Kamis, 27 November 2014 15:08

Waspada, Banyak Jamu Dicampur Bahan Kimia Obat!

Penulis : Natalia Ririh | Kamis, 6 September 2012 | 14:11 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Hidayatul Fajri
Jamu dan obat berbahaya yang digerebek polisi di sebuah rumah di Jalan Sukarela No. 47 Rt. 02/10 Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (21/5/2012) pukul 15.30 WIB. Polisi berhasil mengamankan ratusan karung dan puluhan karton barang jadi jamu dan obat berbahaya. Selain itu, polisi juga menyita belasan unit mesin pembuat jamu tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai salah satu sediaan obat tradisional, jamu memiliki kandungan bahan alami yang berkhasiat. Namun, sayangnya citra jamu yang tengah naik daun ini dirusak oknum-oknum yang memasukan bahan kimia obat (BKO) di dalamnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen, Bahdar Johan  mengingatkan masyarakat untuk waspada saat mengonsumsi jamu. Pasalnya, bahan kimia obat yang dicampurkan pada jamu memiliki dosis tidak terukur. Pencampuran BKO yang tidak homogen menyebabkan dosis di kemasan berbeda-beda.

Hal ini bisa menyebabkan konsumen justru mengonsumsi BKO secara berlebihan. "BKO yang dicampur jamu biasanya obat untuk alergi, obat antiinflamasi, obat demam, obat untuk sakit rematik. Obat-obat ini ada dalam kemasan jamu yang ilegal. Kemasan ini biasanya tanpa nomor registrasi dari BPOM atau nomor registrasinya fiktif," ujar Bahdar dalam talkshow bertajuk 'Konsumsi Jamu Benar, Tubuh Bugar' di Jakarta, Kamis (9/6/2012).

Apabila terlanjur mengonsumsi jamu dengan BKO, dapat menimbulkan efek samping tidak terkontrol. Bahkan, efek serius seperti kegagalan fungsi organ bisa terjadi. Bahdar mengatakan, produk jamu ilegal ini memang tidak banyak di pasaran. Namun, karena ada permintaan maka para produsen gelap tetap memproduksinya.

Untuk mewaspadai beredarnya jamu ilegal, ia merekomendasikan kepada masyarakat sebagai konsumen untuk mengetahui dan memahami informasi mengenai jamu yang akan digunakan. Informasi tersebut dapat diperoleh dari penandaan pada etiket, bungkus luar produk atau brosur yang menyertai produk tersebut.

"Sebagai konsumen juga harus cerdas. Perhatikanlah masa kedaluwarsa produk yang biasanya tertulis pada kemasan. Bila ada produk mengalami perubahan rasa, warna dan bau meskipun belum kedaluwarsa sebaiknya dihentikan," ujarnya.

Selain itu, Bahdar menyarankan agar konsumen tidak membeli jamu bila kemasannya sudah rusak serta tidak mudah terpengaruh minum jamu dari bungkus atau labelnya yang menarik. Konsumen diminta pula untuk tidak termakan promosi atau iklan yang menyatakan khasiat jamu menyembuhkan berbagai penyakit. Juga pemilihan jamu untuk anak-anak wajib memilih yang memang diformulasikan secara khusus.



Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui