Jumat, 31 Oktober 2014 20:28
Caring by Sharing | Kompas.com

BLOG EXPERTS KOMPASIANA / ARTIKEL

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT *


Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Sleep Disorder Clinic - RS. Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine

Tips Keselamatan Mudik

Penulis : Dr. Andreas Prasadja, RPSGT * | Kamis, 16 Agustus 2012 | 09:12 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/MUKHAMAD KURNIAWAN
Pemudik sepeda motor melintas di jalur utama pantai utara di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Minggu (12/8/2012). Sejumlah pemudik mengaku memilih sepeda motor untuk perjalanan mudik karena murah dan praktis.

KOMPAS.com-  Sudah menjadi tradisi untuk pulang ke kampung halaman menjelang Hati Raya Idul Fitri. Berbagai cara di tempuh dan moda kendaraan digunakan. Mulai dari pesawat terbang hingga sepeda motor. Menyoroti keselamatan berkendara, ada satu persiapan yang masih diabaikan: kesehatan tidur. Padahal 55% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kantuk. Coba kita tengok juga data kecelakaan lalu lintas pada masa mudik tahun lalu. Kepolisian RI mencatat pada Operasi Ketupat 2011, penyebab kecelakaan yang disebabkan oleh kendaraan tak layak adalah 449 kejadian, serta 387 kejadian yang disebabkan oleh kendaraan tak layak. Sementara yang disebabkan oleh kantuk adalah 1018 kecelakaan.

Bayangkan angka tersebut. Amat disayangkan, karena kantuk sebenarnya merupakan penyebab kecelakaan yang bisa dikendalikan, bisa dicegah! National Sleep Foundation, AS, menyatakan bahwa mengendara dalam kondisi terjaga selama 18 jam sama bahayanya dengan mengendara dengan kadar alkohol 0,08% dalam darah. Padahal di beberapa negara, batas legal kadar alkohol adalah 0,08%.

Pahami juga bahwa kondisi mengantuk yang dimaksud berbahaya bukanlah sampai tertidur di belakang kemudi. Terus menguap dan mata mulai berair juga sudah termasuk mengantuk. Dan dalam kondisi mengantuk, kemampuan mengendara sudah menurun drastis! Kemampuan mengendara yang dimaksud adalah kemampuan konsentrasi, kewaspadaan, kecepatan respons dan stabilitas emosi. Keterjagaan saja, ternyata tak cukup.

Kemampuan-kemampuan mental ini cuma bisa dibangun pada saat tidur. Sementara stimulan seperti kafein, nikotin dan berbagai suplemen atau minuman penambah energi hanyalah menunda kantuk. Kita tetap membutuhkan suplementasi tersebut tetapi ada cara konsumsinya. Jika tak bijak mengonsumsi, kita hanya mendapat efek terjaga tanpa perbaikan kemampuan mengendara, dan ini penting untuk keselamatan. Sering kali, kantuk malah lebih berbahaya dari mabuk. Karena kita tak mengenali tanda-tanda kantuk dan masih merasa cukup bugar untuk berkendara.

Sebuah penelitian sederhana dilakukan pada sekelompok orang muda. Mereka diminta untuk menekan tombol setiap kali diberi sinyal lampu. Hasilnya pada orang-orang yang kurang tidur, mereka mengaku tak pernah sekalipun melewatkan sinyal. Padahal dari pengamatan, mereka banyak sekali melakukan kesalahan. Perhatikan juga kemungkinan adanya kantuk berlebihan. Yaitu masih mengantuk dan mudah lelah walau tidur sudah cukup. Gejala gangguan tidur ini biasanya disebabkan oleh mendengkur. Mendengkur dan kantuk berlebih merupakan gejala dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur.

Di Eropa, pendengkur dengan dugaan sleep apnea diharuskan melapor ke dinas lalu lintas untuk selanjutnya ditahan sementara Surat Ijin Mengemudinya hingga dinyatakan sehat oleh dokter. Jadi perhatikan kesehatan tidur. Kenali tanda-tanda kantuk, dan bijaklah dalam konsumsi stimulan. Karena: Tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur!

Tanda-tanda kantuk mulai membahayakan:
- Kehilangan konsentrasi, sering mengerjapkan mata atau mata terasa berat.
- Pikiran menerawang.
- Sulit mengingat apa-apa yang telah dilewati; atau melewatkan beberapa rambu atau lampu merah.
- Berulang kali menguap dan mengusap-usap mata.
- Sulit menjaga kepala dalam posisi tegak.
- Melenceng dari jalur, dan melanggar marka-marka jalan.
- Merasa lelah dan mudah terpancing emosi.

Apakah Anda beresiko? Sebelum berkendara, periksa apakah Anda :

-  Kurang tidur atau lelah (tidur kurang dari 6 jam akan meningkatkan resiko hingga tiga kali lipat.)
-  Menderita insomnia, kualitas tidur yang buruk (OSA), atau menanggung banyak hutang tidur.
-  Mengendara jarak jauh tanpa jeda istirahat yang cukup.
-  Mengendara pada jam-jam biasanya tidur.
-  Mengonsumsi obat-obatan yang membuat kantuk (antihistamin, antidepresan atau obat flu.)
- Bekerja lebih dari 60 jam seminggu (meningkatkan resiko hingga 40%.)
-  Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus dan pekerjaan utamanya adalah pekerjaan dengan shift malam.
-  Minum minuman beralkohol (walaupun hanya sedikit.)
-  Mengendara sendirian atau melewati jalan yang panjang, sepi dan membosankan.

Sebelum mengendara seorang pengemudi sebaiknya :

- Tidur yang cukup. Pada orang dewasa 7,5-8,5 jam, sedangkan pada remaja atau dewasa muda 8,5-9,25 jam.
- Untuk perjalanan jauh, usahakan jangan berkendara sendirian. Teman seperjalanan dapat membantu melihat tanda-tanda kantuk dan dapat menggantikan untuk sementara waktu. Penumpang juga sebaiknya tidak tidur dan terus mengobrol dengan pengendara.
- Ketika merasa lelah sebaiknya hentikan kendaraan, minum kafein, lalu beristirahatlah sejenak. Setelah tidur 20-30 menit kita bangun segar, dan kafein juga persis mulai bekerja, hingga kemampuan mengendara kembali efektif.
- Hindari alkohol dan obat-obatan yang menyebabkan kantuk.
- Berkonsultasilah pada dokter atau klinik gangguan tidur jika mengalami kantuk berkepanjangan, sulit tidur di malam hari dan/atau tidur mendengkur.


Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui