya yang baru, ruang laktasi dicoret.

Meski tidak kesulitan mencari waktu untuk memerah ASI, Tyas (28), seorang guru di sekolah swasta di Cikarang, Jawa Barat, mengaku sempat khawatir dengan kualitas ASI yang dibawanya pulang. Akhirnya, ia memilih memompa air susu selama bekerja. Namun, ketika sampai di rumah, ia buru-buru menyusui Kenzie secara langsung. "Kalau ASI sudah tersimpan di lemari es seperti mengalami kontaminasi tempat dan suhu. Jadi, menurut saya nutrisinya tidak sebaik ASI segar," ujarnya.

Beruntungnya, Tyas menjalani profesinya paruh waktu sehingga komitmennya menyusui secara langsung bisa ia jalani maksimal. Dukungan dari suami dan keluarga, kata Tyas, adalah faktor paling penting yang membuatnya nyaman menyusui eksklusif selama 6 bulan dan berencana sampai bayinya 24 bulan.

Suami Tyas ikut berinteraksi dengan bayi mereka kini yang berusia 3 bulan dengan memijat, menggendong, atau bercengkerama. Tak lupa, suami memberikan bisikan positif agar Kenzie mau minum ASI yang banyak. Meski belum memahami layaknya orang dewasa, bayi Kenzie telah diajak berkomunikasi soal pentingnya ASI bagi pertumbuhannya.

Dukungan serupa dialami pula oleh Inggried (29), seorang karyawan swasta di bilangan Jakarta Barat. Pemberian ASI eksklusif bagi buah hatinya Agastya (3 bulan) didukung oleh suami dan keluarga besarnya. Dukungan sang suami sangat menentukan keberhasilan Inggried memberikan ASI untuk Agastya. Sebelumnya, ia dan suaminya telah mengikuti kelas menyusui yang diadakan oleh AIMI. Beberapa kali pula, mereka kompak mengikuti seminar soal ASI eksklusif.

"Paradigma kami selalu sama. Sekarang, kalau saya lagi merasa bad mood, suami cukup tanggap untuk membantu mengembalikan suasana hati supaya tidak berpengaruh ke produksi ASI," ujarnya.

Dot bayi dan Sufor

Selain menyisihkan waktu untuk memompa ASI di sela-sela kesibukan bekerja, pengetahuan akan cara pemberian ASI selama ibu tidak di rumah menjadi hal yang penting. Beberapa bayi mengalami bingung puting alias tidak mau menyusui lagi melalui payudara ibunya setelah terbiasa memakai dot.

Inggried sempat hampir menyerah melirik dot karena bayi laki-lakinya menolak media lain, seperti feeder cup, botol sendok, dan sendok. Untungnya dengan spout, si bayi mau meminum hasil perahan ASI. Inggried pun tenang memasrahkan bayinya kepada pengasuh kala ia tengah bekerja. Tyas memilih menggunakan sendok untuk melatih bayinya minum perahan ASI. Respons Kenzie positif, dokter anak mereka pun mendukung karena minum dari dot bayi dapat mengganggu pertumbuhan rahang atas.

Berbeda dengan Olin, pengalaman uniknya sebelum bekerja justru hadir saat ibunya mendesaknya memberi Kinan susu formula atau akrab disebut sufor. Ibu Olin beralasan, ASI perahannya sedikit, tidak cukup untuk bayi saat nanti ditinggal bekerja.

"Kala itu saya gagal, bayi saya sempat minum sufor. Tapi, sesudahnya bayi saya muntah luar biasa. Akhirnya saya ngotot untuk pilih ASI. Perlahan saya belajar memompa agar hasilnya banyak, ibu pun melunak," ceritanya.

Baik Olin, Tyas, maupun Inggried optimistis, bekerja sekaligus sebagai ibu menyusui dapat berjalan seimbang. Rasa lelah, kesal, atau kendala lainnya tidak terasa bila dibandingkan melihat buah hati tumbuh lebih sehat, lebih pintar, dan tidak gampang sakit. ASI tetaplah makanan terbaik untuk bayi, suatu investasi gratis untuk seumur hidup.


IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui