Kamis, 28 Mei 2015

Health

Waspada, Banyak Jamu Dicampur Bahan Kimia Obat!

Kamis, 6 September 2012 | 14:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai salah satu sediaan obat tradisional, jamu memiliki kandungan bahan alami yang berkhasiat. Namun, sayangnya citra jamu yang tengah naik daun ini dirusak oknum-oknum yang memasukan bahan kimia obat (BKO) di dalamnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Bahdar Johan  mengingatkan masyarakat untuk waspada saat mengonsumsi jamu. Pasalnya, bahan kimia obat yang dicampurkan pada jamu memiliki dosis tidak terukur. Pencampuran BKO yang tidak homogen menyebabkan dosis di kemasan berbeda-beda.

Hal ini bisa menyebabkan konsumen justru mengonsumsi BKO secara berlebihan. "BKO yang dicampur jamu biasanya obat untuk alergi, obat antiinflamasi, obat demam, obat untuk sakit rematik. Obat-obat ini ada dalam kemasan jamu yang ilegal. Kemasan ini biasanya tanpa nomor registrasi dari BPOM atau nomor registrasinya fiktif," ujar Bahdar dalam talkshow bertajuk 'Konsumsi Jamu Benar, Tubuh Bugar' di Jakarta, Kamis (9/6/2012).

Apabila terlanjur mengonsumsi jamu dengan BKO, dapat menimbulkan efek samping tidak terkontrol. Bahkan, efek serius seperti kegagalan fungsi organ bisa terjadi. Bahdar mengatakan, produk jamu ilegal ini memang tidak banyak di pasaran. Namun, karena ada permintaan maka para produsen gelap tetap memproduksinya.

Untuk mewaspadai beredarnya jamu ilegal, ia merekomendasikan kepada masyarakat sebagai konsumen untuk mengetahui dan memahami informasi mengenai jamu yang akan digunakan. Informasi tersebut dapat diperoleh dari penandaan pada etiket, bungkus luar produk atau brosur yang menyertai produk tersebut.

"Sebagai konsumen juga harus cerdas. Perhatikanlah masa kedaluwarsa produk yang biasanya tertulis pada kemasan. Bila ada produk mengalami perubahan rasa, warna dan bau meskipun belum kedaluwarsa sebaiknya dihentikan," ujarnya.

Selain itu, Bahdar menyarankan agar konsumen tidak membeli jamu bila kemasannya sudah rusak serta tidak mudah terpengaruh minum jamu dari bungkus atau labelnya yang menarik. Konsumen diminta pula untuk tidak termakan promosi atau iklan yang menyatakan khasiat jamu menyembuhkan berbagai penyakit. Juga pemilihan jamu untuk anak-anak wajib memilih yang memang diformulasikan secara khusus.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Asep Candra